Akibat Kabut Asap Karhutla di Makassar, Dikeluhkan Mahasiswa Unhas, MataTerasa Perih dan Sesak Napas

Kota Makassar salah satunya yang tercatat masuk kategori tidak sehat dalam beberapa hari pada sepekan terakhir. Konsentrasi partikulat PM 2.5 sempat mencapai 155,5 mikrogram per meter kubik pada Rabu (14/10/2026)

Penampakan kabut asap di Makassar, Rabu (14/10/2026). (Tangkapan layar)

MajmusSunda News, Makassar, Selasa, (20/2026)-Imbas atmosfer yang masih dipengaruhi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah pulau Indonesia (Kalimantan dan Sulawesi Selatan), mayoritas daerah masih berkategori kualitas udara sedang, sementara sejumlah daerah masuk kategori tidak sehat per Senin (20/10/2026).

 

Kota Makassar salah satunya yang tercatat masuk kategori tidak sehat dalam beberapa hari pada sepekan terakhir. Konsentrasi partikulat PM 2.5 sempat mencapai 155,5 mikrogram per meter kubik pada Rabu (14/10/2026), menurun pada waktu tertentu dan memburuk sekitar pagi-malam hari.

 

Kualitas udara Makassar dan kabupaten/kota sekitar tidak hanya terkontaminasi asap karhutla di daerah Sulawesi Selatan, seperti karhutla Luwu Utara, Enrekang, Toraja Utara, Karst Pangkep, dan Bantaeng. 

 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kualitas udara di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan (Makassar)  yang belum stabil sepekan terakhir.

 

Dikutip Kantor Berita Antara, asap yang terbawa angin melintasi laut juga berasal dari karhutla Kalimantan, Maluku, dan Papua.

 

Jadi Kendala Saat Kuliah

 

Mahasiswa  Universitas Hasanudin (Unhas) Fitriyah juga menuturkan gangguan dampak asap  karhutla terutama saat bepergian ke kampus pada Selasa dan Rabu, (13-14/10) lalu. Ia mengungkapkan, suasana pukul 12.00 Wita gelap seperti hendak hujan sehingga harus memakai masker dan kacamata untuk mengurangi paparan.

 

Ardelia juga mengeluhkan, akibat terpapar asap karhutla, ia sulit berkonsentrasi selama kuliah sampai sore hari.

 

“Sejujurnya sempat mengganggu, mata perih waktu itu. Pas siang sampai sore hari waktu kelas, sempat agak mengganggu. Tapi lama-lama hilang sendiri,” tuturnya. Kendati mereda, ia menyatakan akan mengurangi kegiatan di luar rumah terutama jika kualitas udara memburuk dan memeriksakan diri jika dampaknya memburuk.

 

“Lebih baik kita mencegah,” katanya.

 

Mahasiswa Unhas masih menjalani perkuliahan di tengah dampak karhutla di kotanya, salah satunya Fathona Aqilla. Ia menuturkan, asap karhutla tidak hanya membuat langit cerah jadi putih berkabut, tetapi juga membuat jarak pandangnya saat ke kampus terganggu.

 

“Jarak pandang saya terhadap jalan itu sangat berkurang,” katanya.

 

Daerah Berisiko Karhutla Sulsel-Papua Selatan

 

Kondisi kualitas udara Makassar diperkirakan masih akan berfluktuasi selama titik api (hotspot) Sulsel hingga Papua belum benar-benar padam.

 

Berdasarkan data BMKG per 19 Oktober 2026, hotspot Sulsel dengan kepercayaan tinggi mencapai 36 titik. Daerah risiko tinggi per November 2026 yakni di Bone, dan daerah risiko sedang di Luwu dan Toraja Utara.

 

Di Maluku dengan 30 hotspot per 19 Oktober, daerah risiko tinggi November 2026 yakni di Buru. Sedangkan Papua Selatan dengan 31 titik panas per 19 Oktober 2026, daerah berisiko tinggi pada November 2026 di Merauke dan risiko sedang di Mappi.

 

Sesak Napas

 

Para mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) salah satu kelompok yang terdampak asap karhutla. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unhas, Farel Dy Stankovic, mengeluhkan dampak asap hingga ia mengalami iritasi mata, radang tenggorokan, dan sesak napas.

 

Ia menuturkan, dampak tersebut terutama terasa saat berkendara dengan sepeda motor pada pertengahan Oktober tiga hari terakhir di Makassar yang mengalami penebalan asap.

 

Akibat dampak asap karhutla pada mata dan pernapasan, Farel mengaku kesulitan untuk leluasa bepergian dan beraktivitas di luar ruangan.

 

“Yang paling sering itu karena tiga hari terakhir asapnya makin menebal, mata saya jadi teriritasi dan merah. Saat bawa motor, mata jadi makin perih,” kata Farel dalam Unhas TV, Senin (19/10).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *