“Net Consumer”

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Sabtu (02/08/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “”Net Consumer”” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

“Net consumers” atau “konsumen bersih” dalam konteks ekonomi dan perdagangan internasional merujuk pada negara atau entitas yang mengonsumsi lebih banyak barang dan jasa daripada yang mereka produksi sendiri. Ini sering kali diukur melalui neraca perdagangan, di mana nilai impor barang dan jasa lebih besar daripada nilai ekspor.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Dalam konteks lain, “net consumers” bisa juga merujuk pada individu atau kelompok yang menggunakan atau mengonsumsi sumber daya, produk, atau jasa tanpa secara langsung memberikan kontribusi yang setara dalam bentuk produksi atau penciptaan nilai. Makna ini bisa bervariasi tergantung pada konteks spesifiknya, seperti ekonomi, lingkungan, atau sosial.

Catatan kritisnya adalah apakah para petani bisa dikatakan sebagai ‘net consumers’ ? Jawabnya, tidak sepenuhnya benar jika petani padi disebut sebagai “net consumers” dalam arti harfiah. Petani padi adalah produsen yang menghasilkan padi sebagai komoditas pertanian. Mereka menanam, merawat, dan memanen padi untuk dijual atau dikonsumsi sendiri.

Hanya, dalam konteks tertentu, petani padi mungkin membeli input seperti pupuk, pestisida, dan peralatan dari pihak lain, sehingga mereka bisa dianggap sebagai konsumen dalam rantai pasokan pertanian. Tetapi dalam hal produksi padi itu sendiri, mereka adalah produsen, bukan konsumen.

Jadi jika ada pertanyaan apakah petani padi disebut “net consumers”, maka jawabannya akan tergantung pada konteks dan perspektif yang digunakan. Yang pasti, petani padi memang bisa menjadi konsumen beras, terutama saat musim paceklik atau ketika mereka tidak memiliki stok beras yang cukup untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Ini menunjukkan bahwa peran petani tidak hanya sebagai produsen, tetapi juga sebagai konsumen.

Dalam banyak kasus, petani mungkin menjual hasil panen mereka dan kemudian membeli kembali produk yang sama (dalam hal ini, beras) untuk kebutuhan pribadi atau rumah tangga mereka. Ini bisa terjadi karena berbagai alasan, seperti kebutuhan keuangan, kurangnya fasilitas penyimpanan, atau perubahan harga pasar.

Jadi, meskipun petani adalah produsen padi, mereka juga bisa menjadi konsumen beras dalam konteks tertentu. Masalah ini tampak menjadi semakin mengemuka,.setelah kebijakan lumbung padi dalam kehidupan petani mengalami pemudaran yang sangat signifikan. Saat ini, kita akan cukup kesusahan menemukan lumbung padi dalam kehidupan masyarakat petani.

Paling tidak ada lima hal yang membuat lumbung padi mengalami pemudaran dalam kehidupan petani. Kel lima hal tersebut adalah pertama terjadinya perubahan sistem pertanian. Modernisasi pertanian dan penggunaan teknologi dapat membuat petani lebih fokus pada produksi skala besar dan penjualan langsung ke pasar, sehingga mengurangi kebutuhan akan lumbung padi tradisional.

Kedua, komodifikasi pangan. Petani mungkin lebih memilih menjual hasil panen mereka segera setelah panen untuk mendapatkan uang tunai, daripada menyimpannya di lumbung padi. Ketiga kurangnya infrastruktur penyimpanan. Banyak petani mungkin tidak memiliki akses ke fasilitas penyimpanan yang memadai, sehingga mereka lebih memilih menjual hasil panen mereka daripada menyimpannya.

Keempat, perubahan gaya hidup. Petani mungkin lebih memilih membeli beras dari pasar daripada mengolah dan menyimpan padi sendiri. Dan kelima, keterlibatan dalam rantai pasokan global. Petani mungkin lebih terintegrasi dalam rantai pasokan global, sehingga mereka lebih fokus pada produksi untuk pasar ekspor daripada konsumsi lokal.

Faktor-faktor ini dapat menyebabkan lumbung padi tradisional menjadi kurang relevan dalam kehidupan petani modern. Itu sebabnya, menjadi sangat relevan jika budaya lumbung padi ini dihangatkan kembali dalam kehidupan petani. Apalagi setelah Pemerintah mencanangkan pada tahun 2045 nanti, Indonesia berkeinginan menjadi salah satu lumbung pangan dunia.

Jujur kita akui, dalam kehidupan nyata di masyarakat, petani padi biasanya menjual gabah kepada pedagang atau penggilingan padi, dan kemudian pedagang atau penggilingan padi yang mengolah gabah menjadi beras untuk dijual kepada konsumen. Dalam hal ini, petani padi mungkin tidak memiliki kontrol langsung atas harga beras di pasar, karena mereka hanya menjual gabah dan tidak terlibat langsung dalam proses pengolahan dan penjualan beras.

Sebetulnya ada beberapa strategi dasar agar petani tidak menjadi net consumer beras. Paling tidak, ada lima strategi yang dapat dilakukan :
– Pengolahan gabah menjadi beras. Petani dapat melakukan pengolahan gabah menjadi beras sendiri, sehingga mereka dapat menghemat biaya dan meningkatkan pendapatan.

– Pembentukan koperasi. Petani dapat membentuk koperasi untuk mengelola pengolahan dan pemasaran gabah, sehingga mereka dapat memiliki kontrol lebih besar atas harga dan pendapatan.
– Pengembangan usaha pengolahan. Petani dapat mengembangkan usaha pengolahan gabah menjadi beras, sehingga mereka dapat meningkatkan nilai tambah produk dan pendapatan.

– Peningkatan kapasitas penyimpanan. Petani dapat meningkatkan kapasitas penyimpanan gabah, sehingga mereka dapat menyimpan hasil panen dan menjualnya pada saat harga yang lebih baik.
– Diversifikasi usaha. Petani dapat melakukan diversifikasi usaha, seperti mengembangkan usaha pertanian lainnya atau usaha non-pertanian, sehingga mereka dapat meningkatkan pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada satu jenis usaha.

Dengan melakukan strategi-strategi tersebut, petani dapat meningkatkan pendapatan dan mengurangi ketergantungan pada pembelian beras dari luar, sehingga mereka tidak menjadi net consumer beras. Semoga strategi ini akan dijadikan langkah cerdas Pemerintah dalam menekan petani padi untuk jadi net consumers.

***

Judul: “Net Consumer”
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *