MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Jum’at (11/07/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Dari Jagoan Impor, Menjadi Eksportir Beras” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Siapa sangka akhirnya bisa terjadi. Jagoan impor kini menjadi eksportir beras. Presiden Prabowo sepertinya telah memberi sinyal untuk menerima permintaan Negeri Jiran untuk dapat mengimpor beras dari negara kita. Dengan produksi yang berlimpah, bahkan cadangan beras Pemerintah mencapai 4 juta ton, menjadi sangat masuk akal bila Indonesia mulai menggarap serius kebijakan ekspor beras.

Perkembangan sampai sekarang, ekspor beras ke Malaysia direncanakan sebesar 2000 ton per bulan. Pemerintah optimis, dengan mengekspor beras sebesar itu, kebutuhan beras dalam negeri masih akan tetap tercukupi. Kebutuhan konsumsi masyarakat tetap tercukupi. Cadangan beras Pemerintah tidak terganggu. Dan program bansos pangan tetap dapat berlangsung.
Ekspor beras yang kita tempuh, betul-betul sebuah kejutan. Negara dan bangsa yang selama ini dikenal selaku ‘jagoan impor’, tiba-tiba kini berubah menjadi eksportir beras. Coba kita amati perkembangannya. Tahun 2024, Badan Pusat Statistik mencatat impor beras yang kita lakukan mencapai 4,5 jita ton. Sebuah angka cukup tinggi, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Salah satu biang keroknya adalah adanya sergapan El Nimo yang berbarengan dengan musim kemarau panjang. Produksi beras anjlok dengan signifikan, sehingga secara produksi beras secara nasional hanya mencapai 30,4 juta ton. Angka ini lebih rendah dari produksi tahun sebelumnya, yang nencapai diatas 31 juta ton. Tahun 2024 merupakan tahun kelabu dunia perberasan nasional.
Lalu, bagaimana dengan produksi beras secara nasional tahun 2025 ? Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memproyeksikan produksi beras Indonesia sebesar 34,6 juta ton. Angka ini jauh melewati negara-negara produsen beras dikawasan ASEAN seperti Thailand dan Vietnam. Itu sebabnya, wajar kalau ada yang menyebut Indonesia kini merupakan “raja beras” di ASEAN.
Meledaknya produksi beras dengan angka cukup signifikan, tentu saja disebabkan oleh banyak faktor. Paling tidak, ada empat faktor yang utama, yakni pertama, peningkatan luas panen. Semakin luas lahan yang dipanen, semakin banyak produksi beras yang dihasilkan. Ketika luas panen meningkat sebesar 1 Ha, produksi beras akan meningkat secara signifikan.
Kedua, intensifikasi pertanian. Upaya intensifikasi pertanian dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dengan membagi luas panen dengan luas lahan sawah. Hal ini dapat meningkatkan produksi beras. Ketiga,
penggunaan varietas unggul. Peningkatan mutu intensifikasi melalui penggunaan varietas padi yang unggul dapat meningkatkan produksi beras.
Keempat, peningkatan produktivitas. Artinya, produktivitas padi yang meningkat dapat menyebabkan produksi beras meningkat. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan produksi padi Indonesia yang signifikan pada tahun 2007 dibandingkan tahun 2006. Dengan demikian, produksi beras yang meningkat dapat disebabkan oleh kombinasi dari beberapa faktor tersebut.
Cukup menggembirakan juga adalah keberhasilan Perum Bulog dalam melakukan penyerapan gabah petani. Dengan dukungan aturan dan kebijakan yang dilahirkan Pemerintah, untuk panen raya kali ini, Perum Bulog mampu memperlihatkan kinerja terbaiknya. Serapan gabah Perum Bulog, benar-benar melesat sehingga mampu mengukir sejarah dalam penyerapan gabah itu sendiri.
Serapan gabah yang tercatat sebelum panen raya berakhir hampir menembus angka 2 juta ton, tentu saja membuat banyak pihak yang memberi acungan jempol atas kinerja Perum Bulog. Walau di awal psnen raya ada keraguan dengan kinerja ysng dipetlihatkan, namun seiring dengan perjalanan waktu Perum Bulog mampu memperbaikinya.
Kisah sukses penyerapan gabah ini, praktis membuat cadangan beras Pemerintah semakin kokoh. Dengan cadangan beras sekitar 4 juta ton, jelas membuat bangsa ini cukup aman, sekiranya terjadi krisis beras global. Inilah salah satu alasannya, mengapa Pemerintah berani mengumumkan, mulai tahun 2025, Pemerintah akan menghentikan impor beras.
Inilah serangkaian proses bagaimana Pemerintah mampu mengekspor beras ke Negeri Jiran. Hal ini jelas merupakan prestasi yang menggembirakan sekaligus membanggakan. Bayangkan, betapa tidak bangga, bangsa yang semula dikenal sebagai importir beras yang sangat besar di dunia (era Orde Lama), kini mampu menjadi eksportir beras.
Pertanyaan kritisnya adalah upaya apa saja yang sebaiknya ditempuh agar kita tetap menjaga dan mempertahankan supaya produksi beras terus meningkat ? Upaya menjaga produksi beras agar tetap tinggi dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain dengan penggunaan teknologi pertanian modern, seperti irigasi yang efisien, penggunaan pupuk yang tepat, dan pengendalian hama yang efektif, dapat meningkatkan produktivitas dan hasil panen.
Selanjutnya, pengembangan varietas padi yang unggul dan tahan terhadap penyakit dan hama dapat meningkatkan hasil panen dan mengurangi kerugian. Kemudian, pengelolaan lahan yang baik, termasuk rotasi tanaman, penggunaan pupuk organik, dan pengendalian erosi, dapat meningkatkan kesuburan tanah dan hasil panen. Penting juga pengembangan infrastruktur, seperti jalan, gudang, dan fasilitas pengolahan, dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi kerugian pasca-panen.
Lalu, perlunya pendidikan dan pelatihan petani tentang teknologi pertanian modern dan pengelolaan lahan yang baik dapat meningkatkan kemampuan dan pengetahuan petani. Dan tentu saja adabya kebijakan pemerintah yang mendukung pertanian, seperti subsidi pupuk, kredit usaha tani, dan asuransi pertanian, dapat meningkatkan motivasi dan kemampuan petani.
Semoga menggugah kita untuk memberi kekuatan untuk berkiprah.
***
Judul: Dari Jagoan Impor, Menjadi Eksportir Beras
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












