MajmusSunda News, Bogor, 20/12/25 – Tanggal 13 Juli 2009. Pagi di Nurabi selalu datang dengan cara yang tidak tergesa. Kabut turun seperti napas panjang bumi yang sedang berzikir, menyentuh pucuk-pucuk padi, lalu menghilang perlahan ketika matahari menemukan jalannya. Dua gunung berdiri sebagai saksi tua: yang satu menghamparkan aroma kopi pahit—rasa kerja dan kesabaran—yang satu lagi menumbuhkan tembakau—rasa getir yang mengajarkan manusia tentang jeda dan pengendalian.
Di tengah lanskap itulah Kang Asaka hidup. Rumahnya sederhana, berdiri di antara sawah yang airnya mengalir bening, seolah tahu bagaimana menjaga arah tanpa gaduh. Kang Asaka bukan seorang kiai, bukan pula terapis yang memasang papan nama. Ia hanyalah pembelajar sepanjang hayat—seorang pendengar yang percaya bahwa setiap luka memiliki bahasanya sendiri.
Sudah seribu satu masalah singgah di hadapannya. Masalah keluarga, iman, kehilangan, dan cinta. Dalam perjalanan hidupnya, ia belajar satu hal: bahwa manusia tidak benar-benar mencari solusi; mereka mencari “penghapusan”—penghapusan rasa bersalah, luka lama, dan gambaran palsu tentang diri sendiri.
Pada hari itu, Kang Asaka meninggalkan Nurabi menuju Jakarta. Kota yang tidak mengenal diam. Kota yang tumbuh dari beton dan kecepatan. Ia datang memenuhi undangan Kiblat Wisata Nusantara, memberi nasihat kepada calon jamaah umrah—tentang perjalanan lahir yang hanya akan berarti bila batin bersedia dikosongkan.
Di Jakarta pula, hidup seorang perempuan bernama Mbak Sela. Dokter spesialis kandungan, mapan, rasional, terhormat. Rumahnya berdiri di pusat kota, tertata rapi, namun menyimpan ruang-ruang sunyi yang tak terjamah ilmu medis. Ia menikah dengan Mas Hadi—seorang profesor kedokteran yang lebih tua darinya, dahulu dosen, kini suami.
Waktu telah membuat tubuh Mas Hadi renta. Sementara tubuh Mbak Sela masih penuh denyut kehidupan. Di sanalah konflik mulai bersembunyi: di celah antara kebutuhan biologis, kesetiaan, dan rasa bersalah yang tak berani diberi nama.
Pertemuan Mbak Sela dan Kang Asaka tidak pernah direncanakan sebagai peristiwa penting. Namun sebagaimana debu yang tampak ketika cahaya masuk, pertemuan itu perlahan membuka apa yang selama ini disembunyikan batin.
Mbak Sela pertama kali mendengar suara Kang Asaka bukan dari nasihat, melainkan dari jeda di antara kata-katanya. Ada ketenangan yang tak memaksa. Ada ruang yang membuatnya berani bernapas lebih dalam.
Pertemuan kedua, ia mulai duduk lebih dekat. Pertemuan ketiga, ia tidak lagi berbicara sebagai dokter, melainkan sebagai perempuan.
“Saya merasa bersalah, Kang,” katanya lirih. “Tapi lebih dari itu, saya merasa kosong.”
Kang Asaka tidak menatapnya lama. Ia tahu, bagi jiwa yang terluka, tatapan bisa terasa seperti penghakiman.
Mbak Sela bercerita tentang Mas Hadi—tentang cinta yang berubah menjadi perawatan, tentang ranjang yang menjadi simbol jarak. Ia juga bercerita tentang dokter muda. Tentang perasaan hidup kembali. Tentang tubuh yang kembali diakui. Tentang malam ketika ia melanggar batas yang ia yakini.
“Saya tahu ini salah,” katanya sambil menahan air mata. “Dan sejak itu, saya merasa diri saya retak.”
Kang Asaka menghela napas.
“Rasa bersalah adalah tanda bahwa nurani masih hidup,” ujarnya. “Yang berbahaya bukan salah, tapi pembenaran.”
Ia tidak menghakimi. Ia mengajak Mbak Sela menatap lapisan terdalam batinnya.
“Kesalahan pada Tuhan,” lanjutnya, “disembuhkan dengan taubat. Kesalahan pada manusia, disembuhkan dengan tanggungjawab dan adab. Tapi yang sering kita lupakan… kesalahan pada diri sendiri.”
Mbak Sela terdiam.
“Bagaimana memperbaiki itu?”
“Dengan menghapus debu keakuan,” jawab Kang Asaka pelan. “Mengakui bahwa kita bukan pusat segalanya.”
Nasihat itu tidak terasa seperti nasihat. Lebih seperti terapi batin. Kang Asaka mengajak Mbak Sela melihat bahwa cintanya pada dokter muda bukan hanya cinta—tetapi kompensasi dari kekosongan yang lama dipendam.
Sebelum kembali ke Nurabi, Kang Asaka menyampaikan satu pesan: “Rawat suami Mbak. Bukan karena rasa bersalah, tapi karena itu akan menyembuhkan jiwamu.”
Mas Hadi meninggal dunia beberapa bulan kemudian. Mbak Sela sempat memegang tangannya di detik terakhir. Dalam hatinya, ia berbisik meminta maaf—bukan hanya sebagai istri, tetapi sebagai manusia yang pernah menduakan kepercayaan.
Kesedihan itu mengalir pelan, tidak meledak. Psikologinya memasuki fase yang dikenal sebagai resolusi semu: rasa damai yang belum tentu tuntas.
Beberapa bulan setelah masa iddah, Mbak Sela menikah dengan dokter muda. Pernikahan itu terasa seperti pembenaran atas luka lama. Ia merasa berhak bahagia. Tubuhnya lega. Jiwanya berharap selesai.
Namun satu tahun kemudian, kebenaran muncul seperti cermin yang tiba-tiba dibersihkan: dokter muda itu telah beristri. Pernikahan Mbak Sela adalah pelarian, bukan pilihan pertama.
Secara psikologis, Mbak Sela memasuki fase disonansi batin: antara harga diri dan rasa cinta. Ia marah, cemburu, dan takut kehilangan. Semua emosi itu berpadu menjadi satu tuntutan: ingin dipilih sepenuhnya.
Ia kembali menghubungi Kang Asaka.
“Apa salah saya?” tulisnya.
Kang Asaka menjawab singkat: “Bukan siapa yang salah. Tapi apa yang belum dihapus.”
Ia teringat makna Sang Penghapus: Tuhan menghapus bukan hanya dosa, tetapi juga ilusi tentang kepemilikan dan klaim atas manusia lain.
Mbak Sela datang ke Nurabi. Tubuhnya tampak tegar, namun matanya menyimpan kecemasan akut—kecemasan ditinggalkan.
“Saya tidak mau jadi istri kedua,” katanya tegas. “Saya ingin dia menceraikan istrinya.”
Kang Asaka mendengarnya seperti mendengar jeritan batin yang lama tertahan. Ia tidak langsung menanggapi.
“Coba jujur,” katanya akhirnya. “Apa yang paling Mbak Sela takutkan?”
Mbak Sela terdiam lama. “Saya takut tidak cukup.”
Kalimat itu membuka lapisan terdalam dari konflik psikologisnya: fear of inadequacy. Ketakutan tidak dicintai sepenuhnya membuatnya ingin menguasai.
Kang Asaka lalu bertanya pelan, seperti seorang terapis spiritual: “Ketika dulu Mbak Sela bersamanya sebelum menikah… apakah Mbak sempat membayangkan perasaan istrinya?”
Tangis Mbak Sela pecah. Bukan karena tuduhan, tetapi karena kesadaran.
“Berarti yang Mbak cari bukan cinta,” lanjut Kang Asaka lembut, “melainkan penghapusan rasa takutmu sendiri.”
Di situlah ajaran Sang Penghapus bekerja: bukan menghapus orang lain dari hidup, tetapi menghapus klaim ego atas kebahagiaan.
Mbak Sela memilih berpisah. Ia tidak mau menjadi bayangan dalam cinta orang lain. Lima bulan setelah perceraian, ia menikah dengan seorang mahasiswa kedokteran yang magang di rumah sakit tempat ia bekerja.
Secara psikologis, ini adalah bentuk rebound relationship—usaha cepat mengisi ruang kosong. Kang Asaka mendengar kabar itu tanpa komentar. Ia tahu, setiap jiwa memiliki ritme penyadarannya sendiri.
Selama hampir setahun, Kang Asaka tidak ke Jakarta. Ia tinggal di Nurabi, membina remaja, belajar dari kesederhanaan. Ia menyadari, kota mengajarkan ambisi; kampung mengajarkan penerimaan.
Suatu hari, pesan datang lagi dari Mbak Sela. “Saya menikah lagi. Saya ingin bertemu Kang Asaka.”
Kang Asaka membaca pesan itu dengan perasaan hening. Ia tahu, perjalanan Mbak Sela belum sampai pada inti penghapusan.
Kabar menyusul: dokter muda itu telah bercerai. Mbak Sela bertemu dengannya secara tak sengaja di sebuah swalayan. Mereka berbicara sebentar.
“Istrimu?” tanya Mbak Sela.
“Kami berpisah,” jawabnya singkat.
Tidak ada ledakan emosi. Hanya keheningan yang terasa matang. Mbak Sela pulang dengan perasaan kosong—kosong yang berbeda dari sebelumnya. Ini bukan kehampaan, melainkan ruang.
Dalam psikologi, ini disebut acceptance: penerimaan tanpa keinginan mengubah masa lalu.
Beberapa bulan kemudian, pesan terakhir datang.
“Dokter muda sudah berpisah. Saya ingin Kang Asaka ke Jakarta. Atau saya ke Nurabi.”
Kang Asaka merasakan firasat kuat. Beberapa hari kemudian, Mbak Sela dan dokter muda datang ke Nurabi. Mereka ingin menikah.
Di antara sawah dan gunung, Kang Asaka berkata pelan:
“Jika Mbak dan Mas datang dengan ego, pernikahan ini hanya akan menambah debu. Tapi jika Mbak dan Mas datang dengan kesiapan untuk dihapus—oleh kebenaran—maka mungkin cinta bisa tumbuh tanpa kepemilikan.”
Ia teringat makna Sang Penghapus:
Yang menghapus ilusi.
Yang membersihkan ego.
Yang mengembalikan manusia pada fitrahnya.
Di Nurabi, Mbak Sela akhirnya memahami:
kebahagiaan bukan ditemukan dengan memiliki,
melainkan dengan membiarkan debu keakuan disapu,
agar hati kembali menjadi cermin bening bagi cahaya.
*****
Judul: Cerpen SaJUTA “Jejak Debu di antara Cinta dan Keheningan”
Pengarang: Abah Ahmadin (Pengasuh Saung Larang)












