KENALI WATAK TANAH MENURUT TRADISI LELUHUR SUNDA

Penulis: Ambu Rita Laraswati (Budayawati,seniman, Spiritual)

MajmusSunda News, Bandung, 10/2/2026 – Tanah menurut ilmu alam merupakan lapisan terluar kerak bumi yang terdiri dari mineral, bahan organik, air dan udara. Tanah adalah media atau tempat kehidupan semua mahluk hidup, tanah merupakan sumber daya alam yang penting bagi kehidupan manusia.

Pedologi adalah ilmu pengetahuan tentang tanah dan proses pembentukan, komposisi, struktur, sifat-sifat tanah, pengunaan tanah dan klarifikasi tanah. Tanah merupakan sumber alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan mahluk lainnya karena tanah berfungsi menyediakan nutrisi, air, tempat tinggal semua mahluk hidup yang memiliki komponen terdiri dari mineral, bahan organik, air dan udara.

Judul artikel: KENALI WATAK TANAH MENURUT TRADISI LELUHUR SUNDA. Penulis: Ambu Rita Laraswati (Budayawati,seniman, Spiritual)

Tanah dalam pemahaman Islam memiliki nilai spritual dan moral yang tinggi dan membentuk keimanan dan kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa. Tanah adalah ciptaan Allah yang terdapat dalam Al Qur’an Al Bagaroh 22 “Allah menciptakan tanah sebagai salah satu nikmat bagi manusia”. Tanah sebagai amanah dari Allah terdapat dalam AL Qur’an Al Araf 74 ” Manusia di percaya untuk menjaga dan mengelola tanah sebagai amanah dari Allah”. Tanah adalah sumber rejeki terdapat dalam Al Qur’an Al Hijr ” Tanah adalah sumber rejeki bagi manusia, baik berupa hasil pertanian, pertambangan dan lainnya. Tanah sebagai tempat kembali terdapat dalam Al-Qur’an Al muminun 12-24 ” Manusia akan kembali ke tanah setelah meninggal”.

Dalam Hadis Nabi Muhammad SAW juga menekankan untuk menjaga tanah dan lingkungan. HR Muslim “Jaga tanah mu, karena ia bagian dari agamamu”. HR Bukhari “tidak ada dosa yang lebih besar dari pada merusak tanah. Islam mengajarkan kita manusia untuk memperlakukan hormat pada tanah karena tanah nikmat untuk manusia yang dapat menjadi rejeki dengan mengelola dengan baik dan manusia dalam mengelola tanah harus amanah tidak serakah.

Judul artikel: KENALI WATAK TANAH MENURUT TRADISI LELUHUR SUNDA. Penulis: Ambu Rita Laraswati (Budayawati,seniman, Spiritual)

Dalam Mitologi Sunda, tanah sangat di hormati dan dijaga karena sebagian dari kehidupan spritual dan budaya. Secara pandangan budaya Sunda tanah memiliki sifat, watak dan karakter karena tanah di sebut “Indung nu ngandung” yang artinya tanah di artikan sebagai perempuan, ibu yang mengandung berbagai macam zat ungsur hara yang dapat membuahkan dan menyuburkan. Pengertian tanah mengandung adalah tempat semua mahluk hidup di ciptakan dan bertumbuh kembang yang dapat manfaat untuk semua mahluk, ibarat tanah adalah rahim ibu yang memenuhi semua nutrisi untuk hidup. Air merupakan ungsur yang di ibaratkan air ketuban, zat makan di ibaratkan ungsur hara, angin ibaratkan roh yang di tiupkan dan menjadi bayi yang di hidupkan. Begitu luhur nilai dan makna tanah dalam mitologi Sunda di ibaratkan sosok perempuan/ibu dan Pertiwi yang menjadi Dewi penolong semua mahluk.

Dalam mitologi Sunda tanah terbagi beberapa jenis sesuai kondisi letak tanah. Menurut naskah kuno Sunda yang menerangkan tentang kontur tanah disebut ” WARUGAN LEMAH” yang tidak menjadi halangan untuk tempat pemukiman. Berdasarkan kontur tanah beberapa jenis tempat dan wilayah pemukiman.

Berdasarkan kontur tanah terdiri dari:

  • Talaga hangsa (tanah condong ke kiri), Banyu metu (tanah condong ke belakang), Purba tapa (tanah condong ke depan), Ambek pataka (tanah condong ke kanan), Ngalingga manik (tanah membentuk puncak), Singha purusa (tanah memotong bukit), Sumatra dadaya (tanah datar), Jagal bahu (dua lahan terpisah), Sri madayang (tanah berada di antara dua aliran sungai).
  • Tanah berdasarkan keadaan wilayah terdiri dari: Luak maturun (bagian tengah wilayah terdapat lembah), Tunggang laya (wilayah pemukiman menghadap laut), Mrega hideng (wilayah pemukiman bekas kuburan), Talaga kahudanan (wilayah pemukiman terbelah sungai), Si Bareubeu (wilayah berada di bawah aliran sungai), Wilayah yang melipat, Kampung di kelilingi rumah, bekas tempat kantor di kelilingi rumah.

Dari sekian banyak pemukiman orang Sunda yang di perkirakan tanah yang baik hanya ada empat yaitu Talaga hangsa, Ngalingga manik, Singha purusa, Sumatra dadaya. Baik tanah yang baik dan tidak baik menurut budaya Sunda tetap harus di ruat atau disucikan dengan di tanam tumbuhan tertentu.

Dalam naskah Sunda kuno yaitu Sanghyang Siksakandang Keresian di sebutkan lemah (lahan tanah) yang tidak baik untuk pemukiman, diantaranya: Sodong (ceruk tebing yang terletak pada aliran sungai yang berkelok sehingga muncul ceruk akibat gerusan air), Saronge (tempat angker), Cadas gantung (batu Padas yang menggantung yang di bawahnya ada tempat bernaung).

Selain keterangan dari dua naskah kuno tersebut di atas ada tulisan mengenai wilayah pemukiman yang di anggap baik dan tidak baik oleh J.Habbema yang terdapat di daerah Priangan, yaitu:

  • Taneh anu bahe ngetan ngaler, watekna ka nu tani matak, kanu dagang matak beunghar, jauh ti bancang pakewuh (tanah yang miring ke timur utara, wataknya baik bagi yang bertani dijauhkan dari kesusahan).
  • Tanah anu bahe ngetan wungkul, disebut anggon-anggon anu tani, sebab watekna nungtun resep pepelakan, tur hade jadina (tanah yang miring ke timur, disebut anggon-anggon tani, wataknya senang bercocok tanam dan bagus hasilnya).
  • Tanah anu bahe ngetan wungkul, di sebut “angon-angon anu tani” sebab watekna nungtun resep pepelakan, tur hade jadina (tanah yang miring ke timur disebut angon-angon tani, wataknya senang bercocok tanam dan bagus hasilnya).
  • Tanah anu bahe ngulon disebut anggon-anggon pandita sebab watakna mawa bageur ka nu ngeusian, embung lacur, jeleh maen jeung salianna ti eta sakur lampah kagorengan (Tanah yang miring ke barat, wataknya menjadikan penghuninya berkelakuan baik tidak mau lacur dan melakukan perbuatan buruk).
  • Tanah nu kaliung ku cai, watekna tiis, teu aya penyerewedan (tanah yang dikelilingi air, wataknya dingin,tidak ada pertengkaran). Tanah anu penghade- hadena tanah pilembureun atawa pinagaraeun, nyaeta lemah “ngagaludra ngupuk” tegesna cai ti tilu madhab campur ngocor katengah, tuluy palid ka madhab anu kaopat. (tanah yang paling baik untuk pemukiman disebut “galudra ngupuk” air mengalir dari tiga arah dan terbuang ke arah satunya lagi).

 

Tanah yang kurang baik untuk pemukiman diantaranya yaitu:

  • Tanah nu kaungkulan kujalan, ari peuntaseunana papak jeung eta jalan, watekna matak kaungkulan ku nu ti tonggoh (tanah yang di bawah jalan, sedangkan di seberang jalan sejajar dengan jalan wataknya selalu dikalahkan).
  • Tanah lemah gunting, nyaeta tanah nu kacapit ku jalan cagak atawa ku cai, watekna sangar (tanah yang terjepit oleh persimpangan jalan, wataknya sangar dan menakutkan).
  • Tanah nu bahe ngetan ngidul sebab nyak ge watekna mawa daek kana pepelakan, tapi tara jadi (tanah menurun ke arah selatan, wataknya rajin bercocok tanam tapi selalu tidak tumbuh baik).
  • Tanah nu bahe ngulon ngaler, di sebut angon-angon jaksa, watekna loba penyerewedan (tanah yang menurun ke arah barat utara disebut angon-angon jaksa, banyak pertengkaran).
  • Tanah anu bahe ngulon ngidul, disebut “angon-angon durjana” watekna sok kalindeukan bangsat (tanah yang menurun ke arah barat selatan, disebut angon-angon durjana wataknya sering kedatangan maling).
  • Tanah yang tidak baik untuk pemukiman diantaranya yaitu: Lemah talaga ngembeng tegesna tanah legok, cai ti madhab papat ngocorna kumpul ka tengah, tapi taja pamiceunanana, ngembeng bae, eta watehna tara jadi jual beli (tanah yang disebut talaga ngembeng yaitu tanah ceruk, air dari empat penjuru mengumpul di tengah tidak ada jalan air keluar, wataknya apabila jual beli tidak pernah terlaksana).

Lemah “kancah nangkup” nyaeta anu cara kancah di tangkugkubkeun eta watekna panas, teu bisa ngampihan rejeki (tanah berupa gundukan, seperti katel terbalik, wataknya panas, tidak dapat menyimpan peruntugan).(Mamat Sasmita, Pustaka jaya).

Para pembaca yang budiman dalam budaya Sunda pemukiman masyarakat harus betul-betul aman terutama dari kontur tanah. Nenek moyang orang Sunda sudah memiliki ilmu luhur untuk mendeteksi dan menilai kontur tanah baik atau tidak baiknya dan pantasnya untuk tempat bangunan pemukiman. Zaman ini nilai-nilai kebudayaan tidak di jadikan ilmu untuk menentukan tata ruang, sehingga zaman saat ini membangun apa saja baik rumah, perkantoran, perumahan, pasar, kantor pemerintahan, pabrik industri sudah tidak mengacu pada nilai kearifan lokal, rumus leluhur dalam mengelola tanah dan peruntukan tanah. Banyak tanah yang tidak baik dan kurang baik untuk di jadikan pemukiman di paksakan untuk jadi pemukiman, sehingga bila terjadi banjir saat curah hujan tinggi menjadi bencana banjir musiman dan pemukiman yang tanahnya longsor karena membangun pemukiman pada tanah tanah yang tidak layak dan tidak baik untuk di jadikan pemukiman, sehingga banyak perkampungan di bawah kaki gunung dan bukit yang terkena tanah longsor. Seandainya pemerintah (dinas PUPR ) menggunakan ilmu tradisional Sunda sebagai penentu pantas tidak pantasnya bangun di dirikan di suatu bidang tanah, mungkin saja akan mengurangi permasalahan.

Minimnya sosialisasi pada masyarakat untuk dapat mengetahui pengetahuan tentang kontur tanah, baik tidak baiknya tanah untuk pemukiman sehingga masyarakat tidak memahami dan masyarakat bebas membuat bangunan di tanah-tanah terlarang.

Kota Bandung yang terbentuk bentangan tanahnya dari letusan gunung berapi, yang asal mulanya adalah danau purba, terjadi bentukan tanah karena peristiwa fenomena alam harusnya menjadi catatan besar untuk kita agar tata ruang kota Bandung harus di benahi dan di tentukan peraturan perundang-undangan yang sesuai. Kota Bandung yang di kelilingi gunung, tebing- tebing gunung itu adalah batas sisi danau yang tertimbun lahar dan tanah yang di keluarkan oleh letusan gunung meletus yang di sebut patahan yang menurut catatan cerita masyarakat Sunda (bahasa lisan) adalah sesar Lembang (oray tapa) merupakan ancaman bencana untuk kota Bandung. Kenapa tanah kota Bandung disebut bahaya bencana karena tanahnya berada di atas danau besar artinya tanah kota Bandung berada di atas air dan menurut ilmu kontur tanah leluhur Sunda merupakan “lemah telaga ngembeng, tanah legok, cai ti empat madhab ngumpul ka tengah, tapi taja pamuceunan, ngembeng bae” artinya tanah kota Bandung berada di bekas berkumpulnya air (danau purba) yang sangat riskan amblas, longsor. Dari petunjuk intuisi dahulu kala karuhun Sunda agar bekas danau purba yang di tutup tanah, abu letusan gunung Sunda dapat Kokok dan tidak mudah amblas maka tanah bandung di sucikan dengan ruatan dan memberikan paku alam berupa pohon caringin untuk menguatkan tanah kota Bandung agar tidak mudah amblas mengigat tanah kota Bandung terbentuk dari letusan gunung berapi yang berawal dari danau besar. Di kota Bandung banyak kita temui pohon caringin besar dan berumur tua sebagai paku bumi, namun pohon-pohon caringin tidak lagi lestari banyak yang di tebang karena lahan yang banyak di bangun gedung gedung dan perumahan. Paku alam pohon caringin di kota Bandung semakin berkurang akibatnya sering di rasakan adanya pergerakan tanah, gempa.

Para pembaca yang budiman ahir-ahir ini banyak berita tentang tanah longsor, tanah amblas, tanah bergeser, tanah retak. Di kota Bandung daerah Cisarua Lembang, gunung Burangrang terjadi longsor dari atas puncak gunung yang menghantam pemukiman masyarakat dan bencana longsor itu menimbun puluhan rumah dan ratusan jiwa. Mungkin kontur tanah di bawah gunung Burangrang adalah kontur tanah yang tidak baik untuk di jadikan pemukiman dan bercocok tanam, perlu di teliti secara seksama untuk mengetahui jelas jenis tanah, watak tanah di lingkungan gunung Burangrang.

Baru-baru ini wilayah kota Tegal terjadi pergeseran tanah dan tanah amblas, memungkinkan tanah di wilayah Tegal memiliki sejarah apakah dahulunya adalah sebuah lembah atau danau. Masih banyak potensi bencana dari tanah setidaknya dengan tulisan ini yang menuliskan tentang kearifan lokal budaya Sunda pihak agar pemerintah dan masyarakat dapat memahami bahwa tanah memiliki kontor yang berbeda-beda beda dan jenis, sifat dan watak yang berbeda beda. Kontur, jenis, sifat dan watakpun mempengaruhi kehidupan baik dan buruknya manusia.

Jawa Barat masyarakat dan pemerintahannya harus segera melakukan penilaian pada area tanah-tanah tanah di Jawa Barat dan membuat peta zona kontur tanah sebagai pelengkap tata ruang agar tidak lagi sembarang mengelola tanah agar terhindar dari bencana alam akibat tanah. Tanah adalah Bumi tempat semua mahluk hidup berkembang.

Tanah adalah indung (ibu pertiwi) sapa indung, pahami hati indung, kenalilah jiwa raga indung, jangan kau tempati indung untuk nafsu serakahmu, kenalin setiap bagian tubuhnya yang bisa di tempati dan tidak, pakai hukum alam dan etika budaya untuk menempati hati dan rasa indung.

Waspada….bencana alam dari ungsur tanah mengintai kehidupan anda, siapkan mitigasi bencana secara serius dan merata…

Sunda hudang…
Sunda ngawaruga…
Sunda ngajiwa KA Nusantara….

Bandung Selasa 11 Februari 2026.
Buda 2k, sasih Asada 1962 Caka Sunda.

YAYASAN SUNDA13BBUHUN
BUDAYA SUNDA BUHUN

 

*****

 

 

 

 

Judul: KENALI WATAK TANAH MENURUT TRADISI LELUHUR SUNDA

Penulis: Ambu Rita Laraswati (Budayawati,seniman, Spiritual)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *