Mewaspadai “Middleman”!

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (27/07/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Mewaspadai “Middleman”!” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Middleman dalam dunia perberasan merujuk pada pihak-pihak yang berada di antara produsen (petani) dan konsumen akhir, yang berperan dalam proses distribusi dan pemasaran beras. Middleman dapat berupa pedagang pengumpul yakni pedagang yang mengumpulkan beras dari petani dan menjualnya ke pedagang lain atau ke pasar.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Bisa juga pedagang grosir yaitu pedagang yang membeli beras dalam jumlah besar dari pedagang pengumpul atau petani dan menjualnya ke pedagang retail atau konsumen besar. Atau pedagang retail yakni pedagang yang menjual beras langsung ke konsumen akhir.

Middleman dapat memiliki peran penting dalam tata niaga beras, seperti menghubungkan produsen dengan konsumen. Artinya, middleman dapat membantu menghubungkan produsen (petani) dengan konsumen akhir, sehingga memudahkan proses distribusi beras. Dapat juga mengatur harga. Middleman dapat mempengaruhi harga beras di pasar dengan menentukan harga jual dan beli.

Namun, middleman juga dapat memiliki dampak negatif, seperti meningkatkan biaya. Middleman dapat meningkatkan biaya beras karena mereka mengambil margin keuntungan dari setiap transaksi. Bahkan bisa mengurangi pendapatan petani. Middleman dapat mengurangi pendapatan petani karena mereka membeli beras dari petani dengan harga yang rendah dan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi.

Dalam beberapa kasus, pemerintah atau lembaga lain dapat berusaha untuk mengurangi peran middleman dan meningkatkan pendapatan petani dengan membangun sistem distribusi yang lebih langsung dan efisien. Termasuk dengan apa yang terjadi sekarang, dimana harga beras di pasar mulai merangksk naik.

Menyikapi hal seperti ini, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menduga bahwa peran middleman atau perantara dalam distribusi beras menjadi penyebab kenaikan harga beras, meskipun stok beras dalam negeri berlimpah. Mentan Amran menyatakan bahwa permainan distribusi penyaluran beras oleh distributor menengah menyebabkan harga beras naik di tingkat eceran, meskipun harga di tingkat petani dan grosir turun.

Menurut Mentan Amran, pemerintah berupaya memperbaiki proses distribusi dengan memperkenalkan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih untuk memotong rantai pasok distribusi pangan, termasuk beras. Tujuan dari program ini adalah memutus rantai pasok yang panjang dan berbelit, sehingga mengurangi permainan harga oleh middleman.

Pertanyaan pentingnya adalah apakah para middleman ini akan dapat bersahabat dengan para petani di lapangan ? Jawabnya ya ! Middleman dapat bersahabat dengan petani. Middleman dapat memiliki hubungan yang baik dengan petani jika mereka mampu membeli beras dengan harga yang adil. Artinya, middleman dapat membeli beras dari petani dengan harga yang adil dan transparan, sehingga petani merasa dihargai.

Atau membantu petani dalam proses pemasaran. Artinya, middleman dapat membantu petani dalam proses pemasaran beras, sehingga petani tidak perlu repot-repot mencari pembeli. Selain itu memberikan informasi pasar. Middleman dapat memberikan informasi pasar kepada petani, sehingga petani dapat memahami kondisi pasar dan membuat keputusan yang tepat.

Terakhir membantu petani dalam mengatasi masalah. Middleman dapat membantu petani dalam mengatasi masalah yang terkait dengan produksi dan pemasaran beras. Middleman dapat menyediakan bibit padi yang berkualits. Bisa juga nembantu petani untuk memperoleh pupuk bersubsidi dengan mudah.

Namun, perlu diingat bahwa middleman juga dapat memiliki kepentingan bisnis yang berbeda dengan petani, sehingga hubungan antara middleman dan petani tidak selalu harmonis. Oleh karena itu, penting bagi petani untuk memahami kondisi pasar dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang proses pemasaran beras untuk dapat bernegosiasi dengan middleman secara efektif.

Disodorksn pada persoalan seperti ini, Pemerintah telah menunjukkan sikapnya terhadap middleman perberasan dengan melakukan beberapa upaya untuk mengurangi peran mereka dan meningkatkan kesejahteraan petani. Berikut beberapa langkah yang telah diambil pertama, mengoptimalkan penyerapan gabah dan beras. Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional berupaya meningkatkan penyerapan gabah dan beras dalam negeri untuk memastikan stok cadangan beras pemerintah terpenuhi dan stabil.

Kedua telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Pemerintah menetapkan HPP sebesar Rp 6.500 per kilogram Gabah Kering Panen (GKP) untuk melindungi petani dari fluktuasi harga pasar dan memastikan mereka mendapatkan harga yang adil. Ketiga, meningkatkan kapasitas petani. Pemerintah juga berupaya meningkatkan kapasitas petani melalui program-program seperti Korporasi Petani dan Pro Pak Tani, yang bertujuan meningkatkan produksi dan pemasaran beras.

Keempat, mengembangkan Sistem Pangan yang Adil dan Resilien*: Pemerintah berupaya mengembangkan sistem pangan yang adil dan resilien melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk petani, swasta, dan masyarakat sipil. Kelima, mengawasi dan mengatur perdagangan beras. Pemerintah juga mengawasi dan mengatur perdagangan beras untuk mencegah praktik-praktik yang tidak sehat dan memastikan stabilitas harga.

Akan tetapi, perlu diingat bahwa peran middleman masih cukup signifikan dalam perdagangan beras di Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan efektivitas kebijakan dan program-program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani dan stabilitas harga beras.

***

Judul: Mewaspadai “Middleman”!
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *