Jempol Lagi Untuk Perum Bulog

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (19/05/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Jempol Lagi Untuk Perum Bulog” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Perum Bulog melaporkan hingga Mei 2025 serapan beras nasional telah melampaui 2 juta ton. Angka ini tertinggi dalam 57 tahun terakhir. Jelas, hal ini merupakan prestasi yang cukup membanggakan. Capaian sebesar 2 juta ton ini, jelas bukan ujug-ujug turun dari langit, namun Perum Bulog membutuhkan kerja keras dan kerja cerdas untuk menggapainya.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Penyerapan gabah oleh Perum Bulog untuk Panen Raya padi kali ini, betul-betul menjadi taruhan Pemerintah dalam mendukung kebijakan pangan yang ingin diraihnya. Serapan gabah yang tinggi, bukan hanya sekedar untuk mengokohkan cadangan beras Pemerintah, namun juga sebagai pembuktian kepada rakyat bahwa penyetopan impor beras, memang ada dasar yang menopangnya.

Impor beras dihentikan, karena produksi beras dalam negeri berlimpah dan cadangan beras Pemerintah pun terlihat cukup kokoh. Itu sebabnya, Pemerintah tampak percaya diri dan tidak perlu lagi menerapkan kebijakan impor beras. Selamat tinggal impor beras dan selamat datang swasembada beras menuju kemandirian beras yang lebih berkualitas.

Dari sisi pengelola Perum Bulog pun Pemerintah telah melakukan bongkar pasang kepada para petinggi Perum Bulog. Dewan Pengawas dan Dewan Direksinya dirombak untuk dapat mewujudkan serapan gabah sebesar-besarnya. Direktur Utama Perum Bulog yang baru menjabat sekitar 5 bulan, terpaksa harus diganti agar penyerapan gabah bisa lebih optimal.

Tak ketinggalan, Ketua Dewan Pengawas dan beberapa Anggota Dewan Pengawas juga dirombak, sehingga diharapkan akan terjadi irama yang sama dalam mewujudkan serapan gabah setinggi-tingginya itu. Bongkar pasang para petinggi Perum Bulog ini, bukan hanya ditempuh sebagai bentuk penyegaran, tapi ysng lebih utama lagi adalah adanya komitmen yang jelas dan tegas dari para pengelola Perum Bulog itu sendiri.

Menarik untuk dicermati adalah pengangkatan TNI aktif berpangkat Mayor Jendral sebagai Direktur Utana Perum Bulog. Selain itu, dengan dibentuk dan diangkatnya Direktur Pengadaan dalam struktur kelembagaan Perum Bulog, memperlihatkan para penentu kebijakan di bidang pangan, benar-benar ingin memerankan Perum Bulog menjadi operator pangan yang handal dan piawai.

Apa yang diharapkan kini terjawab sudah. Setelah kurang lebih 4 bulan meminpin Perum Bulog, Bung Novi dan kawan-kawan mampu memperlihatkan kinerja terbaiknya. Dengan dukungan penuh dari regulator pangan, Perum Bulog mampu menyerap gabah petani dengan angka cukup signifikan. Menyerap 2 juta ton beras merupakan prestasi yang perlu diberi acungan jempol tinggi-tinggi.

Hebatnya lagi, ternyata dalam panen raya kali ini pun para petani berduyun-duyun menjual gabah hasil panennya kepada Perum Bulog. Ini jelas sebuah trend baru, yang menunjukan persahabatan sejati antara Perum Bulog dengan petani mulai terbangun kembali. Petani kembali mempercayai Perum Bulog sebagai offtaker gabah yang profesional.

Diselisik lebih dalam, ada beberapa alasan mengapa Perum Bulog mampu menyerap gabah petani dengan angka cukup tinggi. Pertama, karena ada aturan dan kebijakan yang membebaskan petani untuk menjual gabah hasil panennya tanpa dibebani dengan persyaratan kadar air dan kadar hampa tertentu. Babagaimana pun kualitas gabah yang dijual petani, Perum Bulog wajib membelinya.

Kedua adanya kebijakan satu harga gabah yang ditetapkan Pemerintah. Artinya dengan mematok Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp. 6500,- per kg, petani tidak perlu was-was harga jualnya akan jatuh seperti di masa lalu. Pemerintah menjamin Perum Bulog akan membelinya, minimal pada angka HPP gabah yang telah ditetapkan.

Ketiga karena adanya dukungan nyata dari Presiden Prabowo yang secara langsung memantau perkembangan penyerapan gabah petani oleh Perum Bulog ini. Presiden ingin agar kebijakannya ini dijalankan dengan penuh tanggungjawab. Bahkan dalam satu kesempatan Presiden memberi peringatan keras kepada Penggilingan yang membeli gabah petani dibawah angka Rp. 6500,-

Setidaknya, tiga alasan inilah yang mampu memacu Perum Bulog menggenjot penyerapan gabah petani agar memenuhi target yang dibebankan nya. Dengan pengalaman panjang sekitar 58 tahun sejak Bulog didirikan, Keluarga Besar Perum Bulog seluruh Indonesia, sepertinya ingin memberi bikti bahwa penugasan Pemerintah ini mampu dilaksanakan dengan baik.

Perum Bulog sendiri, kini telah membuktikan. Tugas yang dibebankan, sudah tercapai. Keserempakan Dewan Pengawas dan Dewan Direksi Perum Bulog, benar-benar membuat para petinggi Perum Bulog di daerah untuk sama-sama berjuang mencapai target. 2 juta ton serapan merupakan lonjakan cukup membanggakan, mengingat serapan selama ini rata-rata sntara 1 hingga 1,2 juta ton saja.

Namun begitu, setelah sukses dalam melakukan penyerapan gabah petani, bukan berarti Perum Bulog boleh berkeha-leha. Di depan mata kini tampak tugas berat lain telah menunggunya. Perum Bulog kini ditantang untuk dapat melakukan proses penyimpanan gabah/beras yang lebih baik dan profesional. Bangsa ini tidak mau lagi mendengar ada beras berkutu di gudang Perum Bulog.

Semoga rumusan ‘sukses penyerapan = sukses penyimpanan’, akan menjadi semangat Keluarga Besar Perum Bulog dalam menampilkan diri sebagai operator pangan yang keren dan handal.

***

Judul: Jempol Lagi Untuk Perum Bulog
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *