MajmusSunda News – Bandung, Minggu (04/10/2026) – SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah jalinan historiografi purbakala, sebaran industri alat batu prasejarah, dan keterikatan budaya sosiokultural yang mengunci kawasan Dago Pakar melalui kacamata geoliterasi kritis. Diuraikan kepeloporan dua peneliti Jerman dalam melacak hunian prasejarah di tepian Danau Bandung Purba bersanding dengan cagar arsip Badan Geologi, rekam jejak situs perbengkelan alat batu berskala raksasa di dataran tinggi Dago, poros distribusi geologis bahan baku batu kaca hitam dari Nagreg, rekonstruksi etimologi toponimi bahasa Sunda dari kata pakarang menjadi nama Dago Pakar, hingga epilog kebangsaan berupa manifestasi edukasi wisata bumi demi membentengi kedaulatan sains Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1. Fajar Arkeologi Pasundan: Kepeloporan Dua Peneliti Jerman di Tepian Danau Bandung Purba
Membaca lembaran antropologi purba di Tatar Sunda mengarahkan perhatian geowisata kita pada dedikasi riset perintis yang membuka tabir peradaban manusia prasejarah di sekeliling Cekungan Bandung. Sejarah arkeologi nasional mencatat bahwa pada tahun seribu sembilan ratus tiga puluh lima, dua peneliti berkebangsaan Jerman, yakni Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald dan A. Rothpletz, memelopori pengumpulan ribuan fragmen alat batu prasejarah di sepanjang sabuk utara. Melalui ketelitian analisis lapangan, mereka berhasil membuktikan bahwa garis kontur elevasi tujuh ratus meter di atas permukaan laut merupakan zona hunian padat manusia purba yang beraktivitas aktif di tepian Danau Bandung Purba. Temuan monumental dua naturalis Eropa ini bertindak sebagai sasis ilmiah paling awal yang meruntuhkan dogma lama, sekaligus menegaskan secara internasional bahwa Tatar Bandung merupakan salah satu surga kebudayaan era Pleistosen Akhir hingga Holosen yang teramat kaya di Nusantara. Arsip dari sebagian laporan dan catatan penelitian kedua ahli tersebut tersimpan rapat di perpustakaan Pusat Survei Geologi, Badan Geologi di Bandung, mengunci legasi intelektual berharga bagi kedaulatan sains nasional.
2. Bengkel Kerja Zaman Batu: Denyut Industri Peralatan Prasejarah di Dataran Tinggi Dago
Torehan sejarah kebudayaan material tersebut meninggalkan jejak fisis yang teramat masif dan terkunci kokoh di dalam tanah perbukitan Dago Utara. Kawasan perbukitan terjal yang mengapit aliran hidrologi Sungai Cikapundung ini merupakan situs perbengkelan atau pabrik pembuatan alat batu prasejarah terbesar di sekeliling mangkuk Cekungan Bandung. Di laboratorium alam terbuka ini, manusia purba melangsungkan aktivitas manufaktur massal, memahat batuan secara genius menjadi deretan perkakas tajam guna menunjang kelangsungan hidup harian. Posisinya yang bertengger strategis di atas tebing tinggi menyediakan keuntungan spasial yang menawan, memberikan sudut pandang luas bagi komunitas komunal awal untuk mengawasi pergerakan kawanan binatang buruan serta memantau fluktuasi pasokan air di dasar danau purba bawah.
3. Poros Logistik Magmatik: Distribusi Batu Obsidian Nagreg dan Keragaman Bahan Baku Purba
Tingginya produktivitas industri perkakas di Dago Pakar mustahil tercapai tanpa adanya jaringan pasokan logistik bahan batuan bermutu tinggi yang didistribusikan melintasi ruang dan waktu. Analisis petrologi membuktikan eksistensi poros logistik purba Nagreg–Dago, di mana batu obsidian atau batu kaca hitam hasil pembekuan cepat magma vulkanik dibawa dari wilayah timur menuju perbengkelan Dago untuk dipahat. Batu obsidian Nagreg menjadi primadona utama karena sifat fisiknya yang sangat keras, tetapi mudah dipecah membentuk tepian tajam laksana silet batuan alami yang sempurna. Selain mengandalkan pasokan batu kaca hitam dari poros timur tersebut, manusia purba Dago secara adaptif memanfaatkan keragaman bahan baku lokal lainnya yang tersingkap di sekitar alur Cikapundung, memanfaatkan bongkahan lava andesit tegap, tufa kersikan, hingga batuan basal pejal untuk dirajut menjadi kapak perimbas dan alat serpih serbaguna.
4. Metamorfosis Bahasa Bumi: Etimologi Kata Pakarang dan Toponimi Historis Dago Pakar
Untaian fosil budaya alat batu yang bertebaran di bukit utara ini menyublimasikan jejak fisisnya ke dalam memori bahasa lokal yang mengunci identitas ruang secara abadi. Secara toponimi dan etimologi Sunda purba, nama Pakar pada kawasan Dago Pakar secara autentik berakar dari kosakata pakarang yang bermakna peralatan atau senjata buatan manusia. Penamaan kultural yang diwariskan secara turun-temurun oleh sesepuh adat ini menjadi fosil bahasa yang sangat valid, merekam ingatan kolektif bahwa perbukitan tempat mereka menunggu atau dago merupakan tempat berkumpulnya para pembuat pakarang prasejarah. Penggabungan dua kata historis ini melahirkan nama Dago Pakar, sebuah toponimi genius yang menyatukan fungsi spasial taktis bersanding legasi industri kuno, menggeser pemahaman romantis selintas menjadi sebuah narasi bumi yang hidup dan teramat berwibawa di bawah naungan menara ilmu purbakala.
5. Epilog Geowisata: Refleksi Peradaban Mangkuk Bandung, Gerakan Sains Warga, dan Daulat NKRI
Pada akhirnya, penjelajahan geoliterasi kritis menyusuri rekam jejak batu kaca hitam dan asal-usul kata pakarang membawa kita pada satu manifesto tertinggi mengenai pentingnya merawat pusaka arkeologi secara konsisten. Situs sejarah Dago Pakar tidak boleh dibiarkan mandek sebagai komoditas pariwisata massal kapitalistik yang malas, atau hancur tergilas oleh syahwat pembangunan beton apartemen yang merusak sempadan resapan air. Mengembangkan rute geowisata edukasi berbasis sains warga secara aktif merupakan langkah taktis untuk memicu lahirnya calon-calon arkeolog masa depan yang mencintai dan menjaga rahasia sejarah Cekungan Bandung. Menolak alih fungsi lahan cagar budaya dan menegakkan hukum tata ruang lindung secara ksatria adalah tindakan bela negara ekologis yang mutlak. Merawat kemurnian sasis perbengkelan batu purba ini adalah janji suci kita bersama demi membentengi hak intelektual generasi penerus serta menjaga martabat tertinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia melintasi badai zaman!
#GeowisataNusantara #SeriBS-11 #RahasiaPakarangDago #BatuKacaHitam #ToponimiDagoPakar #VonKoenigswald #BadanGeologiBandung #ArkeologiCekunganBandung #DanauBandungPurba #PorosNagregDago #AlatBatuPrasejarah #BelaNegaraEkologis #KedaulatanSainsNKRI #OmanAbdurahman #GeoliterasiKritis #CagarBudayaArkeologi #SainsWargaBandung

Judul: Geowisata Nusantara Seri #BS-11: Rahasia “Pakarang” Dago Utara: Fajar Industri Batu Kaca dan Fosil Bahasa Dago Pakar
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Parkah












