MajmusSunda News, Senin (02/11/2026) – Artikel berjudul “Hidup Bertambah dan Berkurang” ini ditulis oleh: Yudi Latif, Ph.D, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Usia bukan sekadar angka yang bertambah di kalender, melainkan jejak sunyi yang ditinggalkan waktu di tubuh dan ingatan.
Setiap tahun yang datang membawa dua wajah: satu menghadap kehidupan,
satu lagi menghadap ketiadaan.

Kita tumbuh seperti pohon semakin tinggi, semakin dalam akar menyentuh tanah kehilangan. Wajah perlahan menjadi peta perjalanan, menyimpan nama-nama yang pernah tinggal, jalan-jalan yang tak mungkin dilalui untuk kedua kalinya.
Dan dari perjalanan itu barangkali kedewasaan tumbuh: belajar melepaskan
tanpa harus mengingkari cinta; menerima bahwa tak semua yang pergi harus dipanggil pulang, dan tak semua yang telah berlalu perlu ditemukan kembali.
Pada akhirnya, waktu tak pernah berjalan bersama kita. Ia berjalan melewati kita,
membawa hari-hari yang tak pernah bisa dikembalikan.
Maka usia bukan tentang berapa lama kita telah hidup, melainkan seberapa penuh kita hadir di antara lahir dan tiada.
Sebab ketika semuanya usai, yang tinggal bukan hitungan tahun, melainkan cahaya yang sempat menyala—dalam cinta yang pernah diberikan, dalam luka yang pernah disembuhkan, dalam jejak yang diam-diam
tinggal di hidup orang lain.
Mungkin begitulah manusia menolak benar-benar hilang:
bukan dengan menjadi abadi, melainkan dengan meninggalkan sesuatu yang tetap hidup di hati yang pernah disentuhnya.
***
Judul: Hidup Bertambah dan Berkurang
Penulis: Yudi Latif, Ph.D
Editor: Raka Alvaro Triputra
Sekilas tentang penulis
Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.
Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.
Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.
Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.












