Ketum PPSI Jabar Dadang Hermansyah Resmi Jabat Periode 2025–2030

Ketum PPSI Jabar
Prosesi Pelantikan PPSI DPW Jabar (Foto Asep GP)

MajmusSunda News – Bandung, Senin (19/01/2026) –Ketum PPSI Jabar Dadang Hermansyah resmi dilantik sebagai Ketua DPW PPSI Jawa Barat periode 2025–2030. Pelantikan Ketum PPSI Jabar tersebut berlangsung pada Sabtu, (17/1/2026) di Gedung Pusat Kebudayaan Jl. Naripan No. 7–9 Braga, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. Acara pelantikan dilakukan langsung oleh Ketua Umum DPP PPSI Galih Santika dan disaksikan Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih, S.E., serta Danpusenif Letjen TNI Iwan Setiawan, S.E., M.M.

Ketum PPSI Jabar Periode 2025–2030 Resmi Dilantik

Ketua Umum DPP PPSI Galih Santika dalam sambutannya menjelaskan sejarah Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) yang lahir pada tahun 1957 berkat jasa R.A. Kosasih (Teritorial VI). Adapun Ketua PPSI yang pertama dijabat oleh Kolonel CPM Harun dari unsur Kodam dan Denpom. Ketika itu hampir semua anggota Kodam–Denpom merupakan anggota PPSI, dan PPSI dibentuk untuk mempersatukan para pendekar dan jawara demi membela kedaulatan negara serta memberantas DI/TII.

Ketum PPSI Jabar
(Foto Asep GP)


Pada masa sekarang pun Galih merasa tenang karena PPSI Jabar tetap bersinergi dengan TNI, hal itu dibuktikan dengan hadirnya Letnan Jenderal TNI Iwan Setiawan yang mendukung kegiatan tersebut, ditambah dengan Dadang Hermansyah sebagai pimpinan DPW PPSI Jawa Barat selaku Ketum PPSI Jabar.
Galih juga mengingatkan berdirinya pencak silat di Jawa Barat, sejarahnya tak bisa dilepaskan dari inohong Sunda Raden Ema Bratakusumah, yang kala itu bersama para jawara mendirikan “Beungkeut Pakuan”. Oleh karena itu, Galih berharap DPRD dan Disparbud mendukung agar Raden Ema Bratakusumah, yang juga dikenal sebagai pendiri Kebon Binatang Bandung dan tokoh pejuang Pergerakan Nasional ini, ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional.

Sementara itu, Danpusenif Letnan Jenderal TNI Iwan Setiawan berpesan kepada Ketua DPW PPSI Jawa Barat Periode 2025–2030 Dadang Hermansyah selaku Ketum PPSI Jabar agar menjaga amanah dengan baik. Pihaknya juga sangat mendukung kepemimpinan Dadang, bahkan mempersilakan PPSI memakai Gedung Pusenif untuk berlatih, turnamen, dan kegiatan lainnya.

Ketum PPSI Jabar
Pangdam Siliwangi Mayjen Kosasih, organisasi harus membawa kemaslahatan bagi semua orang (Foto Asep GP)

Pangdam Siliwangi Mayjen TNI Kosasih dalam sambutannya berpesan, “Sebuah organisasi sejatinya bisa membawa kemaslahatan bagi rakyat yang kita pimpin, bagi organisasi yang kita pimpin, bagi anggota, dan seluruh masyarakat di wilayahnya. Makanya, seperti tadi sudah dikatakan oleh Pa Iwan, silat, salat, dan Siliwangi tidak bisa dipisahkan. Artinya, bangsa dan negara ini dibentengi oleh silat dan salat. Semoga ke depan PPSI semakin kokoh, maju, dan berprestasi,” tegas Panglima Siliwangi yang nyantri ini.

Tentu saja, Ketua DPW PPSI Jawa Barat Dadang Hermansyah sangat gembira dan berterima kasih atas dukungan dan hadirnya Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Kosasih, Letnan Jenderal TNI Iwan Setiawan, dan Ketua DPRD Jabar Bucky Wibawa, Umuh Muchtar, serta para saehu/maestro dan inohong penca lainnya. “Ini momentum bersejarah yang luar biasa yang menjadi penyemangat bagi PPSI Jawa Barat,” katanya haru.
Dadang juga berharap implementasi turunan dari Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan bisa dikuatkan lagi melalui Perda Provinsi demi memperkokoh jati diri bangsa.

Ketum PPSI Jabar
Ketua DPRD Jabar Bucky Wibawa, Pencak Silat sudah diakui Unesco, kalau tidak dijaga, dipelihara,diwariskan, dipromosikan, akan hilang dicabut lagi (Foto Asep GP)

Hal ini langsung direspons oleh Ketua DPRD Jawa Barat Dr. Bucky Wibawa yang menegaskan DPRD Provinsi Jawa Barat sedang dalam proses membuat Perda Pemajuan Kebudayaan, turunan dari UU Pemajuan Kebudayaan.
“Tentu dalam 10 objek Pemajuan Kebudayaan, di dalamnya ada seni dan olahraga tradisional. Untuk itu tentu saja pansus bakal menemui PPSI untuk meminta saran dan informasi, guna menyempurnakan isi dari Perda Pemajuan Kebudayaan,” tandasnya.
Bucky juga mengabarkan pencak silat sudah mendapat pengakuan dari UNESCO, demikian juga dengan silat Malaysia. Hanya bedanya, silat Malaysia lebih menekankan aspek bela diri, sedangkan pencak silat Indonesia lebih luas lagi, yaitu sebagai warisan budaya yang menyatu dengan sistem sosial budaya masyarakatnya.
Namun pengakuan tersebut, kata Bucky, sewaktu-waktu bisa dicabut kembali oleh UNESCO jika tidak dijaga, dipelihara, diwariskan, dan dipromosikan.

“Oleh karena itu, PPSI menurut saya memang harus menjadi garda terdepan untuk menjaga pengakuan dari UNESCO ini. Karena UNESCO juga mengisyaratkan bahwa Warisan Budaya Tak Benda yang sudah mendapat pengakuan harus memenuhi aspek terjaga, terpelihara, teregenerasikan, dan terpromosikan. Jika keempat aspek itu hilang, bisa saja suatu saat pengakuan tersebut dicabut kembali oleh UNESCO,” kata Bucky mengingatkan.
Dengan adanya PPSI ini, Bucky berharap pencak silat dari Indonesia akan tetap lestari dan berkembang, teregenerasikan, serta terpromosikan.

Bucky yang pernah kecewa mengusulkan Kampung Penca di Jatinangor karena tidak sesuai dengan peruntukannya, kini kembali meminta dukungan pemerintah untuk menghidupkan kembali paguron-paguron atau sanggar penca di Jawa Barat.
Sanggar-sanggar penca tersebut menurutnya akan menjadi museum-museum hidup yang terus berproses setiap hari. “Sekarang saya juga, punten, minta dukungan gubernur dan Kadispora agar setiap paguron penca dan para maestronya digaji oleh pemerintah. Itu kan tidak besar, gajinya sama dengan guru sekolah saja. Jadi para maestro bisa fokus menjalankan tugasnya mentransformasikan nilai-nilai budaya penca kepada generasi muda, tidak memikirkan lagi kebutuhan dapur dan mencari nafkah ke mana-mana, tetapi ditugaskan negara hanya mengajar penca,” kata Bucky serius.

Ahmad Tantowi, Cirebon sedang giat mewariskan Pencak Silat ke generasi muda (Foto Asep GP)

Mewakili Gubernur Jawa Barat, Ketua Dispora Jabar Dr. Hery Antasari menyampaikan pesan Gubernur KDM agar kita semua menjaga pencak silat sebagai warisan budaya leluhur Sunda yang memperkaya budaya bangsa. Silat juga bukan hanya urusan teknik, tetapi juga tentang akhlak, disiplin, dan karakter.

Gubernur KDM juga mengingatkan orang Sunda merupakan yang terbanyak di Indonesia (sekitar 50 juta orang), tetapi mengapa banyak yang berdiri di belakang layar, low profile, someah hade ka semah, mangga ti payun we. Kalah dengan saudara-saudara dari provinsi lain yang jumlah penduduknya lebih sedikit, tetapi bicaranya vokal sehingga terlihat pintar dan banyak berkiprah dalam berbagai bidang pemerintahan. Oleh karena itu, orang Sunda harus mengubah mindset (pola pikir) dan karakternya agar diperhatikan oleh semua orang.
Dengan adanya PPSI ini, gubernur juga berharap generasi muda sekarang yang didominasi 60–70 persen Gen Z, milenial muda, dan generasi alfa yang anteng dengan media sosial, bisa berbelok lagi karakter dan mindset-nya, kembali menjadi lebih baik, tahu etika, dan sopan santun.
“Wilujeng, semoga dengan kepemimpinan baru ini bisa melahirkan silaturahmi yang lebih baik di antara perguruan dan insan pencak silat di Jawa Barat, sauyunan, sabobot sapihanean, sabata sarimbagan—kebersamaan, kepaduan, dan kekompakan yang lebih baik lagi,” pungkasnya.

Keta Umum PPSI DPW Jabar, Dadang Hermansyah (tengah), siap melestarikan dan memajukan Pencak Silat Jawa Barat (Foto Asep GP)

Ucapan selamat juga datang dari Ahmad Tantowi, Ketua PPSI di Kecamatan Mundu dan aktif di Kotamadya Cirebon. Pendekar Cirebon yang akrab disapa Pa Pitanto ini merasa sangat bahagia menyaksikan PPSI sudah tersebar ke seluruh Nusantara. PPSI Cirebon pun, kata Pitanto, sudah dibentuk dan berkembang, aktif membina regenerasi dari mulai anak kecil, remaja, hingga dewasa.
Menurut Pitanto, di Kotamadya Cirebon terdapat 800 pesilat dari 8–9 perguruan dan sedang dikembangkan juga di Kabupaten Cirebon.

Pa Pitanto pun berharap PPSI lebih berjaya, berhasil, dan jauh lebih maju dari sebelumnya. “Insyaallah, jajaran pengurusnya para generasi muda dan pemimpinnya masih muda,” katanya sambil berlalu bersama keluarganya kembali ke Kota Udang.

Usai dilantik, didampingi Sekum beserta jajarannya, Dadang Hermansyah, S.E., A.K., M.M., C.A., C.L.A., kepada wartawan menyampaikan rasa optimisnya bahwa dengan kebersamaan bisa memajukan pencak silat Jawa Barat dan mengembangkan organisasi pelestari warisan luhung karuhun Sunda ini dengan membawa kemaslahatan bagi para anggota dan seluruh masyarakat.

Rempeg dihadiri para pejabat, saehu, dan inohong (Foto Asep GP)


Tanda-tandanya sudah terlihat seperti dikatakan Pangdam Siliwangi. Kebetulan PPSI dideklarasikan secara resmi pada tahun 1957 (perencanaannya 1920–1922) oleh Pangdam Siliwangi ke-7 R.A. Kosasih, dan kebetulan sekarang pun Dadang dilantik sebagai Ketua DPW PPSI Jabar ke-7 oleh Pangdam Siliwangi ke-47 yang juga bernama Kosasih. “Semoga angka tujuh ini menjadi tonggak sejarah, pertanda baik, PPSI kembali ditemukan oleh bapaknya,” harapnya.

Hadir juga dalam kesempatan tersebut Wadan Pusenif Mayjen TNI Tantan Ardianto, S.I.P., Irjen Polisi Rudi Setiawan, S.I.K., S.H., M.H. (mewakili Kapolda Jabar), Haji Umuh Muchtar (Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat), Dadang Naser (Anggota DPR RI—Golkar), Andri P. Kantaprawira (Presiden Gerpis—Panata Gawe Majelis Musyawarah Sunda), Ketua Umum Angkatan Muda Siliwangi (AMS) Rully Alfiady, Gending Raspuji (inohong pencak silat), Sekum DPW PPSI Jawa Barat Deden Dinar Mukti, serta jajaran pengurus DPP, DPW, 27 DPD PPSI kabupaten/kota se-Jawa Barat, maestro, sesepuh paguron, dan tamu undangan lainnya.
Pelantikan DPW PPSI Jawa Barat Periode 2025–2030 dimeriahkan dengan pertunjukan pencak silat oleh anggota PPSI Jawa Barat, serta dipandu MC kondang Joe Project P dan Ki Daus.

Judul: Ketum PPSI Jabar Dadang Hermansyah Resmi Jabat Periode 2025–2030
Jurnalis: Asep GP
Editor: Parkah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *