Geowisata Nusantara Seri #BS-9: THR Djuanda: Oase Purba di Hutan Beton, Pusaka Ignimbrit Gunung Sunda, dan Alarm Ekologi Bandung Utara

Oleh: Oman Abdurahman

Djuanda

MajmusSunda News – Bandung, Minggu (04/10/2026) – SINOPSIS: Esai lima paragraf ini membedah jalinan panorama hidrogeomorfologi, historiografi kataklimik vulkanik purba, dan warisan teknologi tata kelola air yang mengunci eksistensi Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda melintasi kacamata geoliterasi kritis. Diuraikan posisi spasial kawasan selaku oase di tengah kepungan hutan beton perkotaan, diferensiasi stratigrafi cadas pejal ignimbrit Gunung Sunda yang mendasari selimut vulkanik muda, kekayaan keanekaragaman hayati raksasa bersanding penemuan anggrek mikro tanpa daun, jalinan infrastruktur lorong militer bawah tanah bersama stasiun hidroelektrik tertua, hingga epilog kebangsaan berupa pekikan alarm ekologi daerah resapan air hulu demi menegakkan daulat hukum lingkungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

1. Oase di Tengah Hutan Beton: Geografi Spasial, Penanggalan Sejarah, dan Pembatas Alami Bandung Utara

Menyisir koridor geomorfologi di bagian utara Cekungan Bandung membawa langkah kaki geowisata kita menembus sebuah gerbang hijau yang berdiri kontras laksana oase purba di tengah kepungan hutan beton perkotaan, yaitu Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda di Bandung Utara. Secara geografis, kawasan konservasi Dago Pakar ini mencakup luas total lima ratus dua puluh delapan koma tiga puluh sembilan hektar, dengan bentang pemanfaatan lahan mencapai sekitar lima ratus sembilan puluh hektar yang melampar tegap hingga kawasan Maribaya Lembang pada elevasi tujuh ratus tujuh puluh hingga seribu tiga ratus tiga puluh meter di atas permukaan laut. Secara historiografi tata ruang, cagar alam ini awalnya dirintis sejak tahun seribu sembilan ratus dua puluh dua oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai kawasan hutan lindung kelompok hutan Gunung Pulosari, sebelum akhirnya diresmikan sebagai Taman Hutan Raya pertama di Indonesia oleh Presiden Soeharto pada tahun seribu sembilan ratus delapan puluh lima. Sematan nama Ir. H. Djuanda sendiri merupakan bentuk penghormatan tertinggi kepada Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, pahlawan nasional sekaligus Perdana Menteri terakhir Indonesia yang sangat berjasa atas pencetusan “Deklarasi Djuanda” tahun seribu sembilan ratus lima puluh tujuh, mengunci kedudukan suaka ini sebagai jangkar memori alam Tatar Pasundan yang teramat sakral.

2. Pusaka Cadas Gunung Sunda: Anatomi Batuan Ignimbrit, Selimut Formasi Cibeureum, dan Pabrik Oksigen

Ketangguhan bentang alam Taman Hutan Raya Djuanda secara teliti dikontrol oleh karakteristik fisik litologi batuan dasar penyusunnya yang merekam dua fase besar kegunungapian Kuarter Cekungan Bandung. Tubuh terdalam kawasan ini disusun oleh formasi cadas pejal batuan ignimbrit yang merupakan pusaka muntahan material piroklastik aliran panas dari letusan kataklimik Gunung Sunda purba ratusan ribu tahun lalu, sebelum akhirnya bagian atas permukaan tanah diselimuti oleh endapan Formasi Cibeureum berupa breksi vulkanik dan tuf pasiran produk Gunung Tangkubanparahu yang lebih muda. Kombinasi tanah vulkanik subur yang kaya akan kandungan zat hara hulu ini menyokong tumbuhnya hutan sekunder lebat yang menjadi rumah bagi lebih dari seratus ribu pohon yang mencakup seratus delapan famili dan lima ratus dua puluh empat spesies. Di atas sasis batuan berporositas tinggi penangkap air ini, vegetasi ikonik laksana pinus, kaliandra, beringin, pohon sosis, dan rumpun bambu lokal tumbuh merapat, bekerja tanpa henti sebagai pabrik oksigen raksasa yang menyaring polutan atmosfer sekaligus menyuplai udara bersih bagi jutaan penduduk di dataran rendah bawah.

3. Suaka Megabiodiversitas Lantai Hutan: Oase Keanekaragaman Fauna dan Pesona Anggrek Mikro Tanpa Daun

Sebagai salah satu kawasan hutan sekunder yang masih terjaga keaslian vegetasinya, Taman Hutan Raya Djuanda bertindak sebagai benteng pertahanan terakhir bagi penyelamatan komponen biotik di sabuk Bandung Utara. Selain menjadi habitat aman bagi puluhan spesies burung serta mamalia liar laksana monyet ekor panjang, tupai, musang, dan babi hutan, area ini juga mengunci perannya melalui fasilitas penangkaran semi-alami untuk satwa ikonik seperti Rusa Timor dan Rusa Tutul. Kejutan botani terbesar di lantai hutan purba ini adalah eksistensi anggrek terkecil di dunia, Taeniophyllum THRJ, sebuah spesies anggrek mikro tanpa daun dengan bunga berukuran hanya satu sampai dua milimeter yang hidup endemik menempel pada kulit pohon Meranti Merah kuno. Seluruh mata rantai kehidupan yang terjaga ketat di dalam kawasan lindung ini mencerminkan indikator ekosistem yang sangat sehat, menghadirkan teater kehidupan alam liar yang teramat kontras di tengah keangkuhan ekspansi infrastruktur komersial kota.

4. Harmoni Sejarah dan Teknologi: Jaringan Lorong Terowongan Militer Bawah Tanah dan Pembangkit Hidroelektrik

Daya tarik Taman Hutan Raya Djuanda melompat ke tingkat yang teramat istimewa karena menyimpan jalinan integrasi yang kuat antara pusaka cadas ignimbrit Gunung Sunda purba dengan sejarah mekanisasi rekayasa manusia lintas zaman. Di dalam palung lembah yang curam, pengunjung dapat menyaksikan kemegahan Gua Jepang dan Gua Belanda, dua jaringan terowongan militer bawah tanah yang dipahat langsung menembus ketangguhan dinding batu ignimbrit yang sangat kompak sebagai benteng pertahanan dan komunikasi pada masa Perang Dunia. Tidak jauh dari situs sejarah tersebut, terdapat sistem pemanfaatan air berupa Kolam Pakar dan PLTA Bengkok, salah satu pembangkit listrik tenaga air tertua di Indonesia yang resmi mengalirkan daya kelistrikan sejak tahun seribu sembilan ratus dua puluh tiga memanfaatkan aliran deras Sungai Cikapundung. Kehadiran situs-situs purbakala industri ini membuktikan secara empiris bagaimana karakteristik geologi lokal telah dioptimalkan secara genius oleh manusia, baik untuk kepentingan strategi pertahanan fisik ruang negara maupun pemenuhan daulat energi berbasis air.

5. Alarm Ekologi Bandung Utara: Laboratorium Sains Kebumian, Reduksi Pulau Panas Perkotaan, dan Daulat NKRI

Pada akhirnya, penjelajahan geoliterasi kritis di sekeliling Taman Hutan Raya Djuanda menyuarakan sebuah alarm ekologi yang teramat lantang mengenai batas daya dukung lingkungan Kawasan Bandung Utara yang kian kritis. Lebih dari sekadar destinasi edukasi dan stasiun penelitian ilmu pengetahuan bagi para akademisi, kawasan ini merupakan infrastruktur hijau utama yang membentengi Kota Bandung dari ancaman bencana longsor, erosi permukaan, dan banjir bandang musiman di wilayah hilir. Rimbunnya ratusan ribu tajuk pohon di kawasan hulu ini berfungsi secara radikal sebagai pendingin makro yang menurunkan suhu regional sekaligus mereduksi efek pulau panas perkotaan akibat masifnya semen beton di dataran rendah. Mengampanyekan konservasi Taman Hutan Raya Djuanda secara konsisten adalah tindakan bela negara ekologis yang mutlak guna mengamankan ketersediaan air bersih. Merawat kemurnian laboratorium vulkanik purba ini adalah janji suci kita bersama demi menjaga harga diri bangsa serta menegakkan martabat tertinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia melintasi badai zaman!

#GeowisataNusantara #SeriBS-9 #THRDjuandaOasePurba #IgnimbritGunungSunda #FormasiCibeureum #BandungUtaraLestari #PLTABengkok1923 #DeklarasiDjuanda1957 #AnggrekTaeniophyllum #AlarmEkologiBandung #PabrikOksigenHulu #BelaNegaraEkologis #KedaulatanSainsNKRI #OmanAbdurahman #GeoliterasiKritis #PulauPanasPerkotaan #GuaBelandaBandung #HutanKotaDago

Wisatabumi Nusantara
Oman Abdurahman (Penulis)

Judul: Geowisata Nusantara Seri #BS-9: THR Djuanda: Oase Purba di Hutan Beton, Pusaka Ignimbrit Gunung Sunda, dan Alarm Ekologi Bandung Utara

Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com

Editor: Parkah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *