GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-19: “Sang Batu Penyusun Cekungan Bandung”

Oleh: Oman Abdurahman

Cekungan Bandung

MajmusSunda News – Bandung, Minggu (11/10/2026) – SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah jalinan tata nama litologi, hukum dasar stratigrafi regional, lokasi tipe daerah asal singkapan, dan peta sebaran cadas purba yang menyusun fondasi fisik Cekungan Bandung melintasi kacamata geoliterasi kritis. Diuraikan sasis sistem satuan formasi litologi menurut peta perintis Silitonga tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh tiga bersanding taksonomi stratigrafi klasik R.P. Koesoemadinata dan Hartono tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu, landasan hukum penamaan satuan batuan berdasarkan lokasi geografis tipe asal singkapan, penegasan lima satuan batuan utama yang disusun runtut dari muda ke tua, karakteristik pengendapan material sedimen danau paling muda dalam Formasi Kosambi bersama unit vulkanik Formasi Cikidang beserta batas lokasi tipe lapangannya, kualitas superior Formasi Cibeureum selaku akuifer terbaik beserta jejak pemahatan Gua Belanda dan Gua Jepang pada tebing ignimbrit lokasi tipenya bersanding ketangguhan Formasi Cikapundung, dokumentasi titik kontak geologi ketidakselarasan di ngarai lokasi tipe Curug Dago hingga hamparan lempung purba aluvial di permukaan dataran rendah sebagai calon situs warisan geologi nasional, hingga epilog kebangsaan berupa manifesto penyelamatan cagar monumen batu demi menegakkan daulat kedaulatan sains lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1. Fajar Tata Nama Litologi Cekungan: Sistem Satuan Formasi Perintis Silitonga 1973 dan Urutan Vertikal Stratigrafi

Membaca secara mendalam arsitektur bumi perbukitan Lembang dan Cekungan Bandung Raya secara kaku mengarahkan pandangan geoliterasi kita pada dasar tata nama formasi litologi atau satuan bebatuan penyusun suatu daerah—dalam hal ini Bandung—yang diteliti oleh para maestro kebumian terdahulu. Peta Geologi Bandung ini awalnya dipetakan secara terstruktur oleh purnawirawan sains P.H. Silitonga pada tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh tiga dalam lembar peta geologi skala makro atau regional, yang kemudian disempurnakan secara jenius ke dalam sistem satuan stratigrafi resmi oleh R.P. Koesoemadinata dan Hartono pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh satu. Sesuai dengan kaidah Sandi Stratigrafi Indonesia, dasar penamaan seluruh formasi ini murni mengacu pada hukum “lokasi tipe” (type locality), yaitu wajib dinamai berdasarkan nama tempat geografis lokal di mana karakteristik fisik dan susunan lapisan batuan tersebut pertama kali ditemukan tersingkap secara utuh dan dominan di lapangan. Melalui sasis aturan ketat tersebut, kedua kubu ahli geologi legendaris ini membuktikan secara ksatria bahwa bentang dasar cekungan disusun oleh lima satuan batuan Kuarter utama yang jika diurutkan dari yang paling muda ke tua meliputi Formasi Kosambi, Formasi Cikidang, Formasi Cibeureum, Formasi Cikapundung, dan Batuan Gunung Api Tak Teruraikan.

2. Lapisan Transisi Mangkuk Purba: Karakteristik Sedimen Muda Formasi Kosambi dan Unit Vulkanik Formasi Cikidang pada Wilayah Asalnya

Menelusuri kronostratigrafi pembentukan dari fase muda mengarahkan ketelitian laboratorium kita pada pengendapan material lapis atas yang diwakili oleh eksistensi Formasi Kosambi dan Formasi Cikidang bersanding dengan batas-batas wilayah asalnya. Formasi Kosambi bertindak tegap sebagai satuan batuan paling muda yang merajut lantai dasar Cekungan Bandung, di mana lokasi tipenya berada di kawasan Kosambi–Ciganitri poros timur kota sebagai tempat ditemukannya pelapisan sedimen klastik halus berupa lempung hitam, lanau, dan tuf pasiran dasar danau purba. Tepat bersanding dan menjemari di bawah lapisan sedimen danau tersebut, melampar unit Formasi Cikidang yang tersusun dari produk vulkanisme Kuarter Akhir berupa lelehan lava andesit-basaltis pejal, tuf kaca, dan fragmen piroklastik yang merayap turun dari kepundan Kompleks Tangkubanparahu purba. Lokasi tipe dari Formasi Cikidang ini terletak secara spesifik di sepanjang alur Sungai Cikidang Lembang, menyajikan bukti empiris yang teramat kaku mengenai dinamika perubahan rupa bumi Bandung Utara saat bertransisi dari daratan kering menjadi mangkuk danau raksasa yang pejal.

3. Wadah Hidrologi dan Bungker Militer: Kualitas Unggul Lokasi Tipe Formasi Cibeureum dan Jejak Sejarah Pemahatan Kompleks Dago Pakar

Di antara seluruh rangkaian lapisan litologi bawah permukaan, Formasi Cibeureum berdiri tegap sebagai satuan batuan yang paling andal dalam menampung serta mengalirkan cadangan air tanah dalam (artesis) sekaligus penopang infrastruktur pertahanan militer abad lalu. Satuan batuan produk letusan kataklimik Gunung Sunda purba berupa endapan tuf lapili dan ignimbrit atau tuf padat terlaskan (welded tuff) ini memiliki lokasi tipe asli di kawasan Cibeureum poros batas barat kota menuju Cimahi Selatan, tempat lapisan cadasnya mengunci ketangguhan struktural tebing yang sangat kuat namun remah saat dipahat. Karakteristik fisik unik dari batu lokasi tipe inilah yang mendasari alasan taktis mengapa militer kolonial Hindia Belanda dan tentara Jepang memahat terowongan pertahanan bawah tanah legendaris, yaitu Gua Belanda dan Gua Jepang. Lapisan pelamparan batuan ini menyebar luas memotong mantap tebing Taman Hutan Raya Djuanda Dago Pakar hingga menyusup ke bawah selimut dataran rendah, bertindak laksana perisai abiotik multifungsi yang mengunci cadangan air sekaligus monumen sejarah peradaban manusia.

4. Teater Singkapan Alur Cikapundung: Monumen Ketidakselarasan Lokasi Tipe Curug Dago hingga Hamparan Lempung Permukaan

Rekaman fisik dari kelima perlapisan formasi batuan penyusun purba tersebut tersingkap secara megah dan dapat disaksikan secara langsung di permukaan di sepanjang jalur torehan hidraulik alami koridor aliran Sungai Cikapundung. Lokasi tipe dari satuan vulkanik tua pra-Sunda bernama “Formasi Cikapundung” dikunci secara absolut di sepanjang tebing ngarai Sungai Cikapundung poros hulu Dago Pakar hingga Maribaya, di mana torehan air terjun Curug Dago secara spektakuler menelanjangi batas kontak ketidakselarasan fisis saat produk breksi “Formasi Cibeureum” menumpang dan membakar lapisan tuf sepuh dari “Formasi Cikapundung” di bawahnya. Begitu aliran sungai mengalir keluar menuruni lembah menuju kawasan perkotaan yang sudah tertutup aspal, rupa bumi terus bertransisi meluncur ke arah selatan menuju dataran rendah Babakan Siliwangi, Tamansari, hingga kawasan timur Gedebage, dan alur alami Sungai Cikeruh serta Sungai Citarik di Rancaekek yang memperlihatkan hamparan permukaan lempung hitam halus Formasi Kosambi. Keunikan dan kelangkaan sebaran spasial yang mempertemukan singkapan cadas hulu Lembang dengan endapan aluvial hilir ini menjadikan koridor Cikapundung sebagai situs warisan geologi atau geoheritage nasional yang keaslian strukturnya wajib dilindungi secara kaku oleh hukum negara.

5. Epilog Geowisata: Manifesto Konservasi Monumen Batu, Gerakan Sains Warga, dan Daulat Ekologi NKRI

Pada akhirnya, penjelajahan geoliterasi kritis menyusuri jalinan tata nama formasi Silitonga 1973 dan sintesis Koesoemadinata 1981 di Bandung Utara membawa kita pada satu manifesto ekologis tertinggi mengenai esensi tindakan penyelamatan cagar batu nasional. Cadas ignimbrit Formasi Cibeureum tempat melekatnya terowongan sejarah, lapisan lempung Formasi Kosambi, bersanding singkapan lava pejal di sepanjang alur Cikapundung, bukan sekadar komoditas tambang galian golongan C yang bisa dikeruk serakah, melainkan warisan geologi bernilai sains tinggi yang kelestarian fisiknya wajib dilindungi secara absolut oleh undang-undang kedaulatan ruang negara. Mengampanyekan moratorium total penambangan batu liar di kawasan lindung hulu dan menegakkan hukum amdal secara ksatria melawan keangkuhan ekspansi beton hotel pariwisata massal yang malas adalah wujud nyata tindakan bela negara ekologis yang mutlak. Mengintegrasikan konsep geowisata edukatif berbasis sains warga secara digital merupakan langkah taktis pertahanan ruang hidup untuk merawat pusaka kebumian secara bijaksana. Merawat kemurnian dan ketangguhan benteng monumen batu sepuh ini adalah janji suci kita bersama demi membentengi hak intelektual generasi masa depan serta menjaga martabat tertinggi kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia melintasi badai zaman!

#GeowisataNusantara
#SeriBS-19 #SangBatuPenyusunBandung #LitologiSilitonga1973 #StratigrafiKoesoemadinata1981 #LokasiTypeLocality #FormasiKosambiCiganitri #FormasiCikidangLembang #FormasiCibeureumCimahi #FormasiCikapundungDago #IgnimbritGuaBelanda #KetidakselarasanCurugDago #GeoheritageAlurCikapundung #LempungHitamGedebage #BelaNegaraEkologis #KedaulatanSainsNKRI

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: GEOWISATA NUSANTARA Seri #BS-19: “Sang Batu Penyusun Cekungan Bandung”

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *