MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (12/06/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Tips Agar Beras Tidak Berkutu!” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Beras rusak adalah beras yang telah mengalami perubahan fisik, kimia, atau biologis yang dapat mempengaruhi kualitas dan keamanan pangan. Beberapa contoh beras rusak antara lain beras yang telah terinfeksi kutu atau serangga lainnya. Kemudian, beras yang telah terinfeksi jamur atau kapang. Lalu. beras berbau. Artinya, beras yang memiliki bau tidak sedap atau tidak normal. Atau beras berlendir yakni beras yang telah mengalami perubahan tekstur menjadi lunak atau berlendir. Ada juga beras yang telah mengalami perubahan warna menjadi tidak normal, seperti berwarna kuning atau coklat.

Beras rusak dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti penyimpanan yang tidak tepat. Beras yang disimpan di tempat yang lembab, panas, atau tidak bersih. Bisa juga kerusakan selama prosesing yaitu beras yang mengalami kerusakan selama proses pengolahan, seperti penggilingan atau pengemasan. Atau karena terinfeksi oleh mikroorganisme seperti jamur atau bakteri.
Beras rusak dapat berdampak pada kualitas dan keamanan pangan, sehingga perlu dilakukan pengendalian kualitas yang ketat untuk memastikan bahwa beras yang dikonsumsi aman dan berkualitas. Salah satu jenis beras rusak yang sempat viral di media sosial adalah ditemukannya beras berkutu oleh para Wakil Rakyat di gudang Perum Bulog beberapa waktu lalu.
Tulisan ini mencoba akan mengupas masalah beras berkutu agar ke depan menjadi beras tidak berkutu. Untuk menyimpan beras di gudang Perum Bulog agar tidak berkutu ada beberapa tips yang dapat dilakukan antara lain pertama, kebersihan gudang. Pastikan gudang bersih dari kotoran, debu, dan kelembaban yang dapat menarik kutu.
Kedua, penggunaan karung yang tepat. Gunakan karung yang bersih, kering, dan tidak rusak untuk menyimpan beras. Ketiga, pengendalian kelembaban. Jaga kelembaban gudang di bawah 70% untuk mencegah pertumbuhan kutu. Keempat, pengendalian suhu.Jaga suhu gudang di bawah 25°C untuk memperlambat pertumbuhan kutu.
Kelima, penggunaan insektisida. Gunakan insektisida yang aman untuk makanan jika diperlukan, namun pastikan untuk mengikuti prosedur yang tepat. Keenam, rotasi stok. Lakukan rotasi stok beras secara teratur untuk memastikan bahwa beras yang lebih lama digunakan terlebih dahulu. Ketujuh, pemeriksaan berkala. Lakukan pemeriksaan berkala terhadap beras yang disimpan untuk mendeteksi adanya kutu atau kerusakan lainnya.
Di negeri ini, soal beras berkutu, memang bukan hal baru. Beras berkutu sudah sering muncul menjadi perbincangan banyak pihak. Tentu kita masih ingat dengan Program Beras untuk Masyarakat Miskin atau RASKIN di awal tahun 2000an. Ketika itu, cukup banyak warga masyarakat yang komplain, karena beras ditebus banyak kutunya.
Kejadian puluhan tahun lalu, rupanya masih terjadi di masa kini. Temuan beberapa Anggota Komisi IV DPR RI ternyata cukup mengagetkan banyak kalangan. Kok bisa di saat kemajuan teknologi pergudangan sudah tumbuh dan berkembang dengan pesat, masih juga ditemukan adanya beras berkutu. Hak ini mestinya tidak perlu tercipta, bila SOP nya berjalan dengan baik.
Kabar yang menyebut adanya beras berkutu temuan Wakil Rakyat di gudang Perum Bulog Jogjakarta, tentu saja menuntut kepada Perum Bulog untuk berkaca diri. Lebih-lebih setelah dikenali, beras berkutu ini berasal dari beras impor yang didatangkan tahun lalu. Sebagai operator pangan yang ditugaskan melaksanakan kebijakan impor beras, Perum Bulog, pasti tahu persis soal beras yang diimpornya.
Perum Bulog sendiri, tidak mungkin akan membeli beras berkualitas buruk. Perum Bulog, pasti akan mencari beras terbaik dari negara-negara sahabat ini. Apalagi jika hal ini dikaitkan dengan semangat impor beras tahun lalu, yang salah satu peruntukkannya untuk memperkokoh cadangan beras Pemerintan. Penguatan cadangan beras mutlak ditempuh agar ketersediaan beras tetap terjaga dan terpelihara.
Atas gambaran demikian, dapat dikatakan, adanya beras berkutu di gudang Perum Bulog, bukanlah disebabkan oleh kualitas beras impor yang didatangkan, namun lebih disebabkan oleh buruknya Tata Kelola Penyimpanan gabah/beras di gudang Perum Bulog. Penyimpanan gabah/beras yang ditempuh selama ini perlu segera direvitalisasi menuju proses yang lebih berkualitas.
Revitalisasi proses dan prosedur penyimpanan gabah/beras, sudah sangat mendesak untuk dilakukan. Apalagi bila dikaitkan dengan semangat Presiden Prabowo dan Kabinet Merah Putihnya, yang ingin menyerap gabah petani sebesar-besarnya. Tanpa adanya penyempurnaan dalam proses penyimpanan gabah/beras, dirisaukan akan mengundang problem yang lebih serius lagi.
Temuan adanya beras berkutu di gudang Perum Bulog Jogjakarta ini, jelas membuktikan Tata Kelola Penyimpanan gabah/beras masih bermasalah. Artinya, tidak mungkin akan ditemukan beras berkutu kalau prosedur penyimpanan sesuai dengan aturan yang ada. Pertanyaan kritisnya adalah apakah Perum Bulog telah menjalankan pekerjaannya dengan baik dan sesuai dengan SOP yang ada ?
Semoga dalam mengelola cadangan beras Pemerintah yang hampir 4 juta ton ini, tidak ditemukan lsgi ada beras berkutu. Namun di gudang Perum Bulof akan tersimpan beras yang tidak berkutu.
***
Judul: Tips Agar Beras Tidak Berkutu!
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












