Isi Utama Perberasan Nasional

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Jum’at (13/06/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Isi Utama Perberasan Nasional” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Paling tidak, ada lima isu utama perberasan nasional yang tengah dihadapi saat ini. Ke lima isu tersebut adalah pertama terkait dengan ketersediaan dan stabilitas stok beras. Pemerintah terus memantau ketersediaan beras di pasar untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan. Stok beras di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) saat ini masih memadai dengan rata-rata stok sebesar 49.960 ton.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Kedua, produksi beras nasional. Berdasarkan proyeksi, produksi beras nasional diprediksi meningkat 14,95% pada Januari-Juli 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan total produksi mencapai 21,76 juta ton. Ketiga, berhubungan dengan harga beras. Pemerintah juga memantau harga beras untuk menjaga keterjangkauan masyarakat. Harga beras medium per 31 Januari 2024 adalah Rp 13.490 per kilogram, naik 14,4% secara tahunan.

Keempat soal Ketahanan Pangan. Pemerintah berupaya meningkatkan ketahanan pangan dengan mengoptimalkan peran Bulog dan BUMN pangan sebagai offtaker untuk menyerap produksi petani dan menjaga stabilitas pasokan dan harga beras. Kelima, bantuan pangan. Pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan kepada masyarakat kurang mampu untuk membantu meningkatkan akses mereka terhadap pangan yang terjangkau.

Jika diamati lebih mendalam, dapat ditegaskan, isu utama perberasan nasional saat ini, berfokus pada menjaga stabilitas stok, produksi, harga, ketahanan pangan dan bantuan pangan, untuk memastikan ketersediaan beras yang memadai bagi masyarakat. Ke lima isu ini saling terkait dan mempengaruhi satu dengan lainnya.

Ketersediaan dan stok beras di Indonesia saat ini cukup memadai. Berdasarkan proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2024, stok beras nasional di akhir tahun diperkirakan mencapai 8,398 juta ton, termasuk stok di Bulog yang diperkirakan sekitar 2 juta ton. Stok ini dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru.

Berikut rincian stok beberapa komoditas pangan strategis
– Stok Beras = 8,398 juta ton (diperkirakan hingga akhir tahun 2024)
– Stok Jagung = 3,665 juta ton (diperkirakan hingga akhir tahun 2024)
– Stok Gula Konsumsi = 1,478 juta ton (diperkirakan hingga akhir tahun 2024)

Pemerintah terus memantau ketersediaan dan harga beras untuk menjaga stabilitas pasar dan memastikan ketersediaan pangan yang memadai bagi masyarakat. Badan Pangan Nasional (NFA) dan Badan Pusat Statistik (BPS) juga melakukan survei stok beras dan jagung untuk memantau ketersediaan pangan dan merumuskan kebijakan yang tepat ² ³.

Ksitannya dengan produksi beras nasional saat ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras pada kuartal pertama tahun 2025 mencapai 13,95 juta ton, yang merupakan angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Ini meningkat sebesar 26,02% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Faktor yang mempengaruhi peningkatan produksi beras antara lain Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi beras, seperti distribusi pompa air untuk mengatasi kekeringan dan penyediaan benih unggul. Kemudian, iklim dan cuaca yang mendukung telah memungkinkan petani untuk memperbesar luas tanam. Selain Pemerintah juga melakukan intensifikasi lahan dan pompanisasi di Pulau Jawa, serta rehabilitasi irigasi di luar Jawa.

Bagaimana dengan kondisi hsrga beras ? Kondisi harga beras saat ini tidak disebutkan secara eksplisit, namun pemerintah telah menetapkan harga gabah petani sebesar Rp6.500 per kilogram dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Dengan produksi beras nasional yang mencapai 34,6 juta ton dan stok cadangan beras pemerintah yang mencapai 4,2 juta ton, Indonesia diharapkan dapat menjaga stabilitas harga beras dan memperkuat posisinya sebagai lumbung pangan strategis di tengah ancaman krisis pangan global.

Lalu, bagsimana dengan kondisi Ketahanan Pangan ? Kondisi ketahanan pangan di Indonesia saat ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Berdasarkan Global Food Security Index (GFSI), skor ketahanan pangan Indonesia meningkat dari 46,8 pada tahun 2012 menjadi 54,8 pada tahun 2018. Indonesia berada di peringkat ke-65 dari 113 negara dalam indeks tersebut.

Beberapa faktor yang mempengaruhi Ketahanan Pangan adalah
– Ketersediaan Pangan. Produksi beras nasional meningkat, dan stok cadangan beras pemerintah mencapai 3,5 juta ton.
– Keterjangkauan. Pemerintah berupaya meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan, terutama bagi rumah tangga miskin.
– Kualitas dan Keamanan. Pangan lokal kaya akan gizi dan dapat mendukung kesehatan masyarakat.

Tak kalah penting soal Bantuan Pangan Beras. Bantuan pangan berss saat ini sedang dalam proses persiapan penyaluran kepada masyarakat kurang mampu. Pemerintah telah memutuskan untuk menyalurkan bantuan pangan beras berupa beras kepada 18,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM) selama 2 bulan, yaitu Juni dan Juli 2025 Setiap KPM akan menerima 10 kilogram beras per bulan.

Tujuan Bantuan Pangan:Beras tersebut adalah mengurangi Kemiskinan. Bantuan pangan diharspkan dapat mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masysrakat kurang mampu. Selain itu, bantuan pangan juga diharapkan dapat membantu meningkatkan ketersediaan pangan bagi masyarakat kurang mampu.

Demikisn secara singkat digambarkan lima isu utama dunia perberasan nasional. Semoga jadi bahan pencermatan bersama.

***

Judul: Isi Utama Perberasan Nasional
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *