Patriotisme Dimulai dari Sepiring Nasi Coklat: Revolusi Koperasi Pangan Indonesia

Artikel ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.

Nasi merah
Ilustrasi: Sepiring nasi merah siap saji yang sehat dan bergizi - (Sumber: Arie/MMNS)

MajmusSunda News, Kolom Artikel/Opini, Selasa (02/09/2025) – Artikel Serial Kooperatisasi berjudul “Patriotisme Dimulai dari Sepiring Nasi Coklat: Revolusi Koperasi Pangan Indonesia” ini ditulis oleh: Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Pinisepuh Majelis Musyawarah Sunda (MMS) dan Rektor IKOPIN University Bandung.

Pendahuluan: Piring Kita, Masa Depan Bangsa

Setiap kali kita menyendok nasi, kita sedang membuat pernyataan politik pangan. Kita memilih antara melanjutkan pemborosan sumber daya atau memulai revolusi ketahanan pangan. Ini adalah kisah tentang bagaimana patriotisme sejati dimulai dari piring makan kita.

Mitos “Nasi Putih” yang Menyesatkan

Mari kita luruskan: “nasi putih” itu tidak ada. Yang kita sebut nasi putih sebenarnya adalah beras yang telah dicerabut nyawanya – dibuang kulit ari dan lembaganya yang mengandung 80% nutrisi, lalu disisakan endosperma yang sebagian besar hanya mengandung karbohidrat.

nasi putih
Ilustrasi: Sepiring nasi putih – (Sumber: Arie/MMNS)

Yang ada di alam adalah: Nasi coklat dari beras coklat (whole grain); Nasi merah dari beras merah (whole grain), dan; Nasi hitam dari beras hitam (whole grain)

“Nasi putih” adalah produk industri, bukan produk alam. Setiap porsi “nasi putih” adalah simbol pemborosan: 20% hasil panen terbuang sebagai sekam dan 10-15% nilai gizi terbuang sebagai dedak.

Warisan Leluhur yang Terlupakan

Nenek moyang kita mengenal kebenaran ini. Sebelum pabrik penggilingan modern, mereka mengonsumsi beras tumbuk – beras coklat alami yang membuat mereka kuat bekerja dan melahirkan generasi tangguh.

Pada 1897, dr. Christiaan Eijkman membuktikan secara ilmiah: ayam yang diberi “beras putih” terjangkit beri-beri, sementara yang diberi beras coklat tetap sehat. Penemuan yang menghantarnya meraih Nobel ini membuktikan bahwa kita telah tersesat oleh kilau “kemajuan” semu.

Matematika Patriotisme: 2,56 Juta Hektar untuk Indonesia

Inilah dampak nyata pilihan kita. Jika 280 juta rakyat Indonesia bersatu mengonsumsi beras coklat (rendemen 80%), terjadi keajaiban:

Kita menghemat 2,56 juta hektar lahan sawah setiap tahun – setara dengan empat setengah kali luas Pulau Bali yang bisa kita selamatkan, atau hampir empat kali luas DKI Jakarta yang bisa kita hijaukan kembali.

Kita juga menghemat 13,3 juta ton gabah setiap tahun – setara dengan 1,33 juta truk pengangkut padi, sekaligus menghemat triliunan rupiah untuk pupuk, air irigasi, dan tenaga kerja.m serta mengurangi emisi gas-gas rumah kaca.

Dampak Riil: Dari Piring ke Negeri

Pada tingkat keluarga: Asupan gizi lengkap: serat, vitamin B, mineral, gamma-oryzanol, antioksidan dan lebih dari 100 jenis bioaktif; Risiko diabetes, jantung, dan stroke menurun, dan; Biaya kesehatan keluarga berkurang

Pada tingkat bangsa: Penghematan triliunan rupiah untuk subsidi pupuk dan air; Pengurangan emisi karbon dari pertanian yang efisien, Peningkatan produktivitas nasional karena masyarakat sehat, dan; Penguatan ketahanan pangan melalui diversifikasi lahan.

Jalan Revolusi: Gerakan Koperasi

Revolusi ini dimulai dari koperasi sebagai ujung tombak: Membangun sistem penyimpanan gabah berjangka; Menyediakan beras coklat berkualitas untuk anggota; Edukasi berkelanjutan tentang manfaat beras coklat, dan; Menciptakan rantai pasok efisien dari petani ke konsumen.

Kesimpulan: Pilihan yang Menentukan

Patriotisme abad 21 adalah tentang pilihan konsumsi cerdas yang membangun kedaulatan bangsa. Setiap piring nasi coklat adalah: Penghormatan untuk petani Indonesia; Investasi untuk kesehatan keluarga; Warisan untuk anak cucu, dan; Perisai untuk lingkungan Nusantara.

Mari kita tinggalkan “nasi putih” yang miskin gizi. Mari kembali ke nasi coklat yang kaya nutrisi. Patriotisme sejati dimulai dari sepiring nasi yang bijak.

Sebarkan revolusi ini. Mulai dari piring Anda. Ubah Indonesia dari meja makan.

***

Noted:

Serial Kooperatisasi adalah serial untuk menyampaikan gagasan berdasarkan bukti teori atau empiris bahwa koperasi merupakan institusi amanah Konstitusi Pasal 33 UUD ’45 yang secara teoritis dan empiris merupakan institusi ekonomi  terbaik untuk memajukan kemakmuran bersama dan mewujudkan kualitas masa depan bersama yang terbaik. Edisi ini didukung oleh studi kasus dan data finansial dari CHS Inc., Fonterra, Zen-Noh, Nonghyup, dan FrieslandCampina.

Judul: Patriotisme Dimulai dari Sepiring Nasi Coklat: Revolusi Koperasi Pangan Indonesia
Penulis: Prof. Agus Pakpahan
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Prof. Agus Pakpahan memimpin IKOPIN University sejak 29 Mei 2023 untuk periode 2023–2027. Ia dikenal sebagai ekonom pertanian yang menaruh perhatian pada penguatan ekosistem perkoperasian dan tata kelola kebijakan publik.

Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S.
Prof. Dr. Ir. H. Agus Pakpahan, M.S., Penulis – (Sumber: alumniipbpedia.id)

Di bawah kepemimpinan Agus Pakpahan, IKOPIN mendorong kemitraan strategis dan pembenahan tata kelola kampus, termasuk menyambut inisiatif pemerintah agar IKOPIN bertransformasi menuju skema Badan Layanan Umum (BLU) di lingkungan Kemenkop UKM—sebuah langkah untuk memperkuat daya saing kelembagaan dan mutu layanan pendidikan. “Pendidikan yang berpihak pada kemajuan adalah jembatan masa depan,” demikian ruh visi yang ia usung.

Lahir di Sumedang, 29 Januari 1956, Agus Pakpahan menempuh S-1 di Fakultas Kehutanan IPB (1978) dan meraih M.S. Ekonomi Pertanian di IPB (1981). Ia kemudian meraih Ph.D. Ekonomi Pertanian dengan spesialisasi Ekonomi Sumber Daya Alam dari Michigan State University (1988). Latar akademik ini mengokohkan reputasinya di bidang kebijakan sumber daya alam, pertanian, dan pembangunan pedesaan. “Ilmu adalah cahaya; manfaatnya adalah sinar yang menuntun,” menjadi prinsip kerja ilmiahnya.

Kariernya panjang di pemerintahan: bertugas di Bappenas pada 1990-an, lalu dipercaya sebagai Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (1998–2002). Di tengah restrukturisasi, ia memilih mundur pada 2002—sebuah sikap yang tercatat luas di media arus utama.

Sesudahnya, Agus Pakpahan menjabat Deputi Menteri BUMN Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan (2005–2010), memperlihatkan kapasitasnya menautkan riset, kebijakan, dan bisnis negara. “Integritas adalah kompas; kebijakan adalah peta,” ringkasnya tentang tata kelola.

Sebagai akademisi-pemimpin, Agus Pakpahan aktif membangun jejaring dan kurikulum. Kunjungan kerja ke FEB UNY menegaskan orientasi penguatan kompetensi usaha dan koperasi, sementara di tingkat lokal ia melepas ratusan mahasiswa KKN untuk mengabdi di puluhan desa di Sumedang—mendorong pembelajaran kontekstual dan solusi nyata bagi masyarakat. “Belajar adalah bekerja untuk sesama,” begitu pesan yang kerap ia gaungkan pada kegiatan kampus.

Di luar kampus, kiprah Agus Pakpahan terekam dalam wacana publik seputar hutan, pertanian, ekonomi sirkular, dan perkoperasian—menginspirasi komunitas petani serta pemangku kepentingan untuk berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai gotong royong.

Esai dan pandangan Agus Pakpahan di berbagai media bereputasi menunjukkan konsistensinya pada pembangunan yang adil dan berkelanjutan. “Kemajuan tanpa keadilan hanyalah percepatan tanpa arah; keadilan memberi makna pada laju,” adalah mutiara yang merangkum jalan pikirannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *