Keren, Produksi Beras Juli 2025 Meningkat 14%

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Kamis (07/08/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Keren, Produksi Beras Juli 2025 Meningkat 14%” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

CNN Indonesia merilis, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melaporkan perkembangan stok dan produksi beras terkini kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Mentan Amran berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut produksi beras bulan Juli 2025 meningkat sekitar 14 persen, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan kabar ini usai menghadiri Rapat Terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto.

Peningkatan produksi beras ini membuat stok beras domestik mencapai 4,2 juta ton, yang merupakan posisi stok tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Seiring dengan itu, Pemerintah juga melakukan beberapa langkah untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan pangan di masyarakat, seperti :

Pertama, operasi pasar. Pemerintah akan melakukan operasi pasar secara besar-besaran dengan menyiapkan 1,3 juta ton beras dalam skema Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan 365.000 ton untuk bantuan sosial (bansos). Kedua, pengawasan kualitas beras. Pemerintah juga menemukan 212 merek beras yang tidak sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan, dan langkah hukum akan diambil untuk menindak para pelaku yang melanggar regulasi mutu beras.

Di sisi lain, penyebab utama kenaikan produksi beras di Indonesia adalah peningkatan teknologi pertanian. Penggunaan teknologi modern dalam pertanian dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi panen. Selanjutnya, perbaikan sistem irigasi. Pemerintah telah menyiapkan anggaran hampir Rp 13 triliun untuk perbaikan irigasi pertanian tahun 2025, yang dapat membantu meningkatkan produksi beras.

Kemudian dukungan pemerintah. Dalam hal ini, Pemerintah memiliki komitmen untuk mewujudkan swasembada pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani melalui berbagai program, seperti subsidi pupuk dan pelatihan pertanian. Bisa juga dengan optimasi lahan. Pemerintah juga berupaya mengoptimalkan lahan pertanian yang ada untuk meningkatkan produksi beras.

Atau membangun kerja sama dengan pihak lain. Pemerintah telah melakukan kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk universitas dan perusahaan swasta, untuk meningkatkan produksi beras dan meningkatkan kesejahteraan petani. Namun, perlu diingat bahwa kenaikan produksi beras juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti cuaca, harga pupuk, dan kebijakan pemerintah. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengalami perubahan iklim yang ekstrem, yang dapat mempengaruhi produksi beras.

Menariknya, berdasarkan data dan informasi yang ada, produksi beras di Indonesia diprediksi akan terus meningkat pada bulan Agustus dan September 2025. Berikut beberapa poin penting yang mendukung prediksi ini :
– Panen pada Agustus 2025, diperkirakan akan terjadi panen raya yang dapat menambah stok nasional hingga 1 juta ton, seperti yang disampaikan oleh Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani.

– Investasi Pemerintah. Dalam kaitan ini, Pemerintah telah memberikan investasi non-permanen sebesar Rp16,6 triliun pada semester I/2025, yang berhasil meningkatkan produksi beras dan cadangan beras Perum Bulog ke tingkat tertinggi.
– Prediksi Iklim. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa musim kemarau 2025 akan normal tanpa gangguan iklim besar seperti El Nino atau La Nina, sehingga produksi padi diharapkan tetap optimal.

– Peningkatan Luas Tanam. Kementerian Pertanian telah menetapkan target luas tanam minimal 1,6 juta hektare, dengan evaluasi rutin untuk mencapai target swasembada pangan. Dengan demikian, produksi beras pada bulan Agustus dan September 2025 diprediksi akan meningkat dan mendukung ketersediaan pangan nasional.

Lalu, apa yang menjadi tantangan untuk mewujudkan harapan diatas ? Tantangan dan rintangan dalam meningkatkan produksi beras di Indonesia meliputi degradasi kualitas lahan. Penurunan kualitas lahan akibat penggunaan yang tidak tepat dan kurangnya perawatan, sehingga mengurangi produktivitas.

Selanjutnya, serangan hama dan penyakit. Hama dan penyakit tanaman yang dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi dan mengurangi hasil panen. Kemudian, infrastruktur pertanian yang tidak memadai. Kurangnya infrastruktur pertanian seperti irigasi, jalan, dan gudang yang memadai dapat menghambat produksi dan distribusi beras.

Lantas adanya perubahan iklim. Perubahan iklim dapat menyebabkan cuaca yang tidak menentu, seperti kekeringan atau banjir, yang dapat merusak tanaman padi. Bisa juga soal alih fungsi lahan pertanian. Perubahan lahan pertanian menjadi non-pertanian dapat mengurangi luas lahan yang tersedia untuk produksi padi.

Bisa juga kurangnya adopsi teknologi pertanian modern*: Kurangnya penggunaan teknologi pertanian modern dapat mengurangi efisiensi dan produktivitas produksi beras. Atau keterbatasan anggaran untuk pembangunan infrastruktur pertanian dan pengembangan teknologi pertanian. Adanya pertumbuhan populasi yang cepat dapat meningkatkan kebutuhan akan beras, namun tidak diimbangi dengan peningkatan produksi.

Bahkan ketergantungan pada impor beras pun dapat membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga dan ketersediaan beras global. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan upaya komprehensif dan berkelanjutan dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk meningkatkan produksi beras dan memastikan ketahanan pangan nasional.

Akhirnya penting disampaikan, untuk melestarikan produksi beras agar tetap tinggi, beberapa strategi dapat dilakukan pertama, penggunaan teknologi pertanian modern. Menerapkan teknologi pertanian modern seperti irigasi presisi, penggunaan benih unggul, dan pengelolaan hama terpadu dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi panen.

Kedua, pengelolaan lahan yang baik. Mengelola lahan pertanian dengan baik, termasuk penggunaan pupuk yang tepat, rotasi tanaman, dan konservasi tanah, dapat meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas. Ketiga, pengembangan infrastruktur. Membangun dan memelihara infrastruktur pertanian seperti irigasi, jalan, dan gudang dapat meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi produksi.

Keempat, pendidikan dan pelatihan petani. Memberikan pendidikan dan pelatihan kepada petani tentang teknologi pertanian modern, pengelolaan lahan, dan manajemen risiko dapat meningkatkan kemampuan dan pengetahuan petani. Kelima, kebijakan pemerintah yang mendukung. Pemerintah dapat membuat kebijakan yang mendukung produksi beras, seperti subsidi pupuk, kredit usaha tani, dan asuransi pertanian, untuk meningkatkan motivasi dan kemampuan petani.

Keenam, pengembangan varietas padi unggul. Mengembangkan varietas padi unggul yang tahan terhadap hama dan penyakit, serta memiliki produktivitas tinggi, dapat meningkatkan produksi beras. Ketujuh, pengelolaan risiko. Mengelola risiko produksi beras, seperti risiko cuaca, hama, dan penyakit, dapat membantu meningkatkan stabilitas produksi.

Dengan demikian, produksi beras dapat tetap tinggi dan berkelanjutan, serta dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional.

***

Judul: Bahayanya Swasembada Pangan “On Trend”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *