Kota Beradab

oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Minggu (04/05/2025) Artikel berjudul “Kota Beradab” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, kota adalah taman peradaban—tempat akal bertemu rasa, logika bersentuhan dengan imajinasi. Namun kota yang hanya dibangun dari batu dan baja akan cepat lelah; ia mungkin bising, tapi terasa sunyi. Ia tampak ramai, tapi miskin makna. Sebab kreativitas, meski tumbuh di denyut urban, sejatinya menyusu pada alam—pada hijau yang menyegarkan, pada tenang yang memberi jeda, pada semesta yang melapangkan batin untuk bernapas.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif, penulis – (Sumber: Instagram)

Kota-kota besar yang mencipta sejarah tahu akan rahasia ini. Mereka tak mengusir pepohonan, tak menutup langit, tak membekap tanah tanpa celah. New York menyimpan Central Park di jantungnya, seperti hati yang menolak membeku. Wina memeluk Wienerwald sebagai tempat berserah dan bersyukur. Tokyo menjaga taman kekaisaran agar warganya tak lupa akan asal-muasal kehidupan.

Sebab kota yang memutus diri dari alam, memutus pula aliran ilham. Tanpa ruang hijau, tanpa tempat menyendiri dan saling menyapa, kreativitas akan layu sebelum sempat mekar. Kota kreatif bukan semata-mata soal industri atau teknologi; ia adalah ruang batin yang diberi bentuk: ruang publik yang mengundang dialog, ruang hijau yang menawarkan jeda. Di sanalah manusia bertumbuh—sebagai warga, sebagai pencipta, sebagai penjaga bumi.

Kota semacam ini menjadi pelabuhan bagi jiwa-jiwa kreatif: mereka yang eksentrik, jenius, gelisah, dan penuh gagasan. Di sana, logika dijalankan bersama etika; estetika hadir dalam keseharian; dan spiritualitas menyala dalam gelap. Literasi bukan sekadar bacaan, tapi cara hidup. Talenta tumbuh karena ada toleransi. Teknologi berpihak karena diarahkan oleh nurani.

Dan dari semua itu, mengalirlah amore patria—cinta tanah air yang tak perlu diteriakkan, karena ia terasa dalam langkah, dalam kerja, dalam dedikasi. Pemimpin pun menjelma penunjuk arah, bukan pemilik arah. Warga menjadi garda, bukan hanya penghuni. Sebab kota bukan sekadar tempat tinggal, tapi tempat menyala—bagi masa depan bersama. Tempat manusia diingat bukan karena gedung yang ia tinggikan, tetapi karena martabat kehidupan yang ia muliakan. Sebab dari nyala itulah, peradaban senantiasa dilahirkan kembali.

***

Judul: Kota Beradab
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *