MajmusSunda News, Cirebon, (3/11/2026)-Syekh Syarif Hidayatullah putra dari Syari Abdullah Sultan dari Mesir telah meninggalkan negeri ayahnya karena Syarif Abdullah sudah wafat. Iapun pun bertolak ke Cirebon sekalian bertemu dengan Uwaknya Syekh Abdul Iman (Walang Sungsang).
Namun sebelum ke Cirebon Syekh Syarif Hidayatullah singgah dulu ke Demak menemui para ulama (wali Songo). Syarif Abdullah adalah putra Nurul Alim atau Ali Burul Amin yang mempunyai saudara Bartkat Zainul Abidin (cicit Fadhilah Khan ) dan Ibrahim Zainal Akbar (ayahnda Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat atau Sunan Ampel).
Jika melihat silsilah ditas ternyata Syekh Syarif Hidayatullah itu (kapipaman=Sunda) dan Syekh Syarif Hidayatullah dengan Fadhillah Khan itu hubungannya keponakannya (kapisuan=Sunda).
Nurul Alim (Ali Burul Alim), Barkat Zainul Abidin dan Ibrahim Zainul Akbar adalah putra cicit Rasulullah SAW.
Nurul Alim menikah dengan putri Kerajaan Mesir, karena itulah putranya Syarif Abdullah jadi Sultan Mesir. Yuyus Suherman dalam bukunya Sejarah Perintisan dan Penyebaran Islam di Tatar Sunda menulis Syekh Syarif Hidayatullah sejak kedatangannya di Pakungwati (Cirebon) giat menyebarkan Agama Islam terutama untuk di tatar Sunda (Jawa Barat). Selama hidupnya ia menikah beberapa kali dan menurunkan beberapa anak .
Pertama ia menikah Nyi Ratu Mas Pakungwati (Rara Jati) putri Ki Gedeng Alang-alang (Sri Mangana Ki Kuwu Cirebon) memperolah dua orang putra Pangeran Jayakelana dan Pangeran Bratakelana.
Kedua ia menikah dengan Nyi Mas Kawunganten, putri Bupati Banten (bawahan Kerajaan Sunda-Pakuan Pajajaran), pada tahun 1475 M. Dari Nyi Ratu Mas Kawunganten sama memperoleah dua anak Sabakingkin atau Pangeran Hasanudin dan Ratu Ayu Kirana (Siti Winahon)
Ketiga ia menikah dengan Nyi Mas Siti Babadan, putri bangsawan di Babadan-Cirebon dan tidak memperoleh keturunan. Keempat ia menikah dengan Nyi Mas Tepasari dari Bumiayu, Brebes. Ia memperoleh seorang anak Pangeran Muhammad Arifin atau Pangeran Pasarean.
Sedangkan yang kelima ia menikah dengan putri asal Tiongkok (China) bernama Ong Tien atau Nyi Mas Rara Sumanding menikah tahun 1479 dan tak memperoleh keturunan.
Situasi dan kondisi di Pakungwati (Curebon) terus berkembang dengan pesat. Syekh Abdul Iman (Uwanya Syekh Syarif Hidayatullah) sudah tiba waktunya untuk mengundurkan diri.
Maka sekembalinya Syek Syarif Hidyatullah melawat ke Tanah Cina dengan memakai nama Syekh Ibnu Maulana Insan Kamil pada tahun 1479 M secara resmi ia menyatkan Syekh Syarif Hidayatullah sebagai penggantinya.
Tidak beberapa setelah itu dengan penuh kemantapan Syekh Syarif Hidayatullah (1479 M) menyatakan berdirinya kota Cirebon dibawah kepemimpinannya,












