MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (17/11/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Tutup Tahun 2025 : Bagaimana Nasib Swasembada Pangan?” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelics Musyawarah Sunda (MMS).
Tak lama lagi, kita akan menutup tahun 2025. Perkembangan pencapaian swasembada pangan di Indonesia hingga akhir 2025 menunjukkan kemajuan yang cukup menggembirakan. Khusus untuk komoditas beras, Pemerintah telah menetapkan target produksi beras sebesar 32 juta ton pada tahun 2025, dengan luas lahan tanam sekitar 17 juta hektar.

Beberapa kebijakan dan program yang dilakukan pemerintah untuk mencapai swasembada beras antara lain :
– Peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) Pemerintah fokus pada kebijakan LTT sebagai bagian dari program swasembada pangan berkelanjutan.
– Pengembangan Food Estate. Pemerintah berencana mengembangkan food estate yang berfokus pada tanaman padi, jagung, singkong, kedelai, dan tebu.
– Penyediaan Input Pertanian. Pemerintah akan memberikan akses langsung kepada petani untuk mendapatkan pupuk, benih unggul, dan pestisida.
– Modernisasi Pertanian. Pemerintah akan mempercepat pembangunan infrastruktur pertanian, pemanfaatan teknologi pangan terpadu, mekanisasi, dan inovasi digital. Begitu pun dengan pendidikan dan pelatihan bagi para petani.
Dengan langkah seperti ini, Pemerintah terlihat optimis akan dapat mencapai swasembada beras nasional secara berkelanjutan (swasembada beras permanen), memastikan ketahanan pangan, serta meningkatkan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia.
Untuk mendukung percepatan pencapaian swasrmbada pangan, Pemerintah Indonesia telah menetapkan beberapa bahan pangan strategis lainnya yang menjadi prioritas, seperti jagung, kedelai, gula, dan daging ayam. Berikut adalah gambaran singkat tentang beberapa bahan pangan strategis tersebut :
– Jagung. Produksi jagung dalam negeri diperkirakan mencapai 16,68 juta ton pada tahun 2025, melebihi kebutuhan konsumsi yang sekitar 15,7 juta ton.
– Kedelai. Pemerintah berencana meningkatkan produksi kedelai dalam negeri melalui program swasembada pangan.
– Gula. Indonesia telah menjadi salah satu produsen gula terbesar di dunia dan terus meningkatkan produksi gula dalam negeri.
– Daging Ayam. Produksi daging ayam dalam negeri diperkirakan mencapai 4,26 juta ton pada tahun 2025, melebihi kebutuhan konsumsi yang sekitar 3,86 juta ton.
– Telur Ayam. Produksi telur ayam dalam negeri diperkirakan mencapai 6,51 juta ton pada tahun 2025, melebihi kebutuhan konsumsi yang sekitar 6,22 juta ton.
– Bawang Merah. Produksi bawang merah dalam negeri diperkirakan mencapai 1,35 juta ton pada tahun 2025, melebihi kebutuhan konsumsi yang sekitar 1,18 juta ton.
Tahun 2025 ini, Indonesia diprediksi akan mencapai swasembada beras, bahkan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa target swasembada beras dapat tercapai lebih cepat dari yang diharapkan Presiden Prabowo Subianto. Produksi beras Indonesia diperkirakan mencapai 35,6 juta ton pada periode 2025/2026, melebihi kebutuhan konsumsi yang sekitar 30,97 juta ton.
Lalu, bagaimana kaitannya dengan komoditas daging sapi dan kedele ysng hingga kini masih harus kita impor untuk memenuhi kebutihan dalam negeri ? Inilah tantangan yang perlu kita jawab dengan cerdas. Daging sapi dan kedele adalah dua jenis komoditas bahan pangan strategis yang masih menjadi perhatian pemerintah Indonesia.
Untuk mengetahui gambaran kedua komodotas pangan tersebut, secara umum dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Daging Sapi :
– Produksi daging sapi dalam negeri masih belum optimal, sehingga Indonesia masih melakukan impor daging beku sebesar 279,97 ribu ton per tahun.
– Pemerintah telah meluncurkan program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) dan Sapi-Kerbau Komoditas Andalan Negeri (SIKOMANDAN) untuk meningkatkan populasi sapi dan mencapai swasembada daging sapi pada 2026.
– Konsumsi daging sapi di Indonesia hanya 2,66 kg per kapita per tahun, di bawah rata-rata dunia yang sebesar 6,4 kg per kapita.
2. Kedele
– Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan kedele dalam negeri, dengan volume impor mencapai 2,16 juta ton pada 2024.
– Produksi kedele lokal hanya mampu mencakup sekitar 10% dari total kebutuhan, sehingga pemerintah menargetkan swasembada kedele pada 2028.
– Harga kedele di pasar global telah mengalami penurunan, memberikan dampak positif bagi produsen tempe dan tahu.
Akhirnya penting disampaikan, swasembada pangan sepertinya masih susah untuk dibuktilan dalam kehidupan nyata di tahun 2025. Saat ini, baru swasembada beras yang layak disebut swasembada. Jadi, sangat keliru, kalau sekarang sudah ada orang yang menyatakan Indonesia sudah berswasembada pangan.
***
Judul: Tutup Tahun 2025 : Bagaimana Nasib Swasembada Pangan?
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












