MajmusSunda News, Kamis (02/04/2026) – Artikel berjudul “Resonansi ” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, seringkali kita dapati satu pintu tertutup lantas mengira jalan sudah buntu. Padahal ada begitu banyak pintu menuju dekapan rida sang mahakasih.
Sesungguhnya perjumpaan dua hati itu ibarat getar pada dawai gitar. Hanya dengan menekan titik pada senar yang tepat akan dihasilkan nada selaras. Tanpa ketepatan getar rasa, perjumpaan dua hati menghasilkan nada yang sumbang.

Untuk menemukan ketepatan, kita bisa terus mencarinya dengan ragam percobaan dan kesalahan. Mungkin juga tak perlu mencarinya, melainkan dengan ketabahan menjalani ujian dengan menanam benih kebajikan hingga yang mahakasih menyingkapkan tabirnya sendiri.
Karena bunga tak pernah mencari pasangan, melainkan menjalani gerak tumbuh hingga sang bayu berhembus membantu penyerbukan silang.
Begitupun air yang menguap tak pernah mencari angin. Melainkan, ada saatnya angin datang menerpa awan, menjatuhkan tetes hujan bagi terik kehidupan.
Keyakinan yang dihidupi ketabahan berjuang bisa menghidupkan hukum daya tarik. Gerak semesta akan tertarik untuk memenuhi impian seseorang dengan membukakan pintu-pintu berkah dari langit dan bumi.
Adakalanya pepohonan harus tabah meranggas dan rerumputan pun mengering. Alam memahami kapan waktu terbaik menghidupkan tetumbuhan dari kematiannya. Saat tetes hujan jatuh, membawa kabar cinta langit pada bumi, seluruh jaringan pori-pori bumi mengembang, memuaikan daya hidup yang berdesakan keluar, menyongsong basah dedaunan dengan gairah musim semi.
Berhentilah menanti dan mencari juru selamat untuk menghalau bayang kegelapan. Kelam kesuraman hanya bisa diatasi oleh fajar kebajikan dan kasih pelayanan.
Menanam adalah cara menumbuhkan kebajikan dan kasih sayang. Semakin subur darma kasihmu pada kehidupan, makin makmur curah kasih semesta padamu. Tidak ada kehampaan dalam menebar benih kasih, karena sesungguhnya tak ada kasih yang bertepuk sebelah tangan.
Begitupun jalan impian menjadi kenyataan. Para pemimpi sejati menyadari, tak ada pencapaian tanpa penanaman, tanpa proses pengolahan dalam lumpur waktu. Barangsiapa tak berkeringat menanam dan merawat bunga harapan tak dapat menikmati indahnya taman impian.
***
Judul: Resonansi
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












