Cerpen “SaJUTA”: DEBU YANG DISAPU HUJAN

Pengarang: Abah Ahmadin (Pengasuh Saung Larang)

Cerpen “SaJUTA”: DEBU YANG DISAPU HUJAN

MajmusSunda News, Bogor, 1 Januari 2026 – Catatan harian Kang Asaka tertanggal 19 Juli 2007 dimulai dengan kalimat yang pendek dan ragu, seolah ia sendiri tak yakin ingin menuliskannya: Kadi menelepon dari Jakarta. Suaranya pecah. Istrinya meminta cerai.

Pagi itu Jakarta basah oleh hujan sisa malam. Dari jendela kamar kosnya di Nurabi—sebuah kota kecil yang tenang dan berdebu—Asaka memandang halaman yang sepi. Ia mengenal Kadi sejak lama, sejak masa rapat-rapat larut malam dan selebaran yang dibagi diam-diam. Kadi bukan orang sembarangan. Aktivis kota yang meniti jenjang organisasi DEdari anak cabang hingga menjadi ketua umum wilayah Jabodetabek. Namanya dikenal. Begitu pula istrinya, Nendah.

Nendah—atau yang kini lebih sering disebut orang sebagai Ibu Nendah—adalah aktivis juga. Adik organisasi Kadi. Dengan bimbingan Kadi, ia menapaki karier sebagai pejabat penegak hukum. Dua tahun terakhir, namanya kerap disebut di media internal kepartaian. Ketika orang menyebut Bang Kadi, orang tahu; ketika orang menyebut Ibu Nendah, orang lebih tahu.

Dalam percakapan telepon itu, Kadi tidak banyak menjelaskan. Hanya satu kalimat yang terus terulang: “Aku bingung, Kang. Aku seperti tak lagi terlihat.” Asaka menutup telepon dan menyalakan rokok, lalu mematikannya lagi. Ia teringat satu hal kecil yang pernah dikatakan Kadi bertahun-tahun lalu: Hidup ini seperti kaca. Bukan retaknya yang berbahaya, tapi debu yang menutupinya. Dulu Asaka menganggapnya hanya kalimat indah dari seorang aktivis muda. Kini kalimat itu kembali, pelan dan getir.

Ia menulis lagi di buku harian: Rumah tangga mereka dulu adem ayem. Satu anak perempuan, hidup sederhana. Lalu lahir anak kedua, dan segalanya berubah. Di luar, hujan turun lagi, menyapu debu jalanan Nurabi. Asaka merasa, entah mengapa, hujan itu juga sedang menyapu sesuatu di dalam dadanya.

Beberapa hari setelah telepon itu, Kadi datang ke Nurabi. Ia tampak lebih kurus. Jaketnya kusam, seperti sering dipakai tanpa sempat dicuci. Mereka duduk di teras saung kecil dekat sawah. Asap rokok bercampur aroma tanah basah.

“Aku tak lagi dapat perhatian,” kata Kadi pelan. “Sejak Nendah punya penghasilan sendiri, sejak ia duduk di jabatan itu.” Asaka mendengarkan, seperti biasa. Tidak menyela.

“Akang tahu, pasti,” lanjut Kadi, “aku tak pernah mempermasalahkan uang. Aku tahu hidup di kota mahal. Tapi caranya memandangku… seperti aku beban.”

Ia bercerita tentang perubahan-perubahan kecil: pesan singkat yang tak dibalas, makan malam yang sering dingin, tatapan yang cepat berpaling. Sejak anak kedua lahir, kebutuhan meningkat. Dulu, dengan satu anak, penghasilan tak tetap Kadi masih cukup. Kini, tidak lagi. Sementara Nendah bergerak dalam lingkaran pejabat publik lain. Gaya hidupnya ikut berubah—acara resmi, pakaian mahal, percakapan tentang proyek dan jabatan.

“Aku seperti tak punya tempat,” kata Kadi. “Padahal kariernya… itu juga perjuanganku.”

Asaka menyesap kopi pahit. Ia teringat ajaran lama yang sering ia baca: cinta kerap runtuh bukan karena kurangnya rasa, tapi karena bertumpuknya debu keakuan. Tak ada yang membersihkannya, sampai cahaya tak lagi menembus. Kadi menunduk. “Aku bukan malaikat, Kang. Aku juga cemburu. Aku juga marah. Tapi aku masih ingin pulang ke rumah.”

Hujan turun rintik. Di kaca saung, titik-titik air memburamkan pandangan. Asaka melihat wajah Kadi di balik kaca itu—buram, terpecah, seperti dirinya sendiri.

Kadi mencintai keluarganya dengan cara yang sunyi. Ia tidak pandai merayu. Ia tidak piawai memamerkan peran. Tapi ia tahu, jabatan Nendah tak datang dari ruang kosong. Ia mengenal birokrat, membuka pintu, menyambungkan percakapan. Ia mengalah berkali-kali, dengan keyakinan sederhana: rumah tangga adalah kerja bersama. Namun perubahan Nendah tak hanya soal uang. Ia berasal dari daerah lain. Budaya yang dibawanya lebih keras, lebih langsung. Kadi, yang tumbuh dengan kebiasaan menahan diri, sering memilih diam. Diam yang lama-lama disalahartikan sebagai kelemahan.

Orang tua Kadi datang menasihati. Orang tua Nendah pun demikian. Kalimat mereka hampir sama: “Setinggi apa pun jabatan, seorang istri tetap menghormati suami.” Dan satu kalimat lain yang lebih pelan: “Rezeki setelah menikah bukan milik sendiri.” Nendah mendengarkan, tapi matanya sering kosong. Seolah nasihat itu berasal dari dunia yang tak lagi ia huni.

Kadi tetap mengurus anak-anaknya. Menyiapkan sarapan, mengantar sekolah, menidurkan mereka. Dalam hati, ia bertanya-tanya: Di mana letak salahku? Asaka melihatnya dari dekat, seperti menyaksikan seseorang menyapu lantai yang terus berdebu.

Permintaan cerai akhirnya diajukan. Diam-diam. Dengan pengacara. Nendah semakin jarang pulang. Alasannya selalu tugas kantor. Ia lebih sering menginap di mess—fasilitas jabatan yang membuat jarak itu kian nyata.

Pertengkaran tak terelakkan. Malam itu, suara mereka meninggi. Kata-kata meluncur tanpa saringan. Ada luka yang tak terlihat, dan ada yang membekas. Cakaran di lengan Kadi. Merah, perih, tapi lebih perih yang lain. Ia tidak membalas. Ia hanya berdiri, membiarkan. Dalam hatinya, ada sesuatu yang runtuh—bukan marah, bukan pula benci. Seperti dinding tipis yang akhirnya roboh.

Di pengadilan, saat mediasi, Kadi membuka bajunya. Menunjukkan bekas luka yang telah diotopsi. Bukan untuk menuntut, tapi berharap. “Aku masih ingin mempertahankan keluarga,” katanya. Namun kekuasaan memiliki jalannya sendiri. Surat cerai tetap keluar.

Asaka mencatat di hariannya: Ada saatnya seseorang tak lagi melawan. Bukan karena kalah, tapi karena sesuatu di dalamnya telah disapu bersih.

Perceraian itu terjadi tanpa sorak, tanpa air mata berlebihan. Anak-anak diasuh Kadi. Ia tetap membolehkan mereka berkomunikasi dengan ibunya. Tidak ada dendam yang diwariskan. Kadi pindah ke rumah kecil. Hidupnya sederhana. Ia bekerja serabutan. Di sela kesibukan, ia belajar menyapu halaman setiap pagi. Debu selalu datang kembali. Tapi ia menyapunya lagi, tanpa keluh.

Suatu sore, ia berkata pada Asaka, “Aneh, Kang. Setelah semua ini, aku justru merasa lebih ringan.” Asaka tersenyum. Ia teringat satu nama yang pernah ia baca dalam kitab-kitab lama—Yang Menghapus. Bukan menghapus orang lain, tapi menghapus kabut yang menutup mata batin.

Dua tahun kemudian, Kadi menikah lagi. Dengan seorang janda yang belum punya anak. Pernikahan itu sederhana. Tanpa pesta besar. Tanpa sorotan. Nendah belum menikah. Ia tetap di jalurnya. Jabatan, rapat, agenda. Sesekali ia menelpon anak-anaknya. Suaranya formal, tapi tak dingin.

Di Nurabi, Asaka menutup buku hariannya. Ia menulis kalimat terakhir: Ada debu yang hanya bisa disapu oleh kehilangan. Ada ego yang hanya luruh ketika kita berhenti mempertahankannya.

Di luar, hujan turun pelan. Membersihkan jalan. Membersihkan kaca. Dan di suatu tempat yang tak terlihat, membersihkan hati manusia—tanpa suara, tanpa nama.

 

*****

Judul: Cerpen “SaJUTA”: DEBU YANG DISAPU HUJAN

Pengarang: Abah Ahmadin (Pengasuh Saung Larang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *