MajmusSunda News, Kolom OPINI, Jawa Barat, Minggu (16/11/2025) – Artikel dalam Kolom OPINI berjudul “2025 : Produksi Beras Tertinggi Dalam Sejarah” ini ditulis oleh: Ir. Entang Sastraatmadja, Ketua Dewan Pakar DPD HKTI Jawa Barat dan Anggota Forum Dewan Pakar Pertanian dan Pembangunan Pedesaan, Majelis Musyawarah Sunda (MMS).
Pemerintah memprediksi prpduksi beras secara nasional tahun 2025, mampu mencapai 34,3 juta ton. Angka ini dinilai sebagai hasil tertinggi dalam sejarah dan perjalanan bangsa Indonesia. Bahkan jika dibandingkan dengan produksi beras tahun 2024, yang mencapai sekitar 30,10 juta ton, maka dalam satu tahun terakhir, terjadi lonjakan kenaikan produksi beras sebesar 4 juta ton.

Berdasarkan pengamatan menyeluruh, terwujudnya produksi beras Indonesia tahun 2025 diproyeksikan mencapai 34,3 juta ton tersebar, karena beberapa faktor pendukung, yaitu :
– Penerapan Teknologi Pertanian Modern. Adopsi teknologi pertanian modern seperti smart farming dan precision farming menjadi kunci peningkatan produksi beras nasional.
– Peningkatan Investasi di Bidang Riset dan Pengembangan. Investasi di bidang riset dan pengembangan pertanian membantu meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman padi.
– Perluasan Areal Tanam. Pemerintah melakukan perluasan areal tanam untuk meningkatkan produksi beras nasional.
– Rehabilitasi Lahan Irigasi. Rehabilitasi lahan irigasi membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi padi.
– Penggunaan Benih Unggul. Penggunaan benih unggul minimal di 60% lahan tanam membantu meningkatkan produktivitas padi.
– Kebijakan Pemerintah yang Mendukung. Kebijakan pemerintah yang pro-petani dan mendukung sektor pertanian juga berperan penting dalam meningkatkan produksi beras nasional.
Dengan demikian, kombinasi dari faktor-faktor tersebut membantu meningkatkan produksi beras nasional menjadi 34,3 juta ton pada tahun 2025.
Di sisi lain, penting disampaikan, Pemerintah Indonesia juga telah melakukan beberapa terobosan strategis untuk meningkatkan produksi beras nasional, antara lain :
– Mempercepat tanam. Pemerintah menggerakkan seluruh jajarannya untuk mempercepat tanam dan meningkatkan produksi beras.
– Menyediakan benih unggul. Pemerintah menyediakan benih unggul untuk meningkatkan produktivitas padi.
– Memperbaiki irigasi. Pemerintah melakukan perbaikan irigasi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi padi.
– Memasifkan pompanisasi Pemerintah memasifkan pompanisasi untuk meningkatkan produksi padi.
– Menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Pemerintah menetapkan HPP gabah sebesar Rp6.500 per kilogram untuk meningkatkan penyerapan gabah petani.
– Menghapus kebijakan rafaksi. Pemerintah menghapus kebijakan rafaksi untuk meningkatkan penyerapan gabah petani.
Dengan terobosan ini, produksi beras Indonesia diproyeksikan mencapai 35,6 juta ton pada musim tanam 2025/2026, meningkat 4,5% dibandingkan musim sebelumnya. Sejujurnya diakui, produksi beras di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk perubahan iklim. El Nino dan fenomena cuaca ekstrem lainnya dapat menyebabkan kekeringan pada sawah, yang berpotensi menurunkan produksi beras. Namun, pemerintah Indonesia telah mengantisipasi hal ini dengan mengimplementasikan strategi untuk meningkatkan produksi beras nasional.
Beberapa upaya yang dilakukan pemerintah termasuk :
– Pompanisasi. Meningkatkan irigasi untuk mengurangi ketergantungan pada curah hujan
– Optimalisasi lahan rawa. Menggunakan lahan rawa untuk meningkatkan produktivitas pertanian
– Cetak sawah baru. Meningkatkan luas lahan pertanian untuk meningkatkan produksi beras
– Perbaikan irigasi. Meningkatkan kualitas irigasi untuk meningkatkan produktivitas sawah
Dengan demikian, produksi beras yang meningkat tidak hanya bergantung pada dukungan iklim, tetapi juga pada upaya pemerintah dan petani dalam mengimplementasikan strategi pertanian yang efektif. Pada tahun 2025, produksi beras nasional diproyeksikan meningkat sebesar 2,5 juta ton, dan target swasembada beras diharapkan tercapai pada tahun 2027.
Perubahan iklim, seperti El Nino, dapat berdampak signifikan pada produksi beras di Indonesia. El Nino kerap menyebabkan kekeringan pada sawah, yang berpotensi menurunkan produksi beras hingga 1,89 juta ton dan merugikan hingga 607.810 ha area persawahan. Dampak ekonomi juga signifikan, dengan potensi kerugian hingga Rp 78 triliun dan penurunan pendapatan petani antara 9-25%.
Dalam kondisi seperti ini, petani dianjurkan menggunakan varietas padi yang tahan terhadap kekeringan, seperti Inpago 8-10, Gajah Mungkur, Batutegi, dan Situ Patenggang. Namun, keberhasilan strategi ini bergantung pada kerja sama semua pihak dan dukungan teknologi pertanian modern.
Catatan kritisnya adalah apakah keberhasilan menggenjot produksi beras ini akan dapat dipertahankan dalam kurun waktu mendatang ? Keberhasilan Indonesia dalam menggenjot produksi beras hingga mencapai swasembada dalam waktu satu tahun tentu merupakan kabar baik. Namun, apakah keberhasilan ini dapat dipertahankan dalam kurun waktu mendatang?
Beberapa faktor yang dapat membantu mempertahankan keberhasilan ini adalah :
– Kebijakan Konsisten. Pemerintah berkomitmen untuk mempertahankan dan memperkuat ketahanan pangan melalui modernisasi pertanian dan perluasan lahan tanam.
– Reformasi Sektor Pertanian. Langkah-langkah reformatif yang diambil Menteri Amran Sulaiman, seperti deregulasi 145 aturan tidak efisien, intensifikasi lahan, pengamanan ekosistem produksi, dan distribusi pupuk yang lebih cepat dan tepat sasaran, dapat menjadi fondasi kuat untuk mempertahankan produksi beras nasional.
– Peningkatan Kesejahteraan Petani. Indikator kesejahteraan petani yang membaik signifikan, seperti Nilai Tukar Petani (NTP) yang naik ke 124,36 dan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen yang dinaikkan menjadi Rp6.500/kg, dapat meningkatkan motivasi petani untuk terus meningkatkan produksi.
Namun, perlu diwaspadai beberapa tantangan yang mungkin timbul, antara lain :
– Ketergantungan pada Faktor Alam. Produksi beras masih sangat bergantung pada faktor alam, seperti cuaca dan iklim, yang dapat mempengaruhi hasil panen.
– Perubahan Iklim Global. Perubahan iklim global dapat mempengaruhi pola tanam dan hasil panen, sehingga perlu diantisipasi dengan strategi adaptasi yang tepat.
– Dinamika Global. Ketidakpastian global dapat mempengaruhi harga komoditas pangan, sehingga perlu diantisipasi dengan strategi yang tepat untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan.
Dengan demikian, keberhasilan menggenjot produksi beras dapat dipertahankan jika pemerintah terus mempertahankan kebijakan yang konsisten, melakukan inovasi dan adaptasi terhadap tantangan yang timbul, serta meningkatkan kesejahteraan petani.
***
Judul: 2025 : Produksi Beras Tertinggi dalam Sejarah
Penulis: Ir. Entang Sastraatmadja
Editor: Jumari Haryadi












