MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (09/06/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Setelah Sukses Penyerapan, Perum Bulog Dituntut Sukses Penyimpanan” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Panen Raya padi sebentar lagi akan berakhir. Perum Bulog sebagai operator pangan Pemerintah boleh bersenang-hati. Tugas yang diberikan Pemerintah sebagai regulator pangan telah mampu dilaksanakan dengan baik. Target menyerap gabah petani dijawab dengan bukti nyata penyerapan yang sangat membahagiakan. Perum Bulog mampu menyerap gabah hampir 2 juta ton.

Melakoni musim panen kali ini, Perum Bulog benar-benar telah memperlihatkan kinerja terbaiknya. Penyerapan gabah yang dalam 5 tahun terakhir rata-rata berkisar antara 1 – 1,2 juta ton, kini melonjak hampir 2 juta ton. Ini betul-betul prastasi yang patut diberi acungan jempol. Perum Bulog memang keren, membuat banyak pihak memberi apresiasi.
Jujur diakui, peran Perum Bulog dalam penyerapan gabah pada panen raya kali ini sangat penting untuk mendukung program swasembada pangan pemerintah. Setidaknya ada lima peran Peran Bulog yang perlu diamati dengan seksama. Pertama, melakukan penyerapan gabah dan beras dari petani dalam negeri untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga stabilitas harga pangan. Target penyerapan Perum Bulog untuk tahun 2025 adalah sekitar 3 juta ton.
Kedua, pembelian gabah dengan harga yang baik. Perum Bulog membeli gabah dari petani dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah, yaitu Rp 6.500 per kilogram untuk Gabah Kering Panen (GKP). Ketiga, pengoptimalan infrastruktur. Perum Bulog mengoptimalkan infrastruktur yang dimiliki, seperti Sentra Pengolahan Padi dan Sentra Pengolahan Beras, untuk meningkatkan efisiensi penyerapan gabah dan beras.
Keempat, kerja sama dengan stakeholder. Perum Bulog bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Pertanian, TNI-POLRI, kelompok tani, dan penggilingan padi, untuk memastikan proses penyerapan berjalan dengan baik. Kelima, pengawasan kualitas. Perum Bulog memastikan bahwa gabah yang diserap memiliki kualitas yang baik dan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, sehingga beras yang dihasilkan juga berkualitas baik.
Atas gambaran demikian, Perum Bulog berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani, menjaga stabilitas harga pangan, dan mendukung program swasembada pangan pemerintah. Sukses Perum Bulog menyerap gabah dengan harga yang menguntungksn petani, otomatis penghasilan petani akan semskin meningkat.
Lalu, bagaimana dengan kondisi penyimpanan gabah yang telah diserap ini ? Apakah dalam perkembangannya, Perum Bulog akan nampu mewujudkan ‘sukses penyerapan = sukses penyimpanan’ ? Ataukah masih akan dihadapkan pada berbagai masalah yang tidak mudah untuk dituntaskan ? Inilah yang buruh pencermatan kita bersama.
Kondisi penyimpanan gabah yang baik sangat penting untuk menjaga kualitas gabah dan beras. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan gabah seperti perlunya gudang yang kering dan bersih. Gudang penyimpanan gabah harus kering dan bersih untuk mencegah pertumbuhan jamur dan hama. Selanjutnya perlu pengendalian kelembaban Kelembaban gudang harus dikontrol untuk mencegah gabah menjadi lembab dan rusak. Kemudian, pengendalian suhu. Sebab, suhu gudang juga harus dikontrol untuk mencegah gabah menjadi rusak akibat suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.
Tak kalah penting gabah harus disimpan dalam karung yang baik dan kuat untuk mencegah kerusakan akibat gesekan atau tekanan. Bahkan diperlukan pengawasan yang teratur. Gudang penyimpanan gabah harus diawasi secara teratur untuk mendeteksi adanya kerusakan atau masalah lainnya.
Dari penjelasan diatas, bisa dikatakan kondisi penyimpanan gabah yang baik dapat membantu menjaga kualitas gabah dan beras, serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan gabah dan beras. Dengan demikian dapat dipastikan, fenomena beras berkutu di gudang Perum Bulog, tentu tidak akan menjadi bahan temuan lagi.
Menyimpan gabah dalam jumlah yang sangat besar, tentu saja akan berbeda dengan proses penyimpanan gabah dalam jumlah yang sedikit. Serapan gabah Perum Bulog yang jumlahnya hampir 2 juta ton disertai dengan jumlah gudang penyimpanan Perum Bulog yang terbatas, jelas menuntut Perum Bulog untuk berpikir keras dalam melakukan proses penyimpanannya.
Pengalaman pahit ditemukannya beras berkutu di gudang Perum Bulog oleh para Wakil Rakyat yang bertugas di Komisi IV DPR, sepantasnya dijadikan pelajaran berharga agar di masa depan, tidak ditemukan lagi ada beras yang berkutu, atau bau apek atau berwarna kekuning-kuningan dan sejenisnya lagi. Perum Bulog harus semakin profesional dalam melaksanakan kinerjanya.
Proses penyimpanan gabah/beras, tidak kalah pentingnya dengan proses penyeeapan yang digarap saat panen raya tiba. Apalagi jika beras yang disimpannya itu akan dijadikan cadangan beras Pemerintah yang sewaktu-waktu dibutuhkan sekuranya terjadi krisis atau darurat beras. Itu sebabnya, perlakuan Perum Bulog dalam proses penyimpanan ini harus dilakukan dengan optimal.
Akhirnya kita percaya, Perum Bulog sebagai operator pangan yang salah satu tugasnya melakukan pengelolaan cadangan pangan Pemerintah, pasti akan melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Perum Bulog, pasti tidak akan mengecewakan Pemerintah. Kisah sukses penyerapan, pastinya akan dibarengi dengan sukses penyerapannya. Semoga !
***
Judul: Setelah Sukses Penyerapan, Perum Bulog Dituntut Sukses Penyimpanan
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi













