Ketika Angka Menyusun Dunia dan Kesadaran Menyinari Akhirat

Penulis: NOER Widianingrat (Pembelajar Probono)

Ketika Angka Menyusun Dunia dan Kesadaran Menyinari Akhirat.

MajmusSunda News, Garut, 6 Desember 2025 – Dalam petuah Sunda yang diwariskan lintas generasi, terucap nasihat halus namun sarat makna: “elmu tuntut, dunya siar.” Sebuah ungkapan yang menegaskan bahwa baik urusan dunia maupun akhirat hanya dapat diraih melalui ilmu. Dalam tradisi keilmuan Islam, pemahaman ini sejalan dengan pandangan Al-Ghazâlî yang dalam Misykât al-Anwâr menjelaskan ilmu adalah cahaya—nûr—yang memungkinkan manusia membedakan arah perjalanan hidupnya (Al-Ghazâlî, 1964). Dengan kata lain, bukan dunia yang keliru, bukan pula akhirat yang jauh; melainkan kurangnya cahaya pengetahuan yang membuat keduanya terasa bertentangan.

Ibna ‘Arabî melangkah lebih jauh dalam pembacaan relasi dunia–akhirat. Menurutnya, manusia tidak bisa menempatkan dua orientasi itu dalam keseimbangan “lima puluh–lima puluh,” karena hati selalu condong pada satu pusat gravitasi (Chittick, 1989). Fenomena ini tergambar jelas dalam kisah mengenai “A” dan “B.”

“A,” sejak baligh hingga dewasa, memilih jalan ilmu dan keruhanian. Ia mendalami pendidikan formal, lalu menekuni perjalanan spiritual. Dari sudut pandang makna hidup, ia mencapai puncak kesadaran; namun dari sisi “ekonomi” tetap berada dalam kecukupan dasar. “B,” sebaliknya, memilih jalur “kasab”, berbisnis sejak muda, dan memperoleh kelimpahan materi. Namun ia tidak mengalami pertumbuhan spiritual yang mendalam.

Analisis Ibn ‘Arabî menjadi kunci memahami dua fenomena tersebut: setiap orientasi hidup menciptakan bentuk realitasnya sendiri (kawn), karena manusia memproyeksikan energinya pada satu tujuan utama (Chodkiewicz, 1993). Dengan demikian, “A” dan “B” bukan sekadar dua individu, tetapi dua arketipe pilihan eksistensial. Di wilayah duniawi, ekonomi bergerak melalui substansi angka. Kekayaan diukur dengan digit, pencapaian diukur dengan jumlah, dan status sosial berkaitan erat dengan nominal. Psikologi modern menunjukkan angka—khususnya angka uang—mempengaruhi cara manusia memandang dirinya dan orang lain. Vohs, Mead, & Goode (2006) menemukan kesadaran akan uang meningkatkan rasa kemandirian, tetapi sekaligus menurunkan sensitivitas terhadap kebutuhan sosial. Maka dunia angka bukan hanya sistem ekonomi; ia membentuk struktur batin manusia modern.

Sebaliknya, substansi akhirat adalah kesadaran. Kesadaran tidak dapat dipadatkan dalam grafik, tetapi dapat dialami secara langsung. Dalam psikologi transpersonal, kesadaran disebut sebagai dimensi batin yang memungkinkan manusia memasuki wilayah makna, kehadiran, dan ketenangan spiritual (Wilber, 2000). Jika dunia angka menegangkan otot manusia menuju produktivitas, maka dunia kesadaran melemaskan jiwa untuk memahami dirinya.

Peradaban milenium kedua mencapai puncaknya saat ilmu pengetahuan berpadu dengan teknologi digital. Teknologi digital beroperasi melalui algoritma, yakni logika angka yang disusun menjadi pola (Castells, 2010). Dengan demikian, teknologi adalah manifestasi tertinggi dari dunia angka. Tidak mengherankan bila uang—yang juga berwujud angka—menjadi alat pemersatu global. Ia menembus batas negara, agama, suku, bahkan ideologi. Simmel (1990) menyebut uang sebagai “penyaring universal” yang dapat diterima semua lapisan masyarakat tanpa perdebatan.

Tetapi di tengah kemapanan dunia angka, dimensi agama menghadapi paradoks. Masyarakat semakin haus makna, namun sebagian pemaknaan keagamaan masih disampaikan dalam bingkai tradisional yang tidak selalu kompatibel dengan realitas modern. Berger (1999) mencatat bahwa ketika agama tidak melakukan pembaruan penafsiran, ia akan menemui kejenuhan sosial. Yang jenuh bukan nilai-nilainya, melainkan cara ia dipresentasikan.

Meski demikian, zaman ini tidak hanya menyuguhkan tantangan, tetapi juga peluang. Banyak nilai spiritual—seperti syukur, ketenangan batin, atau keikhlasan—yang kini dapat dijelaskan melalui riset neurologi dan psikologi. Davidson & Goleman (2017), misalnya, menunjukkan melalui kajian neuroscientific, latihan spiritual dapat mengubah struktur otak menuju keseimbangan emosional dan kejernihan mental. Artinya, sejumlah substansi ajaran agama dapat dipahami ulang melalui bahasa sains, tanpa menghilangkan kedalaman metafisiknya. Dalam konteks ini, muncul kecenderungan baru: pemaknaan agama yang tidak secara rigid terikat bentuk lama, namun tetap berakar pada esensi nilai. Ia bukan “keluar dari kitab,” melainkan “keluar dari bentuk pembacaan kitab yang selama ini dipakai.” Pemahaman keagamaan ini lebih reflektif, lebih metodis, dan lebih dialogis dengan ilmu pengetahuan.

Akhirnya, sembilan pokok pemikiran ini memperlihatkan bahwa manusia modern berada di persimpangan: antara angka dan kesadaran, antara teknologi dan ruhani, antara dunia yang diukur dan akhirat yang dialami. Petuah Sunda—elmu tuntut, dunya siar—ternyata bukan hanya kearifan lokal, tetapi prinsip kosmologis: bahwa cahaya ilmu adalah jembatan bagi dua dunia yang tampak berlawanan namun sebenarnya saling melengkapi. Siapakah yang telah sampai pada penyatuan antara ANGKA dan KESADARAN?

DAFTAR PUSTAKA
A. Literasi Klasik
1. Al-Bukhârî, Muḥammad ibn Ismâ‘îl; “Shahîh al-Bukhârî”, Beirut: Dâr Tawq al-Najât, 2002.
2. Al-Ghazâlî, “Misykât al-Anwâr”, Kairo: Dâr al-Ma‘ârif, 1964.
B. Literasi Kontemporer
1. Berger, Peter L. “The Desecularization of the World”, Grand Rapids: Eerdmans, 1999.
2. Castells, Manuel. “The Rise of the Network Society”, Chichester: Wiley-Blackwell, 2010.
3. Chittick, William C. “The Sufi Path of Knowledge”, Albany: SUNY Press, 1989.
4. Chodkiewicz, Michel. “Seal of the Saints”, Cambridge: Islamic Texts Society, 1993.
5. Davidson, Richard J., & Goleman, Daniel. “Altered Traits”, New York: Avery, 2017.
6. Simmel, Georg. “The Philosophy of Money”, London: Routledge, 1990.
7. Vohs, K. D., Mead, N. L., & Goode, M. R. “The Psychological Consequences of Money”, Science, 314(5802), 2006.
8. Wilber, Ken. “Integral Psychology”, Boston: Shambhala, 2000.

 

*****

Judul: Ketika Angka Menyusun Dunia dan Kesadaran Menyinari Akhirat

Penulis: NOER Widianingrat (Pembelajar Probono)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *