MajmusSunda News, Bogor, 3 Januari 2026 – Dini hari 21 Agustus 2007, Nurabi seperti sedang menahan napas. Gerimis jatuh tipis, bukan hujan yang ingin membasahi, melainkan hujan yang sekadar mengingatkan langit belum sepenuhnya pergi. Tanah menyerapnya pelan, mengeluarkan bau lumpur yang hangat. Di sela-sela suara itu, katak-katak bersahutan, seolah saling memastikan keberadaan. Dari arah kebun bambu, burung malam menjerit sebentar—suara yang tidak meminta ditanggapi.
Di beranda rumah kayu tua, Kang Asaka duduk bersila. Lampu minyak menggantung rendah, cahayanya bergetar seperti hati manusia yang sedang menimbang. Di hadapannya, sebuah buku catatan terbuka pada halaman kedelapan. Kertasnya telah menguning, pinggirannya kasar oleh usia dan sentuhan.
Ia menulis perlahan, seakan setiap kata harus berjalan kaki, tidak boleh berlari.
“Catatan kedelapan.
Manusia seperti hujan yang jatuh terpisah-pisah.
Namun tak satu pun memilih tanah yang berbeda.”
Di samping buku itu, secangkir kopi kampung mengepul. Kopi yang ditumbuk sendiri, diseduh tanpa gula, pahitnya jujur. Kang Asaka menyesapnya sedikit, membiarkan panasnya menyusuri dada, seolah memastikan dirinya masih berada di tempatnya.
Ponsel jadul di saku bajunya bergetar. Suaranya kasar, tidak tahu sopan santun waktu.
SMS masuk.
Ia mengeluarkan ponsel itu, menyesuaikan kacamata bacanya.
“Kang, saya lagi galau.”
Nama pengirimnya membuat Kang Asaka menarik napas perlahan.
Neng Tata.
Ia mengenalnya bertahun lalu, di sebuah pengajian kecil yang nyaris tak tercatat. Perempuan Parahiangan—tinggi, kulit sawo matang, rambut ikal panjang seperti jalan setapak yang tidak lurus tapi selalu sampai. Single parent. Kini bekerja di gedung-gedung tinggi Jakarta, di Jalan Sudirman, tempat manusia sering lupa bahwa bumi juga perlu diinjak.
Kang Asaka tidak segera membalas. Ia menatap hujan. Mendengarkan katak. Membiarkan sunyi bekerja lebih dulu.
Setelah menyesap kopi lagi, ia mengetik:
“Mengapa harus galau, bukankah semuanya ada?”
Tak lama, balasan datang.
“Bukan materi, Kang. Tapi yang akan mendampingi hidup. Eneng sudah tiga tahun bercerai.”
Kang Asaka menutup mata sejenak. Di antara rintik hujan dan detak jantungnya sendiri, ia merasakan satu hal yang tak pernah berubah: manusia selalu ingin pulang, tetapi sering lupa ke mana.
Sejak malam itu, pesan-pesan Neng Tata datang seperti fragmen. Tidak panjang, tidak berlebihan. Seperti seseorang yang berbicara sambil menahan air mata.
Suatu malam, saat angin membawa bau sawah basah ke saung belakang rumahnya, sebuah pesan masuk.
“Kang, ada yang mau melamar eneng.”
Kang Asaka membaca pelan. Tidak ada rasa kaget. Hanya seperti melihat daun gugur—waktunya memang tiba.
Ia membalas singkat:
“Lalu mengapa ragu?”
Jawaban itu datang setelah jeda panjang, seolah harus melewati kota, gedung, dan hati yang berbelit.
“Ia minta nikah sirri.” Eneng ingin formal. Ada keluarga.
Nama laki-laki itu disebut kemudian: Dedi. Eksekutif muda. Pandai bicara. Pandai memberi rasa aman yang cepat, seperti lampu kota yang terang tapi dingin.
Kang Asaka tidak memberi petuah. Ia tahu, dalam kebimbangan, nasihat sering terdengar seperti suara asing.
Sebulan kemudian, sebuah pesan pendek masuk.
“Kang, eneng sudah nikah.”
Tak ada tanda seru. Tak ada senyum. Hanya pernyataan.
Kang Asaka menatap layar itu lama. Di luar, hujan telah berhenti. Langit Nurabi terbuka, menyisakan awan tipis yang bergerak pelan.
Ia membalas: “Semoga ada ketenangan.”
Beberapa detik kemudian: “Nikah sirri, Kang.”
Kang Asaka tidak membalas. Ia menutup buku catatannya. Di dalam dadanya, satu kata berdenyut lembut: “Yang menghimpun. Yang bekerja diam-diam, tanpa pamrih.”
Jakarta menyambut Kang Asaka dengan panas dan kebisingan. Gedung-gedung berdiri seperti orang-orang yang lupa duduk. Jalan Sudirman penuh kendaraan yang saling mendahului, seolah waktu bisa dikalahkan.
Ia bertemu Bang Hari di sebuah kafe tua. Dindingnya penuh foto hitam-putih kota lama. Bang Hari baru kehilangan istrinya—perempuan yang menemani hidupnya sejak muda.
Mereka berbincang tentang bisnis, tentang kehilangan, tentang hal-hal yang tak bisa diganti uang.
Saat itulah seseorang memanggil pelan.
“Kang Asaka?”
Ia menoleh.
Neng Tata berdiri di sana. Wajahnya tetap cantik, tetapi ada kelelahan yang tak bisa disembunyikan oleh riasan.
Mereka duduk bersama. Kata-kata ringan mengalir, tapi segera tenggelam oleh sesuatu yang lebih berat.
“Kang… eneng nggak kuat.”
Cerita pun mengalir. Tentang Bang Dedi yang ternyata telah beristri. Tentang rasa menjadi yang kedua. Tentang hati yang menolak meski kenyamanan melimpah.
Tanpa mereka sadari, Bang Dedi berdiri tak jauh dari kasir. Mendengar serpihan kalimat, cukup untuk tahu sesuatu sedang runtuh.
Kang Asaka memberi isyarat halus agar Neng Tata berhenti. Ia menunjuk Bang Hari.
“Itu sahabat saya,” katanya pelan. “Baru ditinggal istrinya. Sedang belajar mengumpulkan diri lagi.” Tidak ada maksud. Tidak ada rencana. Hanya manusia-manusia yang sedang tercerai, duduk dalam satu ruang.
Saat berpisah, Kang Asaka memberikan nomor Bang Hari kepada Neng Tata.
“Mungkin,” katanya, “hidup sedang mencoba menyambung sesuatu.”
Lima bulan berlalu.
Sore di Nurabi. Angin menggerakkan daun pisang seperti bisikan rahasia. Kang Asaka membuka-buka buku di saung antiknya, membaca ulang catatan lama.
Ponselnya berdering.
“Kang,” suara Neng Tata terdengar cepat. “Eneng sudah jadian sama Bang Hari.”
Kang Asaka tersenyum. Senyum yang tidak meledak, hanya merekah.
“Syukur,” katanya. “Ada manfaat juga pertemuan waktu itu.”
Ia menulis kisah itu di catatan hariannya—tentang dua hati yang saling menghimpun tanpa sadar.
Tak lama, kabar pernikahan datang.
Namun hidup tidak pernah berhenti menguji simpul.
Beberapa bulan kemudian, dua pesan datang hampir bersamaan.
Dari Bang Hari:
“Kang, istri saya diincar pengusaha. Teman pengajian.”
Dari Neng Tata:
“Kang, teman lama minta eneng jadi istrinya. Eneng bilang sudah menikah.”
Kang Asaka menarik napas panjang. Dua pesan. Satu waktu. Seperti hidup yang sedang menguji apakah mereka benar-benar telah terkumpul.
Dua bulan kemudian, Bang Hari dan Neng Tata datang ke Nurabi. Wajah mereka lelah. Duduk berjauhan, seperti dua pulau kecil.
Kang Asaka menuangkan teh hangat. Uapnya naik perlahan.
“Bagaimana kabarnya?” tanyanya.
“Baik, Kang,” jawab Neng Tata.
“Baik,” Bang Hari menyusul.
Keluhan mengalir. Tentang cemburu. Tentang takut kehilangan. Tentang kelelahan menjadi utuh.
Akhirnya Neng Tata berkata, hampir berbisik, “Kang, eneng mau cerai.”
Kang Asaka tidak menjawab. Ia menunjuk halaman. Dua ayam jantan sedang berkelahi. Bulu beterbangan. Setelah lelah, mereka berhenti. Lalu kembali ke tempat makan yang sama.
“Kadang,” kata Kang Asaka pelan, “yang penting bukan siapa menang. Tapi ke mana kita kembali.”
Tak ada ayat. Tak ada kitab. Hanya peristiwa.
Sore itu, Kang Ayi datang bertamu. Ia mendengar cerita mereka, tertarik pada Neng Tata.
“Jangankan kamu,” kata Kang Asaka sambil tersenyum, “saya juga tertarik.”
Semua tertawa. Ketegangan mencair seperti embun.
Sejak hari itu, rumah tangga Bang Hari dan Neng Tata tak lagi terdengar retak. Kang Asaka tetap membimbing—tidak di depan, tapi di samping.
Di catatan hariannya, ia menulis:
Yang terkumpul tidak selalu datang sebagai hari akhir.
Kadang ia hadir sebagai pertemuan sederhana.
Menghimpun yang tercerai, tanpa suara.
Gerimis turun lagi di Nurabi.
Pelan.
Mengumpulkan tanah yang retak.
*****
Judul: Cerpen SaJUTA: GERIMIS YANG MENGUMPULKAN
Pengarang: Abah Ahmadin (Pengasuh Saung Larang)












