Kegelisahan Petani Saat Panen Raya

oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (09/06/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Kegelisahan Petani Saat Panen Raya” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Ada beberapa alasan penting, mengapa petani merasa gelisah ketika panen raya tiba. Paling tidak, ada empat alasan yang dapat disampaikan. Pertama, ketakutan harga gabah turun. Petani khawatir bahwa harga gabah akan turun drastis ketika panen raya tiba, sehingga mereka tidak mendapatkan pendapatan yang diharapkan.

Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Kedua, keresahan tentang penjualan. Petani gelisah tentang bagaimana mereka akan menjual hasil panennya dengan harga yang baik dan dalam waktu yang tepat. Ketiga, kekhawatiran tentang biaya produksi. Petani khawatir bahwa biaya produksi yang telah mereka keluarkan tidak akan tertutupi oleh pendapatan dari penjualan gabah.

Keempat, ketidakpastian pasar. Petani gelisah tentang ketidakpastian pasar dan bagaimana mereka akan menghadapi perubahan harga dan permintaan. Hal ini wajar, karena setiap panen raya tiba, para petani selalu dihadapkan pada anjloknya harga gabah. Itu sebabnya, petani butuh jaminan Pemerintah untuk mendapat harga yang wajar.

Berdasarkan pengamatan yang dilakuksn, petani boleh jadi ketakutan akan harga turun karena beberapa alasan, seperti biaya produksi yang tinggi. Petani telah mengeluarkan biaya produksi yang tinggi untuk membudidayakan padi, sehingga mereka berharap mendapatkan harga yang baik untuk gabahnya.

Bisa juga berkaitan dengan kebutuhan pendapatan. Petani membutuhkan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga, sehingga mereka khawatir jika harga gabah turun drastis. Atau karena ketergantungan pada hasil panen. Petani sering tergantung pada hasil panen sebagai sumber pendapatan utama, sehingga mereka khawatir jika harga gabah turun maka pendapatan mereka juga akan turun. Bahksn karena pengalaman sebelumnya. Petani mungkin pernah mengalami harga gabah yang turun drastis pada panen sebelumnya, sehingga mereka khawatir hal yang sama akan terjadi lagi. Akibatnya, petani merasa was-was atas perkembangan yang ada, khususnya dalam mengikuti harga jual gabah di tingkat petani.

Selanjutnya, petani mungkin resah soal penjualan karena beberapa alasan, seperti tidak tahu kemana menjual. Petani mungkin tidak tahu kemana mereka bisa menjual hasil panennya dengan harga yang baik. Bisa juga khawatir tidak laku. Petani khawatir bahwa hasil panennya tidak laku dijual, sehingga mereka tidak bisa mendapatkan pendapatan yang diharapkan.

Atau harga yang tidak pasti. Petani khawatir bahwa harga jual gabahnya tidak pasti, sehingga mereka tidak bisa memperkirakan pendapatan mereka dengan akurat. Selain itu, petani mungkin tergantung pada pembeli tertentu, sehingga mereka khawatir jika pembeli tersebut tidak mau membeli hasil panennya.

Berikutnya, petani mungkin khawatir tentang biaya produksi karena beberapa alasan, seperti biaya yang tinggi. Petani telah mengeluarkan biaya yang tinggi untuk membudidayakan padi, seperti biaya benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja. Kemudian, tidak yakin bisa menutup biaya. Petani khawatir bahwa pendapatan dari penjualan gabah tidak cukup untuk menutup biaya produksi yang telah dikeluarkan.

Bahkan soal risiko kerugian. Petani khawatir bahwa jika harga gabah turun atau hasil panen tidak sesuai harapan, maka mereka akan mengalami kerugian. Petani mungkin khawatir tentang ketidakpastian pasar karena beberapa alasan, seperti terjadinya perubahan harga. Harga gabah dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi pasar, sehingga petani tidak bisa memperkirakan pendapatan mereka dengan akurat.

Adanya perubahan permintaan. Maksudnya, permintaan gabah dapat berubah-ubah tergantung pada kondisi pasar, sehingga petani tidak bisa memperkirakan berapa banyak gabah yang akan laku dijual. Juga karena ketergantungan pada faktor eksternal. Petani tergantung pada faktor eksternal seperti cuaca, kebijakan pemerintah, dan kondisi ekonomi global, sehingga mereka tidak bisa mengontrol sepenuhnya kondisi pasar.

Mencermati pengalaman panen raya kemarin, para petani sepertinya sudah tidak merasa was-was lagi, karena Pemerintah telah menetapkan aturan dan kebijakan pembebasan petani dari persyaratan kadar air dan kadar hampa dalam menjual gabahnya kepada Perum Bulog. Ditambah lagi dengan ditetapkan nya kebijakan satu harga gabah yang menguntungkan petani.

Aturan dan kebijakan baru ini, terbukti mampu meredam kegelisahan para petani dalam melakoni panen raya. Buktinya, hampir tidak pernah kita mendengar suara petani yang mengeluhkan anjloknya harga gabah. Petani terekam senang-senang saja menjual gabah hasil panennya, karena ada jaminan harga yang telah ditetapkan Pemerintah.

Mengingat kepercayaannya yang tinggi terhadap kehadiran Perum Bulog yang ditugaskan Pemerintah untuk menyerap gabah, maka petani pun tidak merasa keberatan untuk menjual gabahnya kepada Perum Bulog. Padahal, sebelum-sebelumnya, petani lebih suka menjual gabahnya kepada bandar, tengkulak atau pengusaha gabah yang ada dilingkungannya.

Pemerintahan Presiden Prabowo, sepertinya mampu mengobati kegelisahan petani. Kerisauan petani ssat panen tiba, kini terjawab oleh kebijakan yang betul-betul pro petani. Semoga akan terus melestari dalam kehidupan kaum tani di Tanah Merdeka.

***

Judul: Kegelisahan Petani Saat Panen Raya
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

Kursus bahasa Sunda
Advertorial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *