Nyala Yogya

oleh: Prof. Yudi Latif

MajmusSunda News, Rabu (08/04/2026) Artikel berjudul “Nyala Yogya” ini ditulis oleh: Prof. Yudi Latif, pria kelahiran Sukabumi, Jawa Barat dan Anggota Dewan Pinisepuh/Karamaan/Gunung Pananggeuhan Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Saudaraku, Yogyakarta bukanlah kota tempat aku pernah menetap, namun senantiasa punya tempat di hati. Ada ruang yang diam-diam ia isi rindu yang tak menuntut, tapi selalu memanggil pulang. Sungguh menyenangkan bisa kembali ke kota ini saat menghadiri perayaan ulang tahun ngarso dalem, Sri Sultan Hamengkubuwono X, ke-80 (02/04/2026).

Menziarahi Yogya ibarat menyusuri denyut terdalam republik napak tilas ke jantung yang pernah berdegup paling kencang saat kemerdekaan nyaris kehilangan nadinya. Ia bukan sekadar kota, melainkan bara api yang tak pernah benar-benar padam, bahkan ketika angin sejarah berembus kencang.

Prof. Yudi Latif
Prof. Yudi Latif – (Sumber: Koleksi pribadi)

Di setiap sudutnya, waktu beringsut perlahan. Tembok tua menyimpan bisik, jalanan mengalun dalam langkah bersahaja, dan deru becak yang kian sayup menjadi elegi bagi zaman yang menghilang.

Di kota ini, Indonesia seperti bercermin pada dirinya sendiri. Yogya menjelma miniatur kebangsaan ruang perjumpaan segala rupa, bahasa, dan keyakinan; tempat keragaman dirajut dalam kesadaran kewargaan. Dalam anyaman Bhinneka Tunggal Ika, perbedaan menjadi pengikat, bukan pemisah.

Di bawah langit yang kadang muram, Yogya pernah menjadi sandaran terakhir republik. Ia memanggul beban sejarah dengan diam yang teguh menjaga ibukota bukan hanya dengan strategi, tetapi dengan kesetiaan. Darah mengalir, tekad mengeras, rakyat berdiri tanpa gentar, menjadikan kota ini benteng yang tak mudah ditembus.

Keraton menjadi saksi: kuasa bersanding dengan kebijaksanaan, raja menjaga marwah, bukan sekadar tahta. Malioboro pun berdenyut sebagai nadi, tempat perlawanan bersembunyi dalam temaram, dalam sunyi yang justru lantang menyuarakan merdeka.

Di Yogya, waktu tak sekadar berjalan ia berzikir. Sejarah tak ditinggalkan, melainkan dihayati, mengalir dalam ingatan yang setia. Yogya bukan hanya benteng republiken, tetapi pengingat: bahwa bangsa ini pernah berdiri di tepi jurang dan memilih untuk tidak jatuh.

Dan manakala kehidupan republik terkepung awan kelam, berjalan sesat arah, mungkin kita tak perlu mencari sumber api baru. Kita bisa menghidupkan kembali api revolusi yang mengendap di tanah Yogya untuk menuntun bangsa kembali ke jalan terang.

***

Judul: Nyala Yogya
Penulis: Prof. Yudi Latif
Editor: Raka Alvaro Triputra

Sekilas tentang penulis

Prof. Yudi Latif adalah seorang intelektual terkemuka dan ahli dalam bidang ilmu sosial dan politik di Indonesia. Pria yang lahir Sukabumi, Jawa Barat pada 26 Agustus 1964 ini tumbuh sebagai pemikir kritis dengan ketertarikan mendalam pada sejarah, kebudayaan, dan filsafat, khususnya yang terkait dengan Indonesia.

Pendidikan tinggi yang ditempuh Yudi Latif, baik di dalam maupun luar negeri, mengasah pemikirannya sehingga mampu memahami dinamika masyarakat dan politik Indonesia secara komprehensif. Tidak hanya itu, karya-karyanya telah banyak mengupas tentang pentingnya memahami identitas bangsa dan menguatkan nilai-nilai kebhinekaan.

Sebagai seorang akademisi, Yudi Latif aktif menulis berbagai buku dan artikel yang berfokus pada nilai-nilai kebangsaan dan Islam di Indonesia. Salah satu karya fenomenalnya adalah buku “Negara Paripurna” yang mengulas konsep dan gagasan mengenai Pancasila sebagai landasan ideologi dan panduan hidup bangsa Indonesia.

Melalui bukunya tersebut, Yudi Latif menekankan bahwa Pancasila adalah alat pemersatu yang dapat menjembatani perbedaan dan memperkokoh keberagaman bangsa. Gagasan-gagasan Yudi dikenal memperkaya wacana publik serta memperkuat diskusi mengenai kebangsaan dan pluralisme dalam konteks Indonesia modern.

Di luar akademisi, Yudi Latif juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya pernah menjabat sebagai Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Indonesia. Melalui perannya ini, ia berusaha membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap Pancasila sebagai ideologi negara. Komitmennya dalam mengedepankan nilai-nilai kebangsaan membuatnya dihormati sebagai salah satu tokoh pemikir yang berupaya menjaga warisan ideologi Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *