Belajar dari Kesahajaan Petani

Artikel ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja

petani
Ilustrasi: Petani Indonesia - (Sumber: Raka/MMS)

MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Senin (01/09/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “Belajar dari Kesahajaan Petani” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesahajaan diartikan sebagai sikap kesederhanaan. Kesahajaan petani sendiri bisa kita sebut sebagai wujud kehidupan petani yang penuh kesederhanaan. Dilihat dari perilaku, kesederhanaan itu dapat dilihat dari wawasan/pengetahuan, sikap dan tindakan nya.

Ir. Entang Sastraatmadja
Ir. Entang Sastraatmadja, penulis – (Sumber: tabloidsinartani.com)

Sebagian besar petani di negara kita adalah gurem dan buruh. Mereka umum nya berlahan sempit hingga ke tidak memiliki lahan sama sekali. Mereka bukan tergolong “farmers”. Tapi lebih pas disebut “peasant”. Mereka hidup jauh dari kemewahan. Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki mobil sekelas Toyota Alphard. Di rumah nya tidak akan pernah ditemukan televisi sebesar 75 inchi.

Hampir tidak pernah mereka berangkat ke kondangan memakai pakaian jas lengkap dengan dasi. Atau memakai jam tangan yang harganya milyaran rupiah. Mereka tidak membutuhkan semua itu. Yang ada di benak mereka, bukanlah hidup mewah-mewahan. Tapi bagaimana menyambung nyawa keluarga nya agar esok masih bisa menatap matahari. Mereka tidak pernah tahu apa itu korupsi bansos.

Mereka tidak paham bahwa uang bansos yang dikorupsi itu, sebetul nya hak dan jatah mereka. Dikarenakan pejabat Kementerian Sosial nya yang “serakah” membuat petani menjadi menderita. Petani lebih banyak berpikir, bagaimana mereka bisa pergi ke sawah untuk melihat dan menjaga usahatani nya.

Mereka juga tidak mengerti, mengapa ada anggota DPR sekelas Eko Patrio dan Uya Kuya yang berjoged ria di “gedung kura-kura” Senayan, Jakarta, seusai Sidang Paripurna DPR berlangsung. Mereka tampak semakin kebingungan, tatkala ada anggota DPR sekelas Achmad Syahroni yang menyebut tolol terhadap pihak-pihak yang beraspirasi menginginkan pembubaran DPR.

Mereka banyak yang mengerutkan dahi ketika mendengar uang kontrakan rumah setiap anggota DPR sebesar Rp. 50 juta per bulan. Belum lagi adanya seabreg tunjangan yang membuat kecemburuan sebagian besar rakyat. Yang lebih memilukan, ternyata kinerja anggota DPR selama ini, belum memperlihatkan hasil yang menyenangkan rakyat.

Para anggota DPR ini lupa, berkat jerih payah para petani inilah orang-orang masih bisa makan nasi. Tidak terbayang bila para petani melakukan aksi mogok di sawah. Jika ini terjadi, siapa yang akan memberi makan warga bangsa ? Itu sebab nya, sangat wajar bila kita memberi perhatian dan penghormatan yang serius terhadap kinerja para petani selama ini.

Petani merupakan warga bangsa yang setelah 80 tahun Indonesia merdeka, tampak masih hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Petani tetap terjebak dalam suasana hidup miskin, sengsara dan melarat. Berbagai kebijakan dan program yang diharapkan mampu merubah potret mereka ke arah yang lebih baik, ternyata masih mengemuka menjadi wacana, belum menjadi sesuatu yang terterapkan.

Namun begitu, sekalipun kondisi para petani masih terjebak dalam lingkaran setan kemiskinan yang tak berujung pangkal, ternyata mereka tetap hidup bersahaja. Petani tidak pernah protes dan mempertanyakan kepada Pemerintah, mengapa selalu menjadi korban pembangunan, bukan nya tampil sebagai penikmat pembangunan ?

Pertanyaan ini penting dijawab. Jangan sampai Pemerintah tidak mengindahkan nya. Petani menanti kepastian dan jaminan kehidupan nya. Pemerintah sendiri, tentu memiliki target dan skenario untuk membebaskan petani dari belenggu kemiskinan yang menjerat nya. Pemerintah pasti tidak ingin menyaksikan kehudupan petani yang terus memilukan.

Sebalik nya, menjadi kekeliruan yang cukup fatal jika Pemerintah membiarkan petani tetap terjebak dalam suasana hidup sengsara. Tugas utama Pemerintah adalah memajukan kesejahteraan umum. Petani wajib dibela dan dilindungi sekira nya ada pihak-pihak yang ingin memarginalkan kehidupan nya. Perlindungan bukan hanya sebatas kalimat-kalimat yang tertera dalam Undang-Undang, namun yang lebih dibutuhkan adalah penerapan nya dalam kehidupan sehari-hari.

Petani perlu untuk segera merubah nasib. Petani penting untuk bangkit melawan ketertinggalan dan keterbelakangan nya. Dalam rangka mewujudkan semangat yang demikian, Pemerintah tidak boleh hanya berdiam diri. Pemerintah perlu tampil sebagai “prime mover” dalam mengawal perubahan ini. Lebih jauh dari itu Pemerintah penting pula menetapkan siapa yang akan membawa pedang samurai nya.

Yang tak kalah menarik untuk disampaikan adalah soal regenerasi petani. Saat ini terasakan ada nya “kekosongan” petani dikarenakan semakin langka anak muda yang mau berkiprah jadi petani. Rata-rata, saat ini petani di negeri ini berusia 50 tahun ke atas. Di sisi lain, tidak ada regenerasi yang disiapkan. Pertanyaan nya siapa nanti yang bakal menggantikan para petani yang berusia lanjut itu ?

Petani memang bersahaja. Mereka tidak pernah tergoda untuk hidup mewah. Tidak mau juga menggadaikan idealisme hanya untuk mendapatkan kepuasan sesaat. Petani sadar betul, bila diri nya ditakdirkan menjadi Wakil Rakyat, pasti diri nya tidak akan menjadi perantara dalam soal suap menyuap proyek atau pun terlibat dalam jual beli jabatan.

Lalu, kalau diri nya diminta untuk menjadi Pembantu Presiden, seperti Wakil Menteri misalnya, dijamin halal diri nya tidak akan “menyunat” hak dan jatah orang miskin. Tidak bakal juga meneras perusahaan hanya untuk memperkaya kepentingan pribadi. Diri nya pasti akan menjaga amanah yang diberikan Presiden untuk mengawal program pembangunan dengan penuh tanggungjawab. Bagi nya menjaga amanah lebih dari pada memuaskan hawa nafsu pribadi nya.

Bahkan jika petani didaulat menjadi penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi pun, dipastikan diri nya tidak akan mau disuap dan sejenis nya. Diri nya teguh terhadap janji setia nya sebagai Aparat Penegak Hukum. Tanggungjawab dan kehormatan yang disimpan di pundak nya, tentu akan selalu dijaga. Diri nya tidak akan sedikit pun berpaling dari komitmen nya selaku penegak hukum yang ingin menjunjung tinggi nilai-nilai hukum dan keadilan.

Kesahajaan petani ada baik nya kita jadikan cermin kehidupan dalam berkiprah. Walau nasib dan kehidupan nya didera kemiskinan, petani tidak pernah mau berhianat terhadap sesama warga bangsa. Di benak petani, hidup guyub dan menguatkan rasa persaudaraan akan lebih penting ketimbang mengedepankan kepentingan pribadi. Petani lebih cinta kesederhanaan dari pada keserakahan.

Semoga apa yang dipertontonkan para petani dalam melakoni kiprah kehidupannya akan dapat dijadikan cermin kehidupan bagi para pejabat negara yang selama ini hidup jauh dari suasana bersahaja.

***

Judul: Belajar dari Kesahajaan Petani
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *