MajmusSunda News – Bandung, Jumat (02/10/2026) – SINOPSIS: Esai ini membedah transformasi siklis Cekungan Bandung dari rahim Danau Bandung Purba hingga kemunculan megaproyek energi modern Waduk Saguling. Melalui pembacaan alegoris terhadap “rambut” sebagai simbol bentangan kabel transmisi listrik tegangan tinggi, penulis menyoroti bagaimana takdir hidrologis Sungai Citarum dimanfaatkan demi memberi pasokan daya interkoneksi Jawa-Bali, sekaligus menegaskan pentingnya kedaulatan tata ruang lingkungan hulu Tatar Priangan Tengah dalam bingkai NKRI.
1. Wadah Cekungan Magmatik: Runtuhnya Gunung Sunda dan Lahirnya Danau Purba
Membangun narasi geowisata kebumian yang kokoh menuntut ketajaman analisis untuk membaca bagaimana amukan abiotik masa lalu memahat sasis ruang hidup peradaban modern. Di jantung Jawa Barat, dataran tinggi Bandung terbentuk melalui rangkaian katastrofe geologi yang secara geologi masih berumur muda dan luar biasa dramatis. Letusan mahadahsyat Gunung Sunda purba sekitar seratus lima ribu tahun yang lalu menginjeksikan miliaran ton material piroklastik yang menyumbat aliran air Sungai Citarum kuno di celah curam perbukitan antara Padalarang-Rajamandala, meretas lahirnya Danau Bandung Purba. Cekungan kolosal yang terisi air raksasa ini mengunci material sedimen lakustrin subur selama puluhan ribu tahun sebelum akhirnya bobol secara alami di Sanghyang Tikoro, yang kemudian dikoreksi oleh T. Bachtiar berada di sekitar Cirahong, ke arah hulu dari Sanghiyang Heuleut, untuk Danau Bandung sebelah barat, dan di sekitar Curug Jompong untuk Danau Bandung sebelah timur, menyisakan hamparan fondasi aluvial landai berbentuk mangkuk raksasa setinggi 700 meter di atas permukaan laut yang kini menjadi fondasi fisik sirkular bagi berdirinya kawasan metropolitan Bandung Raya.
2. Biodiversitas Pegunungan: Kantong Lindung dan Satwa Endemik yang Tersisa
Di lapangan, komponen hayati di sekeliling dinding Cekungan Bandung Raya menyimpan sisa-sisa kejayaan megabiodiversitas hutan hujan tropis pegunungan yang sangat krusial bagi kehidupan hulu. Lereng-lereng curam batuan vulkanik penyangga cekungan, mulai dari Kompleks Gunung Burangrang, Tangkubanparahu, hingga pegunungan Karst Rajamandala, bertindak sebagai benteng hijau perlindungan terakhir bagi fauna endemik Tatar Sunda. Floranya dapat dilihat dari ikon flora daerah di cekungan raya ini, di mana pada area pegunungan masih dijumpai secara dominan pohon Puspa, Saninten, dan Rasamala, juga vegetasi Cantigi di area kawah aktif. Di pedataran, ada tanaman Patrakomala dan Reundeu, serta Anggrek Bulan, sedangkan beberapa flora khas termasuk tanaman luar negeri dapat dilihat di Taman Hutan Raya Djuanda di Bandung Utara. Hutan sekunder yang berfungsi sebagai menara air alami menaungi suaka hidup aman bagi kera Owa Jawa, Surili, serta Macan Tutul Jawa yang kian terdesak ke puncak tertinggi. Sirkulasi nutrien vegetasi penangkap kabut di pegunungan lingkar Bandung ini menjadi bioindikator ekologis yang valid, membuktikan bahwa kelestarian hidrologi daratan aluvial di bawahnya sangat bersandar pada proteksi vegetasi hulu dari ancaman alih fungsi lahan komersial secara ugal-ugalan.
3. Kosmologi Budaya Sunda: Tafsir Mitologi Geologi Sangkuriang dan Kearifan Lokal
Pada panggung sosiokultural, respons peradaban manusia lokal menyublimasikan sejarah fisik bumi ke dalam untaian mitologi puitis luhur yang selaras dengan fakta empiris kebumian. Dongeng rakyat legendaris mengenai Sangkuriang yang membendung Sungai Citarum dalam semalam menggunakan perahu kayu raksasa sejatinya merupakan manifestasi “pendekatan geologi” dalam mitos, yakni cerita rakyat yang memiliki banyak kesamaan dari segi tata waktu, tempat, dan sebagainya dengan penemuan sains geologi (geomythology). Ini dapat dikatakan sebagai karya budaya leluhur untuk merekam peristiwa nyata pembentukan Danau Bandung Purba melalui bahasa tradisi. Struktur toponimi lokal seperti nama-nama berawalan “Ranca” yang berarti rawa dan “Situ” yang berarti danau yang bertebaran di seluruh peta administrasi kota dan kabupaten di cekungan raya ini membuktikan bagaimana memori kolektif masyarakat komunal merekam fase transisi dari dunia air menuju daratan kering. Kearifan sosiokultural ini mengajarkan filosofi mendalam tentang pentingnya menghormati batas-batas fisis bentang alam, memosisikan air sebagai pusaka kehidupan yang tidak boleh dinodai oleh ketamakan manusia.
4. Uga Bandung: Waduk Saguling dan Jalinan Kabel “Sehelai Rambut”
Melangkah pada realitas modern, takdir geomorfologi Cekungan Bandung Raya mengalami rekayasa radikal yang membuktikan kebenaran ramalan leluhur sastra lisan Sunda kuno yang akrab disebut sebagai Uga. Salah satu uga yang sangat dikenal adalah Uga Bandung yang berdasarkan catatan tulisan “Riwayat Geologi Dataran Tinggi Bandung” oleh K. Kusumadinata pada tahun seribu sembilan ratus lima puluh sembilan, menyatakan bahwa kelak aliran Citarum akan terbendung kembali oleh sehelai rambut. Ramalan lama ini menemukan jawaban ilmiahnya secara presisi pada pembendungan raksasa Waduk Saguling di pedalaman perbukitan barat. Di bawah rekayasa teknohidrologi, aliran Citarum sengaja disumbat kembali di celah perbukitan barat guna memutar turbin pembangkit listrik, di mana energi raksasa tersebut kemudian disalurkan melalui bentangan jaringan kabel atau saluran udara tegangan ekstra tinggi. Kabel-kabel tembaga interkoneksi Jawa-Bali yang terlihat tipis menyerupai helai rambut jika dipandang dari dasar cekungan inilah yang menjadi perwujudan fisik dari transisi peradaban mistis menuju era modernisasi kedaulatan energi nasional.
5. Epilog Geowisata: Menjaga Pasokan Air Vulkanik dan Kemandirian Energi
Keberhasilan pemanfaatan potensi geowisata teknohidrologi yang bersandar pada “nubuat” Uga Bandung ini pada akhirnya menuntut peran serta aktif masyarakat dalam menjaga kelangsungan pasokan debit air permukaan vulkanis serta membatasi laju sedimentasi hulu. Turbin penggerak energi listrik yang mengalir melalui jalinan kabel sehelai rambut tersebut akan mengalami kelumpuhan total akibat pendangkalan hebat jika Kawasan Bandung Utara dan lereng tangkapan air vulkanik penyangga Citarum dibiarkan gundul oleh beton permukiman komersial atau alih fungsi lahan lainnya. Integrasi geoliterasi digital melalui optimalisasi peran serta masyarakat akar rumput sebagai penjaga kelestarian daerah aliran sungai merupakan wujud pertahanan lingkungan yang paling hakiki. Merawat kemurnian wadah bekas danau purba dan mengamankan siklus air Waduk Saguling bukan sekadar urusan pariwisata selintas, melainkan ikhtiar luhur untuk menegakkan hukum tata ruang wilayah, mempertahankan hak hidup generasi masa depan, serta menjaga kedaulatan energi Negara Kesatuan Republik Indonesia!
“Selamat Hari Jadi Kota Bandung yang ke-216, 25 September 2016”
#GeowisataNusantara #DanauBandungPurba #BendunganSaguling #UgaBandung #MitologiSangkuriang #KabelTransmisiListrik #KawasanBandungUtara #KedaulatanEnergiNKRI #CurugJompong #Cirahong #SungaiCitarum #TBachtiar #BelaNegaraEkologis

Judul: Geowisata Nusantara Seri #BS-2: Dataran Bandung di Bekas Danau Purba dan Legenda Citarum Terbendung Kembali oleh Sehelai Rambut
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Parkah












