MajmusSunda News, Rabu (01/04/2026) – Artikel berjudul “Merawat Harapan” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Saudaraku, ada banyak alasan yang membuat kita pantas kecewa dengan perkembangan kehidupan bangsa ini. Peluang kebebasan yang diberikan demokrasi belum mampu menghadirkan kehidupan yang lebih adil, lebih berdaya, lebih unggul.
Mediokritas mewarnai kepemimpinan di berbagai bidang. Ketidakteraturan dinormalkan, “aji mumpung” dibudayakan, dan jalan pintas menjadi jalan hidup yang memperlancar korupsi dan pengurasan sumberdaya.

Akar dari semua ini adalah kegemaran pada apa yang disebut Frank Furedi sebagai pemujaan terhadap kedangkalan. Kita terpesona pada yang praktis dan material, hingga pendidikan pun kehilangan nyala batinnya.
Mereka yang menyalakan api pengetahuan kerap dianggap asing—terlalu tinggi, terlalu jauh dari bumi. Kedalaman dihindari, kedangkalan dirayakan. Yang sungguh-sungguh tersisih, sementara yang menerabas jalan pintas merajalela.
Kita pun terjebak pada gemerlap luar. Proses dipersingkat, hasil dipuja. Aturan dilenturkan, lembaga kehilangan wibawa. Banyak gerak tanpa arah, perubahan tanpa makna—seakan berjalan jauh, padahal hanya berputar di tempat.
Yang retak sesungguhnya bukan sekadar sistem, melainkan batin kita. Seperti telah diingatkan Wiranatakoesoema, kecerdasan tanpa latihan jiwa tak cukup membentuk manusia yang bertanggung jawab. Tanpa kekuatan batin, kita kehilangan kompas untuk mengenali kebenaran.
Betapa pun, kita tak boleh tenggelam dalam pesimisme. Pikiran yang gelap hanya akan melumpuhkan daya hidup. Harapan harus dijaga dengan cara berpikir yang jernih dan sikap yang optimistis—bukan yang semu, melainkan yang berakar pada kerja dan kesabaran dalam proses mewaktu.
Sebab masa depan tidak datang dengan sendirinya. Ia tumbuh dari apa yang kita tanam hari ini. Setiap kebaikan kecil, setiap kesungguhan yang sunyi, adalah benih yang kelak menentukan arah waktu.
Selama waktu masih ada, rebutlah harapan dengan kesungguhan. Rawatlah kebaikan, meski kecil dan tak selalu terlihat. Karena seperti kata Leo Tolstoy, ”Dua petarung yang paling kuat adalah kesabaran dan penguasaan waktu.”
***
Judul: Merawat Harapan
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












