MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Kamis (03/06/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Beras Melimpah Harga Naik : Ada Apa Gerangan?” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Melejitnya harga beras di Indonesia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, meskipun produksi beras melimpah. Berikut beberapa kemungkinan penyebabnya. Pertama, peristiwa El Nino pada tahun 2023 menyebabkan musim tanam menjadi terlambat, sehingga mempengaruhi ketersediaan beras di pasaran dan mendorong harga naik.

Kedua, adanya bantuan sosial kepada lebih dari 10 juta rumah tangga juga mempengaruhi ketersediaan beras di pasaran, sehingga harga naik karena permintaan meningkat. Ketiga, kurangnya integrasi data pangan dari tingkat pusat hingga desa menyebabkan kesulitan dalam memprediksi ketersediaan pangan, sehingga proses distribusi dan penyediaan terganggu.
Keempat, impor beras yang dilakukan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pasar dapat meningkatkan ketersediaan beras, tetapi juga berisiko menurunkan harga jual petani lokal. Kelima, distribusi tidak merata. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan desa diperlukan untuk mengintegrasikan ketersediaan pangan dan mengidentifikasi daerah-daerah yang mengalami kekurangan atau surplus.
Kenaikan harga beras di sejumlah wilayah menjadi perhatian. Sebab, kenaikan harga beras ini terjadi di tengah stok beras melimpah. Anggota Komisi IV DPR RI Robert J Kardinal meminta pemerintah melalui Kementerian Pertanian segera mengambil langkah cepat untuk menstabilkan kembali harga beras yang mengalami kenaikan di sejumlah wilayah.
Berdasarkan Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Minggu (29/6/2025), rata-rata nasional harga beras medium mencapai Rp 14.073 per kg. Padahal Harga Eceran Tertinggi (HET) beras medium sebesar Rp 12.500 per kg. Serupa, rata-rata nasional harga beras premium juga di atas HET, yakni mencapai Rp 15.847 per kg.
Padahal HET yang ditetapkan sebesar Rp 14.900 per kg. Terpantau, harga beras di sejumlah daerah mendapatkan status waspada, seperti Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, NTB, Gorontalo, hingga Papua Barat. Kenaikan harga beras di sejumlah daerah ini tidak seharusnya terjadi. Sebab, produksi beras nasional meningkat dan stok beras di Perum Bulog mencapai angka lebih 3 juta ton.
Menurut anggota Komisi IV DPR RI, Robert rasanya aneh dengan fenomena kenaikan harga beras di sejumlah wilayah, sementara pasokan stok beras di gudang Perum Bulog melimpah. Logikanya, dengan produksi beras meningkat seperti ini harga eceran harus stabil setara dengan HET ataupun di bawah HET karena penawarannya melampaui kebutuhan, logika hukum ekonomi sperti itu.
Selain itu, banyak pihak meminta kepada pemerintah melalui Menteri Pertanian, dan institusi terkait seperti Perum Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk segera mengambil langkah menstabilkan kembali harga beras yang mengalami inflasi di sejumlah wilayah dengan melakukan distribusi beras untuk Stabilitas Pasokan Harga Pangan (SPHP) sehingga dapat menekan lonjakan harga beras.
Berdasarkan data BPS, produksi beras Januari-Juni 2025 diperkirakan mencapai 18,76 juta ton. Apabila dikurangi konsumsi selama 6 bulan, sebetulnya masih ada potensi surplus sekitar 3,2 juta ton. Pertanyaan mendadarnya adalah surplus ini ada di mana dan ke mana ? Jawaban inilah yang sangat kita butuhkan, agar diperoleh gambaran yang seragam.
Di sisi lain, penyerapan beras Bulog dari produksi domestik hingga akhir Juni 2025, mencapai 2,63 juta ton. Artinya, surplus 3,2 juta ton itu sebagian besar diserap Bulog. Sisanya, 0,63 juta ton diserap pelaku usaha lain seperti penggilingan, pedagang dan lain-lain. Jumlah ini kecil. Karena jumlahnya kecil, penyaluran beras ke pasar oleh pelaku usaha diluar Bulog juga kecil. Sialnya, beras yang mayoritas diserap Bulog itu hanya ditumpuk di gudang.
Berdasarkan informasi terbaru, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum BULOG telah mencapai 3,7 juta ton per Mei 2025 dan diperkirakan akan menembus 4 juta ton dalam beberapa waktu ke depan. Stok ini merupakan hasil penyerapan gabah dan beras selama panen raya, yang menunjukkan bahwa Perum Bulog berhasil menyerap lebih dari 2 juta ton dalam waktu singkat.
Sayangnya, tidak ada informasi spesifik tentang beras hasil penyerapan panen kemarin masih ditumpuk di gudang BULOG. Yang pasti, pemerintah telah menyiapkan gudang darurat dan menambah gudang prioritas sebanyak 25.000 unit di seluruh Indonesia untuk memastikan seluruh hasil panen terserap dan tersimpan dengan aman.
Beberapa kemungkinan yang dapat dijadikan penelaahan selanjutnya adalah pertama, Perum Bulog terus mengoptimalkan penyerapan gabah dan beras. Artinya, Perum BULOG masih terus melakukan penyerapan gabah dan beras selama momentum panen raya. Kedua, stok beras yang besar.
Dengan stok yang mencapai 4 juta ton, Perum Bulog memiliki cadangan beras yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ketiga, pengawasan dan pengelolaan stok. Pemerintah dan BULOG terus melakukan pengawasan dan pengelolaan stok untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan beras di pasar.
Akhirnya penting disampaikan, jika tata kelola perberasan nasional dapat digarap dengan baik, tidak seharusnya harga beras di pasar melesat cukup signifikan, padahal produksi beras cukup berlimpah. Persoalannya adalah apakah fenomena yang demikian, menunjukkan tata kelola perberasan nasional masih belum seperti yang diinginkan ?
Semoga akan ada jawaban cerdas untuk dijadikan jalan keluar terbaiknya.
***
Judul: Beras Melimpah Harga Naik : Ada Apa Gerangan?
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi










