MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Rabu (11/06/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Menyimak Suara Komisi IV DPR Soal Beras!” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto mengapresiasi pemerintah yang berhasil membuat surplus beras sebesar 4 juta ton. Ia menilai hasil ini bagian dari upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan produksi beras nasional. Surplus beras ini adalah bukti nyata bahwa kebijakan pertanian kita sudah mulai menunjukkan hasil positif. Ini juga menjadi langkah penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

Titiek menyebut surplus 4 juta ton membuka peluang untuk meningkatkan ekspor beras ke negara-negara lain yang membutuhkan. Ia mengatakan hal ini harus dimanfaatkan Indonesia supaya hasilnya bisa dirasakan langsung oleh petani. Dengan surplus ini, kita tidak hanya bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi bisa memanfaatkan peluang ekspor untuk meningkatkan pendapatan petani dan perekonomian nasional.
Komisi IV DPR, menekankan Komisi IV DPR RI akan memantau dan mendukung program-program pertanian. Ia berharap produksi beras nasional tetap stabil dan meningkat. Komisi IV DPR berkomitmen untuk terus mendukung petani dan pemerintah dalam meningkatkan produksi beras dan menjaga ketahanan pangan nasional.
Di samping itu, Ketua Komisi IV DPR pun menyampaikan, dengan adanya surplus beras ini, diharapkan RI bisa semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan. Komisi IV ingin Indonesia mampu menghadapi tantangan global. Lebih jauh Titik mengucapkan selamat kepada pemerintah atas capaian surplus beras 4 juta ton. Hal ini merupakan bukti nyata keberhasilan kebijakan pertanian dan komitmen pemerintah dalam meningkatkan produksi beras nasional.
Legislator Fraksi Gerindra ini mengingatkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, bersama jajarannya, mencari solusi yang tepat di tengah anomali cuaca yang tidak menentu. Ia ingin dampak cuaca ini mampu diminimalkan. Fenomena sergapsn El Nino dua tahun lalu, sepantasnya dijadikan bahan pembelajaran Pemerintah ke depan.
Setelah Indonesia mampu surplus beras 4 juta ton, beberapa masalah serius yang mungkin timbul adalah soal pengelolaan surplus yang efektif. Indonesia perlu mengelola surplus beras ini dengan efektif untuk memastikan bahwa beras tidak menjadi basi atau terbuang sia-sia. Pemerintah harus memiliki strategi yang baik untuk menyimpan dan mendistribusikan surplus beras ini.
Selanjutnya, problem stabilitas harga. Dengan surplus beras yang besar, harga beras di pasar domestik mungkin akan turun. Namun, dalam kaitan ini, pemerintah perlu memastikan bahwa harga beras tetap stabil dan menguntungkan bagi petani, serta terjangkau bagi konsumen, tetap menjadi priorotas penanganannya.
Ketiga, peningkatan kualitas beras. Dengan surplus beras, Indonesia memiliki kesempatan untuk meningkatkan kualitas beras yang dihasilkan. Pemerintah dapat mempromosikan penggunaan teknologi pertanian yang lebih baik dan meningkatkan kemampuan petani dalam mengelola pertanian.
Keempat, ekspor beras. Indonesia dapat mempertimbangkan untuk mengekspor beras ke negara lain yang membutuhkan. Namun, pemerintah perlu memastikan bahwa ekspor beras tidak mengganggu ketersediaan beras di pasar domestik. Kelima, pengawasan terhadap penyelundupan. Pemerintah perlu meningkatkan pengawasan terhadap penyelundupan beras untuk memastikan bahwa surplus beras tidak disalahgunakan.
Surplus beras 4 juta ton berarti bahwa produksi beras dalam negeri melebihi kebutuhan konsumsi domestik sebesar 4 juta ton. Artinya, Indonesia memiliki kelebihan produksi beras yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti pertama meningkatkan cadangan beras nasional.
Surplus beras dapat digunakan untuk meningkatkan cadangan beras nasional, sehingga dapat membantu menjaga stabilitas harga dan ketersediaan beras di pasar. Kedua, ekspor beras. Surplus beras juga dapat diekspor ke negara lain, sehingga dapat meningkatkan pendapatan negara dan petani.
Ketiga, mengurangi ketergantungan pada impor. Dengan memiliki surplus beras, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor beras dan meningkatkan kemandirian pangan. Surplus beras 4 juta ton merupakan indikator positif bagi ketahanan pangan Indonesia dan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat.
Suara Komisi IV DPR, yang memberi apresiasi positip kepada Pemerintah, terkait dengan dunia perberasan di tanah air, sepatutnya dilakukan. Produksi beras yang meningkat cukup signifikan, serapan gabah oleh Perum Bulog yang cukup tinggu dan semakin kokohnya cadangan beras Pemerintah, memberi sinyal bahwa Indonesia sudah kembali mampu berswasembada beras.
Harapan petani kepada Komisi IV DPR, bagaimana upaya kreatif dan inovatif yang bakal digarap Pemerintah, jika benar Indonesia swasembada beras lagi, maka kualitas dari swasembada beras yang diraih, tidak lagi bersifat swasembada beras ‘on trend’, namun sudah selayaknya kita tunjukan kepada warga dunia, yang namanya swasembada beras kita adalah swasembada beras berkelanjutan.
Itu sebabnya, menjadi sangat masuk akal bila Komisi IV DPR, pun memberi pengawalan dan pengawasan khusus atas kinerja Pemerintah dalam melahirkan regulasi, kebijakan, program dan kegiatannya di lapangan. Termasuk kiprah Perum Bulog sebagai operator pangan Pemerintah.
***
Judul: Menyimak Suara Komisi IV DPR Soal Beras!
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












