MajmusSunda News, Selasa (07/04/2026) – Artikel berjudul “Tirani Keintiman” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, kehidupan sosial-politik kita mengalami erosi mendasar. Ruang publik yang dulu lapang bagi gagasan dan perdebatan kini mengkerut, terhimpit urusan personal.
Seperti nubuat Richard Sennett dalam The Fall of Public Man, kita menyaksikan keruntuhan manusia publik akibat pergeseran dari kehidupan publik yang terbuka menuju dunia yang kian terkurung dalam isu privat.

Di sinilah tumbuh apa yang ia sebut: tirani keintiman. Batas antara publik dan privat memudar; ruang publik tak lagi ditopang jarak sosial yang sehat, melainkan dorongan untuk serba dekat dan personal.
Politik kehilangan wataknya sebagai panggung kepublikan dan berubah menjadi cermin kepribadian: yang dinilai bukan lagi pikiran, melainkan pribadi; bukan program, melainkan persona; bukan nalar, melainkan kesan.
Media sosial mempercepat perubahan ini, mengubah ruang publik menjadi panggung emosi, di mana kejujuran kerap disalahpahami sebagai membuka seluruh kehidupan pribadi. Kemarahan, simpati, serta kedekatan pribadi lebih menonjol daripada argumen yang jernih.
Opini publik kini dibentuk oleh apa yang terasa benar, bukan alasan yang kuat. Kebenaran jadi pribadi, sulit dipertemukan, mudah diperdebatkan tanpa ujung. Perdebatan kehilangan makna dialog, karena masing-masing hanya mengulang keyakinannya sendiri.
Kita makin sulit berhadapan dengan orang berbeda yang tak dikenal atau tak sepemikiran. Padahal, kehidupan publik menuntut kemampuan berinteraksi tanpa harus terlalu dekat; jarak sosial bukan ancaman, melainkan prasyarat kebebasan bersama.
Kini kita cenderung berkumpul dengan yang serupa pandangan, identitas, keyakinan. Kota padat secara fisik, tetapi renggang secara sosial; yang berbeda terasa jauh, yang asing mudah dicurigai. Demokrasi kehilangan napasnya ketika perasaan terhadap pribadi mengalahkan penilaian gagasan, dan “manusia publik” pun pudar.
Tanpa etika, batas, dan jarak yang disepakati, ruang publik menjadi pelampiasan diri, bukan tempat perjumpaan warga. Landasan kebajikan hidup bersama pun ambruk, meninggalkan demokrasi rapuh dan rentan digoyahkan sentimen sesaat.
***
Judul: Tirani Keintiman
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












