MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Selasa (19/05/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Euphoria Peningkatan Produksi Beras” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Euphoria adalah perasaan bahagia atau gembira yang sangat intens dan berlebihan, seringkali disertai dengan perasaan euforia atau kegembiraan yang tidak terkendali. Euphoria dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pencapaian tujuan atau keberhasilan yang signifikan. Bisa juga karena mengalami pengalaman positif, seperti pernikahan, kelahiran anak, atau keberhasilan dalam karier.

Penggunaan zat-zat tertentu, seperti narkoba atau alkohol, dapat menyebabkan perasaan euphoria. Dan melakukan kegiatan yang cukup menyenangkan, seperti olahraga, musik, atau seni. Euphoria dapat memiliki efek positif, seperti meningkatkan motivasi dan kebahagiaan, namun juga dapat memiliki efek negatif jika berlebihan atau tidak terkendali.
Lalu, apa yang dimaksud dengan euphoria peningkatan produksi beras ? Euphoria peningkatan produksi beras dapat diartikan sebagai perasaan bahagia, gembira, dan puas yang dirasakan oleh petani, pemerintah, atau masyarakat ketika produksi beras meningkat secara signifikan.
Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti pertama, peningkatan hasil panen. Meningkatnya hasil panen beras dapat meningkatkan pendapatan petani dan meningkatkan ketersediaan pangan. Kedua, kemakmuran petani. Peningkatan produksi beras dapat meningkatkan kemakmuran petani dan masyarakat sekitar. Ketiga, kemandirian pangan. Meningkatnya produksi beras dapat meningkatkan kemandirian pangan suatu negara atau wilayah.
Keempat, pengakuan dan apresiasi. Peningkatan produksi beras dapat membawa pengakuan dan apresiasi bagi petani, pemerintah, dan masyarakat. Euphoria peningkatan produksi beras dapat memotivasi petani dan pemerintah untuk terus meningkatkan produksi dan kualitas beras, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Euphoria peningkatan produksi beras dapat memiliki efek baik dan buruk, tergantung pada konteks dan situasi. Hal ini akan berdampak baik, karena euphoria dapat memotivasi petani dan pemerintah untuk terus meningkatkan produksi dan kualitas beras. Kemudian, peningkatan produksi beras dapat meningkatkan kemandirian pangan suatu negara atau wilayah sekaligus
dapat meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat sekitar.
Sebaliknya, euphoria dapat berdampak buruk kalau terjadi kurangnya perhatian pada masalah lain. Euphoria dapat membuat petani dan pemerintah kurang memperhatikan masalah lain, seperti kualitas beras lingkungan, dan distribusi yang merata. Bisa juga kurangnya persiapan untuk tantangan Euphoria dapat membuat petani dan pemerintah kurang siap untuk menghadapi tantangan, seperti perubahan cuaca, hama, atau penyakit tanaman.
Dan uphoria dapat membuat petani dan pemerintah terlalu fokus pada produksi beras, sehingga mengabaikan diversifikasi tanaman dan kegiatan ekonomi lainnya. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan dan memperhatikan berbagai aspek dalam meningkatkan produksi beras. Pendekatan sektor perlu disempurnakan dengan pendekatan multi-sektor dan multi-aktivitas.
Produksi beras yang meningkat cukup signifikam saat panen raya kali ini, tentu perlu disambut dengan suka hati. Bukan saja hal ini merupakan pembuka kunci ke arah pencapaian swasembada pangan, tapi juga msmpu menjadikan Indonesia sebagai “raja beras” di kawasan ASEAN. Ptoduksi beras negara kita, jauh diatas produksi beras Thailand dan Vietnam.
Akan tetapi kita harus tetap ingat, yang namanya pangan, bukam hanya beras. Pangan menyangkut banyak komoditas. Itu sebabnya, menjadi salah besar, jika Indonesia sudah nampu meraih swasembada beras, seolah-olah pencapaian swasembada pangan sudah selesai. Lebih parah lagi jika ada diantara kita yang bersikap euphoria menyongsong tercapainya peningkatan produksi beras yang spektakuler ini.
Kalau benar proyeksi Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), yang menyebut produksi beras nasional 2025 mencapai 34,6 juta ton, maka gambaran ini benar-benar sangat mengejutkan. Apalagi jika produksi beras ini dibandingkan dengan produksi beras tahun 2024 sebesar 30,4 juta ton. Artinya terjadi lonjakan produksi sekitar 4 juta ton atau naik hampir 11 %.
Kisah sukses ini, tentu bukan hanya disambut dengan acungan jempol tinggi-tinggi, namun yang lebih penting untuk dilakukan adalah melakukan perenungan apakah di tahun-tahun mendatang kita akan mampu menjaga dan mempertahankannya ? Apakah kita sudah siap, sekiranya iklim dan cuaca lagi-lagibeksyrim dan tidak berpihak lagi ke sektor pertanian, seperti yang terjadi beberapa tahun lalu ?
Inilah sesungguhnya ‘pe-er’ yang cukup berat untuk digarap. Terlebih ada fenomena dalam kehidupan bahwa mempertahankan sesuatu itu lebih susah ketimbang saat kita mencapainya. Upaya menggenjot produksi beras adalah proses panjang ysng harus dilalui dengan kerja keras dan kerja cerdas. Banyak juga korbanan yang harus diberikan.
Untuk itu, agar prestasi yamg sangat membanggakan ini dapat kita lestarikan, maka tidak bisa tidak, kita harus tampil lebih produktif, kreatif dan inovatif lagi. Perjuangan meningkatksn produksi dan produktivitas pertanian, kuncinya tetap berujung pada kemampuan kita dalam merebut ilmu pengetahuan dan teknologi. Tanpa itu, pasti kita akan tertinggal.
Bagi bangsa kita swasembada beras adalah sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditunda-tunda lagi. Swasembada beras merupakan “harga mati” ysng tak bisa ditawar-tawar lagi. Itu sebabnya, menjadi sangat masuk akal, bila Presiden Prabowo sendiri memzntau langsung kejadian pznen raya padi kali ini. Presiden ingin memastiksn, peningkatan produksi beras dan pendapatan petani, bukan lagi hanya sebatas omon-omon belaka.
Tidak lama lagi panen raya musim tanam Ok-Mar 2025 akan berakhir. Kini Pemerintah telah mencanangkan tanam raya untuk musim tanam Ap-Sep 2025. Kita berharap keberhasilan menggenjot produksi beras yang diraih sekarzng, akan dapat ditingkatkan dalam musim panen mendatang. Kita harus optimis, semangat ini akan dapat dieujudkan dalam kehidupan petani di lapangan.
***
Judul: Euphoria Peningkatan Produksi Beras
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












