Prabu Siliwangi Murka Kirim Pasukan Dibawah Pimpinan Tumenggung Jagabaya, Setelah Cirebon Lepas dari Pajajaran

Setelah Pakungwati atau Cirebon dikendalikan oleh Syekh Syarif Hidayatullah dari Uwanya Syekh Abdul Iman atau Walang Sungsang perkembangan wilayahnya cukup pesat, mengalami kemajuan yang cukup membuat pihak Pajajaran ketar-ketir.

Jejak tapak lacak Keraton Cirebon (Foto: Istimewa)

MajmusSunda News, Cirebon, Selasa, (3/11/2026)-Kekhawatiran Prabu Siliwangi kepada Syekh Syarif Hidayatullah cucunya sendiri dengan kemajuan dan kekuatan Cirebon untuk melepaskan diri dari Pajajaran, ternyata menjadi kenyataan.

Setelah Pakungwati atau Cirebon dikendalikan oleh Syekh Syarif Hidayatullah dari Uwanya Syekh Abdul Iman atau Walang Sungsang perkembangan wilayahnya cukup pesat, mengalami kemajuan yang cukup membuat pihak Pajajaran ketar-ketir.

Pernyataan secara resmi Cirebon lepas dari Pajajaran langsung dinyatakan sendiri oleh Syekh Syarif Hidayatullah atau dikenal juga dengan nama Sunan Gunungjati.

Dikutip dari buku Sejarah Perintisan Penyebaran Islam di Tatar Sunda ditulis oleh Drs Yuyus Suherman, Prabu Siliwangi, mendengar sendiri pernyataan Syekh Syarif Hidayatullah memerdekan diri dari Pajajaran Prabu Siliwangi menjadi murka.

Tidak lama kemudian Prabu Siliwangi mengirim pasukan Pajajaran ke Cirebon dipimpin langsung oleh panglimanya yang terkenal Tumenggung Jayabaya.

Hanya saja saat pasukan Pajajaran tiba di Gunung Sembung disergap gabungan pasukan Cirebon-Demak. Banyak pasukan yang dipimpin Tumenggung Jagabaya ditawan.

Sedangkan Tumenggung Jagabaya sendiri diperkenankan kembali ke Pajajaran, setelah sebelumnya diberi pesan untuk Prabu Siliwangi yang tidak lain adalah kakeknya sendiri untuk sudi menerima Islam sebagai agama anutannya.

Ajakannya Syekh Syarif Hidayatullah kepada Prabu Siliwangi untuk masuk Islam bukan hanya ditolak. Namun tambah murka, dan dijawab oleh Prabu Siliwangi dengan mengirim pasukannya lebih besar lagi ke Cirebon.

Hanya saja sebelum terlaksana mengirim pasukan besarnya ke Pakungwati atau Cirebon ada salah satu purohita (pemimpin agama Hyang) Pajajaran, Ki Purwagalih pasukan besar yang siap dikirim itu dapat dicegah.

Purwagalih menasehati Prabu Sliwangi dan menyatakan Cirebon bisa berdiri karena hasil jerih payah putra-putri Pajajaran sendiri (Pangeran Walang Sungsang dan Nyi Mas Ratu Rara Santang).

Lebih dari itu Puwagalih menuturkan yang menjadi kepala pemerintahan (kesultanan Cirebon), tidak lain cucunya sendiri Syekh Syarif Hidayatullah.

Kekuatan Cirebon saat itu memang dibantu oleh kekuatan Angkatan Laut Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Pati Unus. Prabu Siliwangi akhirnya menerima nasihat Ki Purwagalih.

Prabu Siliwangi berpandangan Cirebon bukanlah ancaman, tapi yang harus diwaspadai adalah kekuatan Angkatan laut Demak. Prabu Siliwangi mendengar Sultan Demak Raden Fatah yang ingin mengislamkan Tanah Jawa, termasuk Tatar Sunda.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *