GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-46: “Situ Lembang Sisa Kaldera Sunda Purba, dan Evolusi Gunung Tangkubanparahu dari Gunung Jayagiri”

Oleh: Oman Abdurahman

Situ Lembang

MajmusSunda News – Bandung, Kamis (22/10/2026) – SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah jalinan panorama hidrogeomorfologi, historiografi kataklimik vulkanik, dan warisan teknologi tata kelola air yang mengunci eksistensi danau pegunungan Situ Lembang melalui kacamata geoliterasi kritis. Diuraikan posisi geografis serta jalur pasokan dan pengeluaran fluida danau, silsilah evolusi rupa bumi Tatar Pasundan yang melintasi tiga generasi gunung api sejak masa purba Jayagiri, bersanding dengan penanggalan waktu erupsi pemancung kawah purba, kekayaan keanekaragaman hayati raksasa sabuk hijau penangkap kabut, pesona pohon kao dan anggrek-anggrekan liar, jejak modernisasi infrastruktur pembendungan mekanis peninggi volume air, hingga epilog kebangsaan berupa seruan konservasi mutlak cagar biosfer demi menegakkan daulat hukum lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

1. Bejana Hidrologis Langit: Geografi Spasial, Dimensi Fisik, dan Trayek Aliran Air Situ Lembang Saat Ini

Menjelajahi sasis perairan dataran tinggi di utara Cekungan Bandung mengarahkan pandangan geowisata kita pada sebuah bentang danau pegunungan yang sangat memukau, yaitu Situ Lembang. Secara geografis, danau ini terkurung pada elevasi seribu lima ratus enam puluh meter di atas permukaan laut, menempati wilayah administrasi perbatasan antara Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang. Danau pegunungan ini memiliki bentang luas permukaan air sekitar enam puluh hektare dengan volume tampungan air ditaksir antara dua sampai empat juta meter kubik. Pasokan fluida masuknya didominasi oleh tangkapan curah hujan tinggi serta rembesan mata air hulu, sementara limpasan air keluarnya mengalir menuju hilir menjadi hulu utama Sungai Cisarua. Mungkin juga ada aliran yang menuju Situ Wanayasa di hulu Purwakarta. Melalui pisau analisis hidrogeomorfologi, alur keluar tersebut mengalir ke arah timur melintasi wilayah Cisarua melalui Sungai Cisarua. Di sepanjang alirannya, terdapat banyak air terjun (curug), yaitu Curug Siweh, Curug Bugbrug, Curug Cimahi, dan Curug Panganten, yang selanjutnya bermuara ke Citarum di Leuwigajah, Cimahi. Sebagian airnya meresap menjadi air tanah dalam yang memasok sumur artesis dan sumur dalam di lereng bawahnya.

2. Silsilah Menara Api Pasundan: Lintasan Evolusi Kronologis dari Jayagiri Menuju Tangkubanparahu

Kemegahan lanskap yang membentang di sekeliling Situ Lembang merupakan produk panjang dari fase evolusi vulkanisme Kuarter Tatar Sunda yang mengalami perulangan siklus pertumbuhan dan kehancuran kerucut gunung api. Fase awal kegunungapian dimulai oleh aktivitas purba Gunung Jayagiri yang berdiri kokoh pada masa Pleistosen sebelum akhirnya mengalami letusan dahsyat sekitar lima ratus ribu tahun lalu yang memicu lahirnya Gunung Sunda Purba. Gunung Sunda Purba kemudian tumbuh meraksasa hingga mencapai ketinggian ribuan meter sebelum akhirnya meletus hebat dan ambruk pada seratus lima ribu tahun silam, yang kelak menjadi rahim runtuhan tempat lahirnya kerucut Gunung Tangkubanparahu sembilan puluh ribu tahun lalu. Perpindahan dinamis titik erupsi kawah dari barat ke timur melahirkan morfologi unik laksana perahu terbalik, jauh sebelum letusan muda freatik melanda kawasan puncak sekitar sepuluh ribu tahun lalu. Rentetan rentang waktu kataklimik vulkanik inilah yang membidani pembentukan morfologi geologi kawasan sekitarnya, termasuk sasis benteng tebing Gunung Burangrang.

3. Suaka Megabiodiversitas Pegunungan: Jalinan Pohon Kao, Rumpun Anggrek-Anggrekan, dan Komponen Hayati Hutan Hujan

Kelestarian wadah abiotik tanah vulkanik dan air di wilayah tinggi ini melahirkan jalinan interaksi biotik yang teramat kaya berupa laboratorium hidup keanekaragaman hayati hutan hujan tropis pegunungan atas. Di dalam sabuk hijau subur yang melingkari permukaan danau, komponen flora tumbuh sangat rapat, didominasi oleh tegakan pohon raksasa warisan hutan purba seperti pohon rasamala, puspa, saninten, ketangguhan rumpun pohon kao, hingga pesona keindahan anggrek-anggrekan liar yang menempel asri di kulit pepohonan terpencil. Hamparan vegetasi penangkap kabut yang lebat ini bertindak sebagai benteng bioindikator ekologis yang sangat valid, menyediakan ruang suaka hidup yang aman bagi kawanan fauna endemik Tatar Sunda, seperti burung elang Jawa, kera ekor panjang, hingga mamalia tangguh macan tutul Jawa. Kehadiran ratusan spesies flora dan fauna terlindung di sekeliling Situ Lembang ini membuktikan bahwa wilayah hulu kaldera bukan sekadar bentang alam statis, melainkan sebuah ekosistem penyangga kehidupan makro yang wajib dijaga kemurnian biologisnya dari segala bentuk pencemaran zat kimia luar.

4. Rekayasa Hidrolik Transisi Zaman: Struktur Pembendungan Mekanis dan Optimalisasi Pemanfaatan Teritorial

Daya tarik Situ Lembang melompat ke tingkat yang teramat istimewa karena menyimpan lapisan jejak rekayasa teknologi penataan air modern yang dibangun di atas struktur depresi alami purba. Secara hidrogeologi, Situ Lembang sejatinya merupakan danau alami sisa lantai kaldera yang ditingkatkan volume tampungan airnya secara buatan melalui pembangunan bendungan mekanis oleh manusia sejak masa kolonial (1911). Tindakan pembendungan pejal dan peninggian tanggul di mulut keluar sungai ini berhasil mengunci dan menaikkan tinggi muka air secara signifikan guna menjamin ketersediaan cadangan air baku tahunan. Pada era kontemporer saat ini, pemanfaatan waduk alami terintegrasi tersebut dikembangkan secara strategis, bertindak sebagai pangkalan latihan taktis pertempuran hutan pasukan khusus militer sekaligus menyuplai pasokan utilitas air bersih bagi sektor agrikultur perkebunan dan domestik perkotaan di bawahnya.

5. Epilog Geowisata: Refleksi Teater Alam Kaldera Purba, Manifesto Konservasi Air Hulu, dan Daulat NKRI

Pada akhirnya, penjelajahan geoliterasi kritis di sekeliling Situ Lembang menyajikan sebuah teater alam kaldera purba yang menawan, menyandingkan keindahan estetika lanskap dengan kampanye gerakan konservasi air tanah secara konsisten. Berdiri di tepi danau sunyi ini memaksa imajinasi kita untuk membayangkan kembali kedahsyatan letusan masa lalu yang materialnya membentuk sasis Cekungan Bandung, sebuah memori bumi yang secara jenius telah diupayakan penuturannya oleh para leluhur melalui balutan legenda Sangkuriang mengenai pembendungan sungai purba. Menolak segala bentuk eksploitasi properti komersial yang merusak kelestarian air kaldera dan menegakkan hukum tata ruang wilayah lindung secara ksatria adalah tindakan bela negara ekologis yang mutlak demi mencegah banjir di hilir. Merawat kemurnian laboratorium vulkanik purba ini adalah janji suci kita bersama untuk memantik api literasi sains bagi generasi masa depan serta menjaga martabat tertinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia melintasi badai dunia!

Catatan:

Terima kasih kepada Yth. Pak Rukanda, anggota grup WA DPLKTS, atas tambahan informasinya.

#GeowisataNusantara
#SeriBS-46
#SituLembangKaldera #EvolusiGunungSunda #GunungJayagiriPurba #GunungTangkubanparahu #PohonKaoLembang #AnggrekLiarJawaBarat #HidrologiSungaiCisarua #Letusan10RibuTahunLalu #PerahuTerbalikMorfologi #KonservasiAirHulu #BelaNegaraEkologis #KedaulatanSainsNKRI
#OmanAbdurahman #GeoliterasiKritis #MitologiSangkuriang #KopassusSituLembang

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-46: “Situ Lembang Sisa Kaldera Sunda Purba, dan Evolusi Gunung Tangkubanparahu dari Gunung Jayagiri”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *