MajmusSunda News – Bandung, Rabu (14/01/2026) – Pameran Lukisan Pohon bertajuk “Pohon Untuk Kehidupan” yang digelar ASPEN (Asosiasi Pelukis Nasional) resmi dibuka Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Pameran ini berlangsung di Thee Huis Gallery (Dago Tea House), Taman Budaya Jawa Barat, Jalan Bukit Dago Selatan No. 53A, Kota Bandung, pada tanggal 10–31 Januari 2026.
Jiwa seniman sangat peka dalam merespons berbagai peristiwa di masyarakat. Kegelisahan itu diungkapkan melalui karya masing-masing: penyair lewat puisi, sastrawan lewat cerpen dan novel, musisi melalui musik, serta pelukis lewat lukisan. Dalam setiap karya tersimpan keindahan, ajakan, pendidikan, bahkan kritik dan perlawanan.
Bencana alam yang belakangan terjadi di berbagai wilayah tanah air pun tak luput dari perhatian para seniman. Hal tersebut tergambar dalam Pameran Lukisan “Pohon Untuk Kehidupan” yang diselenggarakan ASPEN di Thee Huis Gallery, Taman Budaya Jawa Barat. Selain menampilkan keindahan flora, pameran ini juga memuat kritik dan ajakan untuk mencintai alam serta menjaga lingkungan hidup.
Pameran Lukisan Pohon dan Kepedulian Lingkungan
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap isu lingkungan dan kebersihan kota, berkenan hadir membuka pameran tersebut pada Sabtu sore (10/1/2026). Acara pembukaan turut dimeriahkan oleh Tim Kesenian ISBI Bandung.

Dalam sambutannya, Farhan mengungkapkan rasa bangganya sebagai anak Bandung.
“Saya sangat beruntung menjadi anak Bandung yang tumbuh di Bandung, berkarya di luar, lalu kembali memimpin Bandung dan mendapati kota saya menjadi salah satu kota terpadat, bukan oleh manusia, tetapi oleh talenta-talenta terbaik di Indonesia. Terima kasih telah menjadi pemantik kehidupan dan pemantik jiwa-jiwa yang selalu gelisah di Kota Bandung,” ujarnya, disambut tepuk tangan meriah hadirin.
Farhan juga menyinggung anggapan bahwa Bandung kalah dari Yogyakarta dalam kegiatan seni. Namun menurutnya, siapa pun yang ingin belajar dan memahami seni harus terlebih dahulu menginjakkan kaki di Kota Bandung.
Ia menjelaskan bahwa Bandung adalah kota yang terbangun oleh lanskap, yang kemudian memancing orang untuk datang dan berkarya. Fenomena ini disebutnya sebagai swarming, yakni perilaku komunal masyarakat yang berhimpun dan bergerak bersama karena daya tarik tertentu, baik ekonomi maupun budaya, termasuk pendidikan dan aktivitas kreatif.
Menurut Farhan, hal itu pula yang menjadi alasan mengapa perguruan tinggi pertama di Indonesia berdiri di Bandung, yakni ITB (Technische Hoogeschool te Bandoeng) pada tahun 1920. Pada saat yang sama, berdiri pula Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia.
“Di Kota Bandung disadarkan adanya gabungan antara teknologi dan kesenian. Karena berteknologi tanpa kesenian akan menjadikan kita mesin tanpa perasaan, sementara berkesenian tanpa teknologi akan membuat kita tertinggal,” tegasnya.
Farhan juga menyoroti tema pameran “Pohon Untuk Kehidupan” yang dipaparkan Kurator Pameran, Diyanto. Ia menyebut pohon sebagai salah satu sumber kehidupan, termasuk bagi Kota Bandung, dan merasa bangga karena Bandung menjadi salah satu kota dengan densitas pohon perdu terbanyak di Indonesia.
Namun, ia mengakui bahwa sepuluh tahun lalu Kota Bandung hanya memiliki 12,8 persen Ruang Terbuka Hijau (RTH). Saat ini, Pemerintah Kota Bandung tengah berupaya meningkatkan angka tersebut hingga 20 persen. Farhan bahkan mengusulkan agar perhitungan RTH tidak hanya berdasarkan luas lahan, tetapi juga jumlah pepohonan.
“Dengan begitu, RTH Kota Bandung bukan sekadar hamparan, tetapi pohon-pohon yang hadir di antara ruang-ruang kehidupan kita, baik secara fisik maupun harapan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua ASPEN Bandung Raya, Ir. Muhammad Bakrie Baharuddin, berharap pameran ini dapat menghadirkan pengalaman visual yang inspiratif sekaligus mempererat silaturahmi di antara para pecinta seni.
Kurator Pameran, Diyanto, menjelaskan bahwa pameran ini menarik karena meski menggunakan medium yang sama, yakni seni lukis, setiap seniman menawarkan perspektif yang berbeda. Ada yang memulai dari kedekatan personal dengan pohon, pengalaman menanam, kehilangan, atau relasi emosional lainnya.

“Kontribusi terbesar pelukis adalah cara melihat. Yang membedakan adalah bagaimana mereka memasuki bidang datarnya,” jelas Diyanto.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pengguntingan pita oleh Wali Kota Bandung. Para peserta pameran dan tamu undangan memasuki ruang Thee Huis Gallery untuk mengapresiasi karya-karya lukisan bertema “Pohon Untuk Kehidupan”. Pada kesempatan tersebut, Abang Kembang Sepatu dari Jakarta juga menyerahkan lukisan berjudul “Generasi yang Hilang” kepada Wali Kota Bandung, yang diterima dengan gembira dan rencananya akan dipajang di ruang kerja.
Di antara karya yang dipamerkan, terdapat lukisan yang menggambarkan kebakaran hutan yang tengah dipadamkan petugas pemadam kebakaran. Warna merah, jingga, dan kuning mendominasi kanvas, menghadirkan kesan bara api yang mengerikan. Karya tersebut berjudul “Ruhay” (bara api dalam bahasa Sunda) karya Dr. Supriatna.
Menurut Diyanto, karya ini menawarkan perspektif berbeda. Jika pelukis lain menyoroti ancaman lingkungan dari sisi hidrometeorologi, karya Supriatna justru melihatnya dari perspektif antropogenik, yakni kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia seperti penebangan dan kebakaran hutan.

Dr. Supriatna menjelaskan bahwa judul “Ruhay” dipilih untuk menggambarkan titik kulminasi api yang telah menjadi bara. Warna api yang dominan dan pohon yang menghitam menjadi simbol kengerian, sementara figur manusia yang berusaha memadamkan api melambangkan upaya penyelamatan di tengah risiko besar.
“Goresan-goresan dinamis ini mengingatkan bagaimana manusia harus menjaga alam,” ujarnya.
Meski lukisan tersebut dibuat pada tahun 2025, jauh sebelum terjadinya bencana alam di Sumatra, Supriatna menegaskan bahwa esensi pesannya tetap sama: kerusakan alam tidak hanya berdampak pada manusia, tetapi juga hewan, tumbuhan, dan seluruh ekosistem.
Sebagaimana diketahui, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., merupakan seniman sekaligus akademisi, alumni Seni Murni FSRD ITB (S1–S2), serta lulusan S3 Ilmu Komunikasi Seni Pascasarjana Unpad. Saat ini ia menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sistem Informasi, dan Kerja Sama ISBI Bandung. Hingga kini, ia telah menghasilkan ribuan karya lukisan yang dikoleksi di dalam maupun luar negeri.
“Saya melukis hanya untuk mengekspresikan kegelisahan jiwa,” pungkasnya.
Judul: Pameran Lukisan Pohon “Pohon Untuk Kehidupan” ASPEN Dibuka Wali Kota Bandung
Jurnalis: Asep GP
Editor: Parkah












