MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (01/09/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Nyempod”” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Arti dari kata nyempod dalam Bahasa Sunda adalah: menciutkan badan bersembunyi di pojok karena takut sesuatu. Orang mungkin melakukan “nyempod” (menciutkan badan dan bersembunyi di pojok karena takut) karena beberapa alasan, seperti merasa takut atau ketakutan. Orang mungkin merasa takut atau ketakutan terhadap sesuatu, seperti suara keras, hewan, atau situasi yang tidak terduga.

Bisa juga karena merasa tidak aman. Orang mungkin merasa tidak aman atau tidak nyaman dalam situasi tertentu, sehingga mereka memilih untuk bersembunyi dan menciutkan badan. Atau sengaja menghindari konfrontasi. Orang mungkin melakukan “nyempod” untuk menghindari konfrontasi atau interaksi dengan orang lain yang membuat mereka merasa tidak nyaman atau takut.
Bahkan tidak menutup kemungkinan mengalami stres atau kecemasan. Orang mungkin mengalami stres atau kecemasan yang membuat mereka merasa perlu untuk bersembunyi dan menciutkan badan.
Dalam beberapa kasus, “nyempod” dapat menjadi mekanisme koping yang temporer untuk menghadapi situasi yang menakutkan atau tidak nyaman. Namun, jika perilaku ini berlanjut atau menjadi kebiasaan, maka perlu diatasi dengan bantuan profesional. Lalu, bagaimana kaitannya dengan tutup mulutnya beberapa anggota DPR setelah ada aspirasi yang ingin membubarkan DPR ?
Jika anggota DPR “nyempod” (menciutkan badan dan bersembunyi di pojok karena takut), maka maknanya dapat berarti bahwa mereka merasa takut atau tidak aman dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat. Ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya pertama, tekanan politik. Anggota DPR mungkin merasa tertekan oleh partai politik atau kelompok kepentingan tertentu yang mempengaruhi keputusan mereka.
Kedua, kritik atau serangan. Anggota DPR mungkin merasa tidak nyaman dengan kritik atau serangan dari masyarakat, media, atau lawan politik. Ketiga, kurangnya dukungan. Anggota DPR mungkin merasa tidak didukung oleh masyarakat atau partai politik, sehingga mereka merasa tidak aman dalam menjalankan tugasnya.
Dalam konteks ini, “nyempod” dapat berarti bahwa anggota DPR tidak berani mengambil keputusan yang tegas atau tidak berani menghadapi tantangan dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil rakyat. Selanjutnya, jika ada aspirasi rakyat agar DPR dibubarkan, maka banyak anggota DPR mungkin merasa tidak nyaman atau takut dengan situasi tersebut. Mereka mungkin merasa bahwa keberadaan mereka sebagai anggota DPR dipertanyakan atau bahkan diancam.
Dalam situasi seperti ini, beberapa anggota DPR mungkin melakukan “nyempod” (menciutkan badan dan bersembunyi di pojok karena takut) dalam arti bahwa mereka :
– Menghindari pertemuan atau diskusi. Mereka mungkin menghindari pertemuan atau diskusi dengan masyarakat atau media untuk menghindari pertanyaan atau kritik.
– Tidak berani mengambil keputusan. Mereka mungkin tidak berani mengambil keputusan yang tegas atau kontroversial karena takut dengan reaksi masyarakat atau partai politik.
– Berusaha mempertahankan posisi. Mereka mungkin berusaha mempertahankan posisi mereka sebagai anggota DPR dengan cara-cara yang tidak populer atau tidak etis.
Namun, perlu diingat bahwa reaksi anggota DPR terhadap aspirasi rakyat dapat bervariasi tergantung pada individu dan partai politik mereka. Beberapa anggota DPR mungkin tetap teguh dalam menjalankan tugasnya dan berusaha untuk memenuhi aspirasi rakyat, sementara yang lain mungkin lebih cenderung untuk “nyempod” dan menghindari konfrontasi.
Dalam situasi seperti ini, akan lebih baik jika anggota DPR memilih untuk tampil dialog dengan rakyat daripada “nyempod” (menciutkan badan dan bersembunyi di pojok karena takut). Dengan tampil dialog, anggota DPR dapat menjelaskan posisi dan kebijakan*: Mereka dapat menjelaskan posisi dan kebijakan mereka kepada rakyat, sehingga rakyat dapat memahami alasan di balik keputusan mereka.
Atau bisa mendengarkan aspirasi rakyat. Mereka dapat mendengarkan aspirasi dan keluhan rakyat, sehingga mereka dapat memahami kebutuhan dan keinginan rakyat. Bahkan dapat juga membangun kepercayaan. Dengan tampil dialog, anggota DPR dapat membangun kepercayaan dengan rakyat, sehingga rakyat dapat merasa bahwa mereka diwakili dengan baik.
Kalau saja hal seperti ini dapat ditempuh dengan apik, sebetulnya anggota DPR dapat menunjukkan bahwa mereka peduli dengan aspirasi rakyat dan bersedia untuk bekerja sama dengan rakyat untuk mencapai tujuan bersama. Ini akan lebih baik daripada “nyempod” dan menghindari konfrontasi dengan rakyat.
***
Judul: “Nyempod”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi










