Lakon: Trihelika: Fondasi Filosofis Universitas Koperasi Tumaritis

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.

Dunia wayang
Ilustrasi: Dunia pewayangan - (Sumber: Arie/MMNS)

MajmusSunda News, Kolom Artikel/Opini, Sabtu (11/10/2025) – Artikel Serial Tropikanisasi dan Kooperatisasi berjudul “Lakon: Trihelika: Fondasi Filosofis Universitas Koperasi Tumaritis” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.

Tokoh: Semar, Punakawan, Pandawa, Kresna; Roh Keling Kumang & Dewi Sri (Kearifan Lokal); Para Filsuf Pendiri Bangsa: Bung Hatta, Bung Karno, Ki Hajar Dewantara; Pemikir Global: Immanuel Kant; Perwujudan Mazhab Filsafat: Positivisme, Normativisme, Pragmatisme

Latar: Ruang Sidang Senat Akademi Ilmu Pengetahuan Nusantara

SELINGAN LAGU: Gaudeamus Igitur

https://www.youtube.com/clip/UgkxgABZ2KoA0DLMeV0qX8FGDoYgmWbdlxhX

PROLOG: WARISAN SANG PENDAHULU

(Panggung terbagi empat. Sisi kiri: laboratorium dengan peralatan sains modern. Sisi tengah kiri: ruang perenungan dengan kitab nilai-nilai luhur. Sisi tengah kanan: ruang konstitusi dengan naskah Pasal 33 UUD 1945. Sisi kanan: sawah dengan petani praktik langsung.)

NARATOR: Setelah 80 tahun merdeka, warisan para pendiri bangsa tentang ekonomi kerakyatan masih terpinggirkan. Koperasi atau perkoperasian belum diakui sebagai rumpun keilmuan mandiri. Sementara di Barat, tiga mazhab epistemologi saling bertengkar, di Timur, para founding fathers kita telah meletakkan fondasi yang lebih holistik.

(Semar masuk dengan membawa empat benang: merah, putih, hijau, kuning)

SEMAR: Lihatlah! Benang-warisan Bung Hatta, benang-semangat Bung Karno, benang-pendidikan Ki Hajar, dan benang-filsafat Kant. Mari kita pintal menjadi satu!

BABAK 1: POSITIVISME & WARISAN KEILMUAN BUNG HATTA

(Bayangan Bung Hatta muncul dengan koper berisi buku-buku ekonomi dan naskah Pasal 33)

BUNG HATTA: “Koperasi harus berdasarkan ilmu, bukan semangat saja! Saya belajar dari Raiffeisen dan Schulze-Delitzsch, tapi kita adaptasi dengan kondisi Indonesia!”

POSITIVISME: Benar! Hanya yang terukur yang nyata!

GARENG: Kulo… kulo mangertos… Tapi Pak Hatta, pengalaman 40 tahun petani dengan wuluku itu juga ilmu! Bukan hanya teori Barat!

BUNG HATTA: “Tepat sekali! Itulah yang saya katakan: ‘Ilmu tanpa amal omong kosong, amal tanpa ilmu sia-sia belaka.’ Kita butuh positivisme yang membumi!”

BABAK 2: NORMATIVISME & IMPERATIF KATEGORIS ALAM INDONESIA

(Bayangan Immanuel Kant dan Bung Karno berdialog)

IMMANUEL KANT: “Manusia harus diperlakukan sebagai tujuan, bukan alat! Koperasi harus berdasarkan categorical imperative!”

BUNG KARNO: “Well said, Professor! Tapi di Indonesia, categorical imperative kita adalah Pancasila! Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia! Itulah imperatif kategoris kita!”

CEPOT: Wah! Jadi… perlakukan petani sebagai tujuan pembangunan, bukan alat produksi! Ini selaras dengan wuluku yang menghormati hubungan manusia-alam!

DAWALA: La la… Kant memberikan filosofi, Bung Karno memberikan konteks Indonesia, kita yang wujudkan dalam koperasi!

BABAK 3: PRAGMATISME & KEARIFAN KI HAJAR DEWANTARA

(Bayangan Ki Hajar Dewantara muncul dengan konsep Tripusat Pendidikan)

KI HAJAR DEWANTARA: “Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani! Pendidikan harus menyentuh keluarga, sekolah, dan masyarakat!”

PRAGMATISME: Yang penting bekerja!

BIMA: Tapi Ki Hajar, pragmatisme saja tidak cukup! Seperti traktor tanpa wuluku – bisa cepat tapi merusak!

KI HAJAR: “Benar! Itulah sebabnya saya katakan: ‘Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.’ Koperasi harus menjadi sekolah kehidupan yang memerdekakan!”

BABAK 4: TRIHELIKA NUSANTARA – SINTESIS YANG MEMERDEKAKAN

SEMAR: Mari kita satukan semua warisan agung ini!

YUDHISTIRA: Bagaimana caranya, Semar?

LEVEL 1: POSITIVISME ALA BUNG HATTA

Fakta dan data ekonomi,tapi dengan jiwa Pasal 33: “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan”

LEVEL 2: NORMATIVISME ALA KANT & BUNG KARNO

Categorical imperative yang diindonesiakan:”Perlakukan rakyat Indonesia sebagai tujuan pembangunan, dengan keadilan sosial sebagai kompas”

LEVEL 3: PRAGMATISME ALA KI HAJAR DEWANTARA

Kemanfaatan praktis yang memerdekakan, dengan pendidikan koperasi di keluarga, sekolah, dan masyarakat.

KRESNA: Dan semuanya disatukan oleh jiwa Trihelika: Hardware ilmu Bung Hatta, Software nilai Bung Karno, Soulware pendidikan Ki Hajar!

BABAK 5: KURIKULUM UNIVERSITAS KOPERASI TUMARITIS BERBASIS TRI HELIKA

FAKULTAS EKONOMI KOPERASI BUNG HATTA:

(Dengan pendekatan Positivisme Berkontekstualisasi)

  • Ekonomi Kerakyatan + Data Science
  • Analisis Pasal 33 UUD 1945 + Fintech Koperasi
  • Trihelika: Data empiris (Hardware) + Nilai kekeluargaan (Software) + Aplikasi fintech (Soulware)

FAKULTAS AKUNTANSI & HUKUM KOPERASI:

(Dengan pendekatan Normativisme Membumi)

  • Akuntansi Koperasi + Hukum Koperasi Indonesia
  • Audit Berbasis Nilai + Legal Drafting Koperasi
  • Trihelika: Standar akuntansi (Hardware) + Nilai keadilan (Software) + Penegakan hukum (Soulware)

FAKULTAS KELEMBAGAAN KOPERASI:

(Dengan pendekatan Sintesis Filosofis)

  • Teori Kelembagaan + Governance Koperasi
  • Organisasi & Manajemen Koperasi Modern
  • Trihelika: Struktur organisasi (Hardware) + Prinsip demokrasi (Software) + Budaya organisasi (Soulware)

 

FAKULTAS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT:

(Dengan pendekatan Pragmatisme Memerdekakan)

  • Community Development + Pengorganisasian Masyarakat
  • Metodologi Pemberdayaan Partisipatif
  • Trihelika: Teknik pemberdayaan (Hardware) + Nilai kemandirian (Software) + Proses penyadaran (Soulware)

FAKULTAS TEKNOLOGI UNTUK KOPERASI:

(Dengan pendekatan Teknologi Berpihak)

  • Teknologi Tepat Guna + Digitalisasi Koperasi
  • Sistem Informasi Manajemen Koperasi
  • Trihelika: Perangkat teknologi (Hardware) + Nilai kemanfaatan (Software) + Pemberdayaan pengguna (Soulware)

BABAK 6: DIALOG ABADI PARA PENDEKAR EPISTEMOLOGI

BUNG HATTA: “Professor Kant, categorical imperative Anda sangat bagus, tapi di Indonesia kita wujudkan dalam gotong royong!”

IMMANUEL KANT: “Mr. Hatta, your implementation of cooperative principles in the Indonesian context is remarkable! You’ve given life to my philosophical abstractions.”

BUNG KARNO: “Ki Hajar, konsep Tripusat Pendidikan Itu sangat revolusioner! Koperasi harus menjadi sekolah rakyat yang sebenarnya!”

KI HAJAR DEWANTARA: “Bung Karno, Bung Hatta, warisan kalian tentang ekonomi kerakyatan harus menjadi jiwa pendidikan kita! Jangan sampai kita hanya mencetak tukang, tapi tidak mencetak manusia merdeka!”

SEMAR: Dan semua warisan agung ini kita satukan dalam Universitas Koperasi Tumaritis! Tempat kita melahirkan Manusia Koperasi Indonesia yang menguasai ilmu, berpegang nilai, dan mampu mempraktikkan! Manusia koperasi sebagai khalifatul fil ardh yang rahmatan lil alamin–rahmat untuk seisi alam.

EPILOG: KELAHIRAN GENERASI KOPERASI INDONESIA

KRESNA: Dalam terminologi wayang modern:

  • Bung Hatta = Werkudara – kuat dalam ilmu dan prinsip
  • Bung Karno = Arjuna – visioner dan penuh strategi
  • Ki Hajar Dewantara = Semar – bijak dan memerdekakan
  • Kant = Kresna – memberikan filosofi moral yang mendalam.

SEMAR: Maka dengan segala kerendahan hati, kami teruskan warisan para pendiri bangsa! Universitas Koperasi Tumaritis akan melahirkan sarjana koperasi yang:

  • Berilmu seperti Bung Hatta
  • Bervisi seperti Bung Karno
  • Memerdekakan seperti Ki Hajar Dewantara
  • Bermoral seperti Immanuel Kant

~Manusia koperasi sebagai khalifatul fil ardh yang rahmatan lil alamin–rahmat untuk seisi alam.

SABDA PAMUNGKAS DALANG:

Bung Hatta mewariskan ilmu ekonomi kerakyatan,
Bung Karno mewariskan semangat keadilan sosial,
Ki Hajar mewariskan pedagogi memerdekakan,
Kant mewariskan imperatif kategoris universal.
Semar menyatukan dalam Trihelika Nusantara,
Memintal benang-benang warisan menjadi tenun indah.

Lima fakultas dengan fondasi Trihelika:
Ekonomi dengan data yang membumi,
Akuntansi dan hukum dengan nilai keadilan,
Kelembagaan dengan governance berintegritas,
Pemberdayaan dengan jiwa memerdekakan,
Teknologi dengan kearifan lokal.

Universitas Koperasi Tumaritis berdiri megah,
Sebagai penghormatan kepada para pendiri bangsa.
Melahirkan Sarjana Koperasi Indonesia,
Yang menguasai ilmu tapi tidak tercerabut dari rakyat,
Yang berpegang nilai tapi tidak melangit,
Yang mempraktikkan dengan jiwa memerdekakan.
~Manusia koperasi sebagai khalifatul fil ardh yang rahmatan lil alamin–rahmat untuk seisi alam.

Untuk Indonesia berdaulat melalui koperasi,
Sesuai cita-cita founding fathers kita!

(Cahaya menyoroti gambar Bung Hatta, Bung Karno, Ki Hajar Dewantara, dan Immanuel Kant yang tersenyum, sementara para mahasiswa baru Universitas Koperasi Tumaritis bersiap menerima estafet perjuangan.)

***

Noted:

Tropikanisasi adalah sebuah konsep transformatif yang merujuk pada proses mengangkat, memulihkan, dan memodernisasi kekayaan tropis—baik dalam pangan, budaya, ekonomi, maupun spiritualitas—sebagai fondasi kedaulatan dan keberlanjutan bangsa tropis seperti Indonesia.

Judul: Lakon: Trihelika: Fondasi Filosofis Universitas Koperasi Tumaritis
Penulis: Prof. Agus Pakpahan
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Prof. Agus Pakpahan memimpin IKOPIN University sejak 29 Mei 2023 untuk periode 2023–2027. Ia dikenal sebagai ekonom pertanian yang menaruh perhatian pada penguatan ekosistem perkoperasian dan tata kelola kebijakan publik.

Prof. Agus Pakpahan
Prof. Agus Pakpahan, Penulis: (Sumber: Arie/MMSN)

Di bawah kepemimpinan Agus Pakpahan, IKOPIN mendorong kemitraan strategis dan pembenahan tata kelola kampus, termasuk menyambut inisiatif pemerintah agar IKOPIN bertransformasi menuju skema Badan Layanan Umum (BLU) di lingkungan Kemenkop UKM—sebuah langkah untuk memperkuat daya saing kelembagaan dan mutu layanan pendidikan. “Pendidikan yang berpihak pada kemajuan adalah jembatan masa depan,” demikian ruh visi yang ia usung.

Lahir di Sumedang, 29 Januari 1956, Agus Pakpahan menempuh S-1 di Fakultas Kehutanan IPB (1978) dan meraih M.S. Ekonomi Pertanian di IPB (1981). Ia kemudian meraih Ph.D. Ekonomi Pertanian dengan spesialisasi Ekonomi Sumber Daya Alam dari Michigan State University (1988). Latar akademik ini mengokohkan reputasinya di bidang kebijakan sumber daya alam, pertanian, dan pembangunan pedesaan. “Ilmu adalah cahaya; manfaatnya adalah sinar yang menuntun,” menjadi prinsip kerja ilmiahnya.

Kariernya panjang di pemerintahan: bertugas di Bappenas pada 1990-an, lalu dipercaya sebagai Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (1998–2002). Di tengah restrukturisasi, ia memilih mundur pada 2002—sebuah sikap yang tercatat luas di media arus utama.

Sesudahnya, Agus Pakpahan menjabat Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan (2005–2010), memperlihatkan kapasitasnya menautkan riset, kebijakan, dan bisnis negara. “Integritas adalah kompas; kebijakan adalah peta,” ringkasnya tentang tata kelola.

Sebagai akademisi-pemimpin, Agus Pakpahan aktif membangun jejaring dan kurikulum. Kunjungan kerja ke FEB UNY menegaskan orientasi penguatan kompetensi usaha dan koperasi, sementara di tingkat lokal ia melepas ratusan mahasiswa KKN untuk mengabdi di puluhan desa di Sumedang—mendorong pembelajaran kontekstual dan solusi nyata bagi masyarakat. “Belajar adalah bekerja untuk sesama,” begitu pesan yang kerap ia gaungkan pada kegiatan kampus.

Di luar kampus, kiprah Agus Pakpahan terekam dalam wacana publik seputar hutan, pertanian, ekonomi sirkular, dan perkoperasian—menginspirasi komunitas petani serta pemangku kepentingan untuk berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai gotong royong.

Esai dan pandangan Agus Pakpahan di berbagai media bereputasi menunjukkan konsistensinya pada pembangunan yang adil dan berkelanjutan. “Kemajuan tanpa keadilan hanyalah percepatan tanpa arah; keadilan memberi makna pada laju,” adalah mutiara yang merangkum jalan pikirannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *