Bangsa yang Butuh Pejabat Bersahaja

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (27/04/2026) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Bangsa yang Butuh Pejabat Bersahaja” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Bersahaja artinya sederhana, apa adanya, dan tidak berlebihan. Orang yang bersahaja biasanya tampilannya sederhana, tidak suka pamer harta, jabatan, atau pencapaian. Kemudian, gaya hidupnya wajar. cukup dengan yang perlu, tidak neko-neko. Lalu, sikapnya rendah hati, ramah ke siapa saja, tidak membeda-bedakan orang. Dan bicaranya lugas, tidak dibuat-buat atau sok tinggi.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Contoh gambarannya “meski jadi direktur, Pak Dadang tetap bersahaja. Ke kantor naik motor dan makan siang di warteg. Di sisi yabg lain, lawannya bersahaja adalah mewah, berlebih-lebihan, sombong, pongah dan suka pamer. Singkatnya, bersahaja sama dengan sederhana tapi tetap berkarakter dan bermartabat.

Hidup bersahaja bukan cuma soal “tampil sederhana”. Di baliknya ada nilai-nilai filosofis yang membuat orang tetap waras di tengah dunia yang serba pamer. Ini 7 nilai utamanya:

1. Cukup (Sufficiency).
Filosofinya: bahagia itu soal merasa cukup, bukan punya paling banyak.
Bedanya sama “kekurangan” adalah sadar kapan harus berhenti. Stoikisme menyebutnya euthymia, puas dengan apa yang memang kita butuhkan. Kalau lapar ya makan, tapi tidak harus di restoran bintang 5 tiap hari.

2. Kerendahan hati (Humility).
Bersahaja lahir dari kesadaran bahwa jabatan, harta, dan pujian itu titipan.
Dalam Jawa ada istilah handap asor dalam Islam tawadhu. Intinya tidak merasa lebih tinggi dari orang lain cuma karena status. Pejabat bersahaja ya mau jongkok ngobrol sama warga.

3. Integritas (Non-attachment).
Orang bersahaja tidak diperbudak gengsi. Tidak beli mobil baru cuma biar dianggap sukses. Buddha menyebut “upadana” kemelekatan membuat menderita. Zen juga mengajarkan “sedikit barang, banyak ruang untuk batin”. Jadi yang dijaga bukan imej, tapi nurani.

4. Kesadaran (Mindfulness).
Karena tidak sibuk mengejar validasi, orang bersahaja lebih mudah hadir dalam berbagai kesempatan. Bisa nikmatin ngopi pagi, dengerin anak cerita, kerja tanpa drama. Epikuros bilang: kesenangan tertinggi itu (ataraxia) batin tenang karena hidupnya tidak ribet.

5. Keadilan sosial (Empathy).
Hidup sederhana bikin kita peka. Kalau kita tidak boros, kita sadar banyak orang masih susah. Makanya banyak tokoh bersahaja ujungnya jadi filantropis atau pemimpin merakyat. Prinsipnya: “ngapain mewah kalau tetangga susah makan”.

6. Kebebasan (Freedom).
Makin sedikit yang kamu “harus” punya, makin bebas kamu. Diogenes filsuf Yunani tinggal di dalam tong, tapi nggak ada raja yang bisa nyogok dia. Karena nggak butuh apa-apa, nggak bisa disetir. Bersahaja sama dengan tidak gampang disandera gaya hidup.

7. Syukur (Gratitude).
Ini fondasinya. Orang bersahaja melatih mata untuk lihat yang sudah ada, bukan yang kurang. Dalam Islam ada “qanaah”, dalam Stoik “amor fati” cinta sama hidup apa adanya. Dari syukur lahir rasa cukup, dari cukup lahir ketenangan.

Singkatnya bersahaja itu filosofi “kaya tanpa banyak, mulia tanpa panggung”. Ukurannya bukan seberapa sedikit barangmu, tapi seberapa ringan hidupmu ngejalanin nilai-nilai tadi.

Lalu, bagaimana secara umum kiprah para pejabat di negeri ini ? Kalau ngomong “umumnya”, kiprah pejabat di Indonesia itu tentu sangat beragam. Tapi ada pola yang sering kelihatan di lapangan. Ringkasannya sebagai berikut :

1. Jalur masuknya.melalui politik partai. Nyaleg, jadi kepala daerah, lalu naik ke menteri/DPR. Modalnya jaringan + elektabilitas. Birokrat karir : PNS dari staf, eselon IV naik pelan-pelan sampai Dirjen/Sekjen. Kuat di teknis.
Profesional/Teknokrat. Akademisi, pengusaha, atau tokoh dipanggil masuk kabinet. Kelebihannya ahli, tapi kadang gagap politik. TNI/Polri. Pensiun lalu masuk pemerintahan, atau kadang masih aktif di jabatan tertentu yang dibolehkan UU.

2. Gaya kerja yang sering muncul.
Yang diapresiasi publik diantaranya
Blusukan dan responsif. Turun ke lapangan, selesaikan aduan warga cepat. Gaya ini ngetop sejak era Jokowi-Ahok.
Digital dan transparan. Lapor anggaran di medsos, buka data, pakai e-budgeting, e-katalog.
Program populis. Bangun infrastruktur, bansos, kesehatan gratis, sekolah gratis. Dampaknya langsung kerasa.

Sedangkan kiprah yang sering dikritik antara lain :
– Pencitraan over kerja. Aktif di medsos, tapi eksekusi program lambat.
– Kebijakan gonta-ganti. Ganti menteri, ganti aturan. Bikin pelaku usaha & warga bingung.
– APBD/APBN nggak terserap. Akhir tahun baru dikebut biar nggak jadi Silpa. Kualitas proyek jadi korban.

3. Tantangan klasik
1. Korupsi. KPK dari 2004 sampai 2024 udah nangani 1.500+ kasus. Modusnya: suap proyek, jual-beli jabatan, mark-up anggaran.
2. Politik biaya tinggi. Kampanye mahal, akhirnya butuh “balik modal” pas menjabat. Ini lingkaran setan.
3. Birokrasi gemuk. Banyak lapis izin, tumpang tindih aturan pusat-daerah. Reformasi birokrasi jalan tapi pelan.
4. Intervensi kepentingan. Kebijakan kadang lebih nurut sponsor atau partai ketimbang kajian teknis.

4. Tren 10 tahun terakhir :
– Anak muda & figur non-partai makin masuk. Gubernur/bupati/wali kota usia 30-40an, latar belakang startup, influencer, atau aktivis.
– Tuntutan publik makin tinggi. Karena medsos, pejabat gampang viral – bisa karena prestasi, bisa juga karena salah ngomong.
– Isu integritas jadi jualan. LHKPN, gaya hidup, sampai rekening gendut pejabat langsung disorot netizen.

5. Jadi, ujungnya gimana ? Jawabnya jelas, tidak bisa dipukul rata. Ada yang tulus kerja dan warisannya kerasan 20 tahun kemudian. Ada juga yang cuma numpang lewat, meninggalkan utang dan kasus. Bedanya biasanya kelihatan dari 3 hal: rekam jejak sebelum menjabat, berani nggak dia lawan arus demi bener, dan kayak apa dia pas udah nggak punya jabatan.

Melahirkan pejabat yang bersahaja itu kerjaan jangka panjang. Nggak bisa cuma modal berharap orangnya “baik dari lahir”. Sistemnya yang harus bikin orang bersahaja itu bisa naik, dan orang serakah itu nggak betah.

Berikur ini 5 “ladang” tempat pejabat bersahaja biasanya tumbuh yakni :

Yang utama ladang keluarga dan pendidikan dalam arti menanam nilai sejak awal. Bersahaja itu kebiasaan, bukan pencitraan. Orang yang dari kecil diajari cukup, tahu malu, dan tanggung jawab, lebih kebal sama godaan jabatan. Caranya melalui pendidikan karakter di sekolah, teladan dari orang tua, organisasi kepemudaan yang ngajarin kerja sosial tanpa pamrih. Pejabat itu cerminan rata-rata warganya. Kalau warga terbiasa hedon, ya jangan kaget pejabatnya juga.

Selanjutnya, ladang rekrutmen yang bikin “biaya masuk” jadi murah. Kenapa banyak pejabat hidup mewah? Karena ongkos buat jadi pejabat juga mewah. Kampanye miliaran, mahar partai, “serangan fajar”. Ujungnya harus balik modal.
Solusinya :
– Partai kaderisasi beneran. Naikin kader dari bawah karena prestasi, bukan karena punya duit.
– Subsidi politik bersih. Dana kampanye dari negara, tapi auditnya ketat.
– Batasin belanja kampanye dan hukum berat buat politik uang.
Kalau masuknya nggak utang, kerjanya nggak dikejar utang.

Kemudian ladang sistem: jabatan nggak boleh jadi jalan jadi kaya.
Orang bersahaja betah kalau sistemnya nggak maksa dia jadi serakah.
Caranya :
– Gaji layak, tunjangan wajar. Biar nggak korupsi karena kebutuhan, tapi juga nggak bikin aji mumpung.
– LHKPN dibuka & diuji publik. Bukan cuma formalitas. Harta nggak wajar = langsung diperiksa.
– Potong privilege nggak penting. Mobil dinas seperlunya, perjalanan dinas diawasi, rapat nggak harus di hotel bintang 5.
– Rotasi & batas masa jabatan. Terlalu lama di kursi bikin orang merasa “kerajaan gue”.

Lalu, ladang budaya kerja: atasan jadi teladan. Anak buah nurun atasannya. Kalau menteri hidup sederhana, Dirjen-nya malu foya-foya. Kalau Presiden naik KRL, ajudannya nggak bakal minta Alphard. Caranya : KPI pejabat nggak cuma “program selesai”, tapi juga “gaya hidup & integritas”. Promosi jabatan pakai track record, kesederhanaan. pernah nolak gratifikasi, hidupnya nggak berubah drastis pasca-jabat.

Terakhir, ladang kontrol. Adanya warga yang galak & hukum yang menggigit. Bersahaja itu bertahan kalau ada yang ngawasin.
Caranya :
– Masyarakat sipil & pers kuat. Netizen, LSM, wartawan yang berani bongkar gaya hedon pejabat.
– Penegak hukum independen. KPK, Kejaksaan, Polri yang nggak tebang pilih. Hukuman buat koruptor bikin efek jera, bukan cuma 2 tahun penjara.
– Sanksi sosial. Di negara Skandinavia, pejabat ketahuan bohong soal struk makan siang aja bisa mundur. Karena malu masih jadi mata uang sosial.

Akhirnya penting disampaikan pejabat bersahaja lahir dari 3 hal yakni ketemu: orangnya bener, sistemnya bener dan warga ikut mengawasi. Kita sering fokus nyari “orang suci” buat jadi pejabat. Padahal yang lebih penting itu membuat sistem yang bikin orang biasa pun dipaksa bersikap bersahaja kalau mau selamat. (PENULIS, ANGGOTA DEWAN PAKAR DPN HKTI).

***

Judul: Bangsa yang Butuh Pejabat Bersahaja
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Raka Alvaro Triputra

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *