MajmusSunda News, Bogor, 13/12/2025 – Tanggal 7 Juli 2007, Jakarta diguyur hujan yang tidak tergesa. Air jatuh pelan, seperti sengaja memberi waktu bagi manusia untuk menimbang ulang hidupnya. Di sebuah musala kecil di pinggir kota, Kang Asaka duduk bersila setelah Subuh, menutup kitab tipis yang sejak tadi ia baca tanpa suara. Ia tidak mengejar kesimpulan. Ia hanya membiarkan kata-kata tinggal sebentar di dadanya.
Kang Asaka bukan siapa-siapa. Ia hidup dari pekerjaan serabutan, kadang mengajar mengaji, kadang membantu di kebun kecil di Nurabi, sebuah kota yang jarang disebut orang. Ia belajar agama bukan untuk menjadi pintar, melainkan untuk tetap waras. Baginya, iman bukan sesuatu yang diumumkan, tapi ditanggung.
Di hari yang sama, di rumah besar di Jakarta Selatan, Neng Ainudia bersiap ke sekolah. Seragamnya rapi, tasnya bermerek, hidupnya teratur. Ia anak tunggal dari keluarga berkecukupan. Ibunya penuh perhatian, ayahnya mapan dan jarang menolak permintaan. Ainudia tumbuh dengan keyakinan halus bahwa dunia pada dasarnya ramah.
Ia mengenal Tuhan lewat doa-doa pendek sebelum tidur, lewat ucapan syukur yang diajarkan ibunya setiap pagi. Semua berjalan ringan. Hidup baginya seperti jalan beraspal mulus—cukup berjalan lurus, maka tujuan akan tercapai.
Tak ada yang mengira bahwa pada hari itu, dua kehidupan yang jauh berbeda itu sedang berjalan menuju satu simpul yang sama. Tidak cepat. Tidak keras. Hanya pelan—seperti hujan pagi yang tampak biasa, tapi menyimpan kemungkinan banjir di kemudian hari.
Dunia Ainudia berubah bentuk ketika ibunya meninggal. Sakit itu datang singkat, pergi cepat, meninggalkan rumah yang terlalu sunyi. Ainudia seperti kehilangan pusat gravitasi. Ia tetap sekolah, tetap tersenyum, tapi sesuatu di dalam dirinya runtuh tanpa suara.
Ayahnya berusaha kuat. Ia mengisi kekosongan dengan kerja dan kesibukan. Sampai suatu hari, ia memperkenalkan seorang perempuan—muda, cantik, dan terlalu dekat usianya dengan Ainudia. Pernikahan itu berlangsung sederhana, nyaris tergesa, seolah ingin segera menutup luka lama.
Ainudia tidak marah. Ia hanya merasa asing di rumah sendiri.
Ibu sambungnya ramah, terlalu ramah. Senyumnya rapi, kata-katanya manis. Tapi Ainudia merasakan jarak yang tak bisa dijembatani. Ia memilih diam, menyimpan perasaan seperti menyimpan barang pecah belah—tak berani disentuh terlalu sering.
Keguncangan itu mencapai puncaknya ketika suatu malam Ainudia melihat pesan-pesan di ponsel ibu sambungnya. Kata-kata mesra, janji pertemuan, nama laki-laki lain. Dadanya sesak. Dunia yang ia kenal retak sepenuhnya.
Ia ingin bicara pada ayahnya, tapi tak sanggup. Ada cinta di wajah ayahnya yang terlalu rapuh untuk dihancurkan. Ainudia memilih menelan kebenaran sendirian.
Sejak itu, ia sering terbangun malam hari. Doanya berubah bentuk—bukan lagi permintaan, melainkan pertanyaan. Mengapa hidup bisa sedemikian rumit? Mengapa pujian yang dulu mudah kini terasa palsu?
Ketika Ainudia akhirnya bicara, ayahnya mendengar. Namun cinta dan tanggungjawab membuat pendengaran itu selektif. Ia tetap memilih istrinya, terlebih ketika diketahui bahwa perempuan itu mengandung.
“Kadang kita harus memaafkan agar hidup tetap berjalan,” kata ayahnya.
Ainudia mengangguk, meski di dalam dirinya ada sesuatu yang runtuh untuk kedua kalinya.
Tak lama kemudian, keputusan dibuat: Ainudia akan melanjutkan sekolah ke luar negeri. Katanya demi masa depan. Ainudia tahu, itu juga demi ketenangan rumah.
Di negeri orang, Ainudia belajar hidup mandiri. Ia berprestasi, disukai guru, tampak baik-baik saja. Tapi malam-malamnya panjang. Ia merasa seperti orang yang kehilangan arah pulang.
Kabar dari Jakarta semakin membuat dadanya berat. Ibu sambungnya semakin berani. Ayahnya semakin tenggelam dalam perannya sebagai pelindung. Ainudia tak lagi punya tempat mengadu.
Ia pulang ke Indonesia pada liburan semester, dan singgah di Narubi, mengikuti temannya yang ingin menghadiri pengajian kecil. Di sanalah ia bertemu Kang Asaka.
Tak ada ceramah panjang. Kang Asaka hanya membaca satu ayat, lalu diam. Diam yang panjang. Diam yang membuat Ainudia tiba-tiba menangis tanpa tahu sebabnya.
Setelah acara usai, mereka berbincang singkat. Ainudia bercerita tanpa disela. Kang Asaka mendengar, seperti tanah menerima hujan.
“Dalam hidup,” kata Kang Asaka pelan, “ada orang yang memuji ketika bahagia. Ada pula yang belajar memuji ketika kehilangan. Yang kedua lebih sunyi, tapi lebih jujur.”
Kata-kata itu tinggal lama di dada Ainudia.
Ibu sambung Ainudia melahirkan. Bayi itu sehat, tapi wajahnya asing. Orang-orang mulai berbisik. Namun ayah Ainudia semakin menyayangi istri dan anaknya. Cinta, rupanya, tak selalu membutuhkan kebenaran.
Beberapa bulan kemudian, ayah Ainudia meninggal dalam kecelakaan saat pulang kerja. Dunia Ainudia berhenti sejenak. Ia pulang ke rumah yang kini benar-benar asing.
Di pemakaman, ibu sambungnya berdiri kering. Tak ada air mata. Yang ada hanya kesibukan mengatur segala sesuatu. Ainudia berdiri sendiri, merasakan kehilangan yang tak lagi punya sandaran.
Di tengah duka itu, ia teringat Kang Asaka. Ia pergi ke Nurabi, membawa kesedihan yang sudah tak bisa disembunyikan.
“Apakah Tuhan masih layak dipuji ketika semua diambil?” tanya Ainudia dengan suara gemetar.
Kang Asaka menatapnya lama. “Justru di sanalah pujian diuji. Pujian yang tak bergantung pada keadaan.”
Ainudia menangis. Tangis yang tak lagi meminta jawaban, hanya pelepasan.
Masalah belum selesai. Ibu sambung Ainudia menguasai harta ayahnya. Ada surat wasiat—palsu—yang menyatakan pembagian tak adil. Ainudia tahu, tapi memilih tak bertarung. Ia lelah, bukan karena kalah, tapi karena telah belajar melepaskan.
Di Nurabi, ia tinggal lebih lama. Hidup sederhana. Bangun pagi, membantu, belajar diam. Dari Kang Asaka, ia belajar bahwa pujian bukan ucapan, melainkan cara bertahan tanpa membenci.
Ia mulai tenang. Bukan karena masalah selesai, tapi karena hatinya tak lagi menuntut dunia berlaku sesuai keinginannya.
Hidup tidak selalu bahagia. Dan mungkin memang tidak dimaksudkan demikian. Bahagia adalah jeda, bukan tujuan. Harta adalah alat, bukan jawaban.
Ainudia kembali ke hidupnya dengan kesdaran baru: bahwa menjadi manusia terpuji bukan berarti hidup tanpa luka, melainkan mampu memuji dalam keadaan apa pun.
Dan Kang Asaka tetap berjalan, belajar, memuji—seperti nama yang tak pernah ia sebut, tapi ia hidupi. Di sanalah makna “terpuji” hadir diam-diam: memuji bukan karena dunia ramah, melainkan karena Tuhan tetap layak dipuji, bahkan ketika hidup tidak.
*****
Judul: Belajar Memuji Dari Kehilangan
Pengarang: Abah Ahmadin (Pengasuh Saung Larang)












