Mendidik Daya Muda

Oleh: Yudi Latif, Ph.D

MajmusSunda News, Kamis (29/10/2026) – Artikel berjudul “Mendidik Daya Muda” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Ada ironi dalam kehidupan bangsa: kita sibuk mencari pemimpin, tetapi lupa mendidik manusia yang layak memimpin. Popularitas dan kemenangan dirayakan, sementara pembentukan watak, pengetahuan, dan tanggung jawab terabaikan. Seolah-olah kepemimpinan cukup ditentukan oleh keberhasilan meraih kekuasaan, bukan kesiapan memikul amanah.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Pada 1931, Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir mengembangkan Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) dengan keyakinan bahwa kemerdekaan bukan semata-mata perkara merebut kekuasaan, melainkan mendidik manusia agar mampu berpikir mandiri, memahami persoalan bangsa, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Kemerdekaan politik harus disertai kemerdekaan berpikir dan kedewasaan bertindak.

Relevansinya hari ini terletak pada kaderisasi yang mengubah potensi menjadi kapasitas, ambisi menjadi pengabdian, dan kekuasaan menjadi tanggung jawab. Kepemimpinan tidak cukup ditopang popularitas dan ketebalan logistik, tetapi harus ditempa melalui pendidikan, pengalaman, perjumpaan dengan kenyataan rakyat, serta pergumulan dengan sejarah dan visi perjuangan kebangsaan.

Kaderisasi bukan seremoni atau proyek sporadik, melainkan proses membentuk manusia merdeka yang tidak menukar integritas dengan kedudukan atau menjadikan rakyat tangga menuju ambisi pribadi.

Pendidikan kebangsaan harus mendidik daya muda memahami hakikat Keindonesiaan secara holistik serta membekalinya dengan kemampuan membangun dan memimpin Indonesia melalui cara berpikir, bersikap, dan bertindak merdeka, taat asas pada tuntunan nilai Pancasila.

Atas semangat itulah Yayasan Dana Darma Pancasila menyelenggarakan Sekolah Kebangsaan, Belajar Indonesia Merdeka (BINEKA), yang diluncurkan bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober kemarin.

BINEKA adalah sekolah kader yang mempertemukan tunas-tunas pemimpin dari seluruh penjuru tanah air untuk belajar, bertukar pikiran, dan berjuang bersama menjadi Indonesia yang berjiwa merdeka.

Dengan menghidupkan api Sumpah Pemuda, sekolah ini diharapkan menjadi ruang persemaian tekad kolektif generasi muda lintas identitas, berjiwa merdeka, teguh dalam prinsip, dan tulus berbakti sebagai pandu Republik.

***

Judul: Mendidik Daya Muda
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *