MajmusSunda News, Cirebon, Selasa, (3/11/2026)-Sebelum ke Cirebon Syekh Syarif Hidayattullah menuju ke Demak dulu. Di Demak Syekh Syarif Hidayatullah menemui para alim ulama Islam yang sering berkumpul di Demak, saat itu Demak masih wilayah kabupaten (bawahan Majapahit).
Ia memohon restu dari pamannya Ali Rahmatullah (Raden Rahmat) atau Sunan Ampel dan meminta ijin untuk menyebarkan Islam.
Niat Syekh Syarif Hidayatullah datang ke Cirebon disambut gembira oleh para sesepuh dan didukung sepenuhnya oleh para wali Islam (Wali Songo).
Setelah digelar musyawarah para wali Syekh Syarif Hidayatullah dipandang sebagai pigur yang paling tepat untuk menyebarkan Islam di Tatar Sunda (Jawa Barat).
Setelah dari Demak dan mendapat restu dari para ulama Demak (wali Songo) sekitar pada tahun 1470. Syekh Syarif Hidayatullah Putra Nyi Ratu Mas Rara Santang, Cucu Prabu Siliwangi Bertolak ke Cirebon.
Dikutip dari buku Sejarah Perintisan Penyebaran Islam di Tatar Sunda karya Drs. Yuyus Suherman, karena adanya dukungan dari latar belakang sejarah kehidupan keluarganya yang merupakan penguasa di Tatar Sunda.
Hal ini merupakan modal pokok yang bisa dijadikan untuk landasan perjuangan menyebarkan Islam di Tatar Sunda dan namanyapun ditetapkan menjadi Syarif Hidayatullah. Setelah beberapa lama di Demak, Syekh Syarif Hidayatullahberangkat menuju Pakungwati (Cirebon).
Namun sebelumnya ia menjelajah dulu Tatar Sunda untuk mempelajari keadaannya. Setelah beberapa lama menjelajah Tatar Sunda ia menuju perguruan Islam di Amparan Jati guna menemui bibinya (Halmah, kakak ayahnya yang jadi istri Syekh Datuk Kahfi).
Di sini ia bertemu dengan Maulana Abdurrahman (Syarif Abdurrahman) atau dikenal dengan nama Pangeran Panjunan dan adiknya Maulana Abdurrahim dikenal dengan nama Pangeran Kejaksaan.
Mereka adalah putra Sultan Bagdad yang meninggalkan negerinya karena berselisih faham dengan ayahnya yang telah mengikuti aliran mistik tarikat Birahi (Kajabariah).
Dari Amparan Jati barullah Syek Syarif Hidayatullah menuju Pakungwati (Cirebon). Kedatangan Syekh Syarif Hidayatullah di Pakungwati disambut gembira warga Cirebon, Taka lama setelah itu ada di sana Ibunya, Syarifah Modain datang menyusul karena Syarif Abdullah (ayahnya) telah wafat. Selanjutnya ia giat menyebarkan Islam di Cirebon.
Sementara itu di Majapahit sejak wafatnya Maha Patih Gajah Mada (1364 M) dan Prabu Hayam Wuruk (1389 M) pamor dan kekuasaannya Majapahit terus menurun. Puncaknya pada tahun 1478 M Raden Fatah Bupati Demak dengan dukungan Wali Songo menyerang Majapahit.
Penyerangan itu sendiri bagi Raden fatah memang didasari alasan yang kuat, guna menegakkan kembali pamor keturunan asli Majapahit. Karena sejak wafat ayahnya Prabu Kertawijaya (Brawijaya V) pada tahun 1451 M (1447-1451 M). Majapahit terus dilanda kamelut dan kekacauan.
Akhirnya yang tampil ke depan sebagai pemegang kekuasan Girindrawardana dari Keling Kediri. Girindrawardana pada tahun 1478 M berhadapan dengan pasukan Islam di bawah pimpinan Raden Fatah.
Penyerangan Raden Fatah ke ibukota kerajaan Majapahit berhasil merebut tahta kerajaan Majapahit jatuh ke tangan Raden Fatah. Trowulan (Troloyo) dapat dikuasai tetapi bukan berarti Majapahit runtuh total.
Karena setelah itu Majapahit masih sempat berdiri di Keling (Kediri), kemudian kahuripan di dibawah kekuasaan Girindrawardana (1478 M-1498 M) dan Prabu Udara (1498 M-1518 M).
Pada tahun 1500 M atas dukungan rakyat dan Wali Songo diumumkan resmi berdirinya Kerajaan Demak merdeka dengan Bintara sebagai pusat ibukotanya.
Raden Fatah sebagai raja pertamanya mendapat gelar Senopati Jimbun Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidina Panatagama Pada tahun 1518 M serangan kedua dilakukan ke Majapahit (Kahuripan) dan tahun ini merupakan runtuhnya Majapahit.
Kembali ke Syarifa Modain ibunda Syekh Syarif Hidayatullah Ia wafat di Pakungwati dan dipusarakan di Astana Gunung Jati Cirebon












