MajmusSunda News, Senin (27/04/2026) – Artikel berjudul “Lentera Almamater” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, tiga puluh lima tahun setelah saya lulus dari Universitas Padjadjaran, hari ini kembali dan mendapati kampus ini bukan lagi ruang yang sama. Ia telah berubah secara lokasi, tampilan fisik, maupun cara menghidupinya. Mahasiswa kini hidup dalam ritme zaman yang dipercepat: sigap dalam merespons, cair dalam berjejaring, akrab dengan teknologi, tetapi juga lebih rentan tercerabut dari kedalaman.

Saya datang bukan lagi sebagai mahasiswa yang percaya dunia bisa diubah dalam satu malam, melainkan sebagai seseorang yang tahu perubahan berjalan lebih lambat daripada hasrat. Dulu, suara kami lantang. Kini, saya berbicara dengan jeda—karena pengalaman mengajarkan bahwa yang tak terucap kerap sama pentingnya. Namun getar itu tetap ada: ingatan tentang berdiri untuk sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Kepulangan ini dalam rangka memberi kuliah umum di prodi hukum tata negara. Di sini, saya berdiri di perlintasan: bukan alumni hukum, tetapi juga bukan orang asing. Wajah-wajah lama hadir kawan seperjuangan yang dulu berdebat di jalanan, kini berbicara dari podium sebagai profesor. Waktu tidak menghapus kami; ia hanya menggeser posisi dalam percakapan yang sama.
Berbicara tentang nomokrasi (rule of law) dan demokrasi, saya sadar keduanya bukan sekadar konsep yang selesai di ruang kuliah. Dulu kami meneriakkannya sebagai tuntutan; kini saya membacanya sebagai kenyataan yang terus bernegosiasi—rapuh, kerap diselewengkan, tetapi tak pernah sepenuhnya hilang. Pengalaman memberi kedekatan, jarak memberi kejernihan; memahami berarti terus bersedia meragukan.
Sebagai generalis, saya percaya pada pandangan yang naik lebih tinggi seperti elang rajawali yang membaca lanskap. Hukum dan politik saling menyilang dan mengoreksi. Nomokrasi tanpa demokrasi membeku; demokrasi tanpa nomokrasi kehilangan arah. Di sanalah bangsa diuji.
Maka hubungan alumni dan almamater bukan nostalgia, melainkan tanggung jawab. Kampus harus tetap menjadi lentera nalar ruang yang berani gelisah dan menjaga integritas. Dari sanalah nomokrasi berakar, demokrasi bermartabat. Jika cahaya itu redup, yang hilang bukan hanya kampus, melainkan masa depan ba
***
Judul: Lentera Almamater
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












