MajmusSunda News – Bandung, Minggu (04/10/2026) – SINOPSIS: Esai lima paragraf ini memetakan sasis hidrogeomorfologi umum Sungai Cikapundung sebagai sumbu hidrologis utama pembentuk peradaban Cekungan Bandung bagian tengah-utara melintasi pisau analisis geoliterasi kritis. Melalui pelacakan toponimi pohon kapundung purba, anatomi multihulu antara pasokan induk Bukittunggul dan anak sungai Cigulung dari Tangkubanparahu, hingga gradien morfologi lereng, warisan arkeologi-sejarah kolonial, dan tekanan geografi nonfisik perkotaan, penulis menyajikan panorama bentang alam utuh yang menegaskan pentingnya kedaulatan lingkungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia.
1. Anatomi Aliran: Jaringan Multihulu dan Lintasan Sumbu Hidrologis dari Gunung Menembus Kota
Secara geografi fisik, hidrologi, dan hidrogeomorfologi, Cikapundung mengalir sepanjang dua puluh delapan kilometer membelah Kota Bandung bagian tengah-utara, mengalir dari utara ke selatan, memiliki Daerah Aliran Sungai yang dibatasi oleh Cibadak, Citepus, dan Cimahi di sebelah barat; Cidurian dan cabang sodetan Cikapundung Kolot di timur; di utara ada Gunung Tangkubanparahu dan Burangrang sebagai garis pemisah air dan dua di antara sumber percabangannya; dan di selatan ada Citarum sebagai muaranya. Titik nol atau mata air paling awal yang melahirkan Cikapundung berada di lereng Gunung Bukittunggul dan Gunung Pangparang, tepatnya di Desa Cipanjalu, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, pada ketinggian seribu dua ratus hingga seribu lima ratus meter di atas permukaan laut. Aliran awal ini dikenal sebagai Hulu Sungai Cipanjalu yang mengalir dari timur ke barat, lalu menikung tajam ke selatan menerobos dinding terjal Sesar Lembang, menembus kanopi Taman Hutan Raya Djuanda, membelah jantung Kota Bandung, hingga bermuara di Sungai Citarum pada batas Dayeuhkolot–Baleendah di elevasi sekitar enam ratus enam puluh meter di atas permukaan laut. Sungai utama ini memperoleh masukan air berlimpah dari jaringan anak sungai yang signifikan, di mana sektor hulu mendapat pasokan induk dari Sungai Cigulung yang bersumber dari Gunung Tangkubanparahu serta Sungai Cisarua dari Gunung Burangrang, sedangkan sektor tengah disokong oleh Anak Sungai Ciumbuleuit dan Anak Sungai Cipaganti. Di sepanjang koridor alirannya yang megah ini, Cikapundung dihiasi oleh sepuluh titik air terjun alami yang bertindak sebagai sabuk pengunci erosi hulu secara berkala.
2. Labirin Morfologi Lereng, Pembagian Arus Bendung Air Bengkok, dan Karakteristik Batuan Purba
Bergerak melintasi profil panjang sungai dari hulu ke hilir, Cikapundung menyajikan variasi morfologi gradien kemiringan lereng yang sangat ekstrem dan dinamis di sepanjang tebing ngarai berbentuk huruf V. Aliran utama ini kemudian bercabang akibat rekayasa manusia zaman kolonial Belanda di Bendung Bantar Awi, Taman Hutan Raya Djuanda, yang dialirkan menembus terowongan saluran irigasi beton berbentuk tapal kuda sepanjang dua koma delapan kilometer menuju tandon atas Kolam Pakar. Sementara itu, aliran asli Sungai Cikapundung selepas Bendung Bantar Awi terus meliuk memutar melewati area penangkaran rusa, merayap jatuh di jeram Curug Koleang, dan akhirnya bertemu kembali dengan air dari saluran buatan tersebut setelah melewati pipa pesat Pembangkit Listrik Tenaga Air Bengkok dan Dago di dekat Curug Dago. Profil jeram alam curug yang ekstrem ini bertindak sebagai sabuk pengunci erosi hulu, sebelum akhirnya karakteristik aliran melandai halus dan tenang saat memasuki dataran rendah dasar Cekungan Bandung. Sepanjang alirannya, sungai ikon Kota Bandung ini menembus beragam jenis batuan, mulai dari batuan paling keras seperti lava struktur kekar tiang, lava basal, hingga batuan sedimen danau purba yang lunak yang merekam sejarah kebumian secara utuh.
3. Sabuk Hijau Bersisa, Ekosistem Komunitas Hulu, dan Tekanan Kepadatan Penduduk Riparian Perkotaan
Membedah bentang hayati koridor Cikapundung membutuhkan kejelian melihat diferensiasi ekosistem dari kawasan puncak hingga lantai kota guna mengukur tingkat kerusakan lingkungan secara kritis. Anatomi sabuk hijau sungai di sektor hulu utara didominasi oleh bentang agraris berupa ekosistem perkebunan sayur, tegakan hutan pinus produksi, kebun kopi rakyat, serta sentra peternakan sapi perah, sedangkan fase tengah di batas kota menyusut drastis menjadi sisa-suaka urban Taman Hutan Raya Djuanda yang kritis. Kawasan hutan konservasi ini menjadi benteng perlindungan terakhir yang merawat vegetasi pohon hutan raksasa, rumpun bambu lokal, jenis paku-pakuan tebing, sekaligus menjadi rumah bagi suaka Rusa Timor serta habitat primata endemik pelindung kanopi seperti Lutung Jawa. Namun, kelestarian ekosistem hulu dan sabuk hijau riparian tengah ini terus menghadapi gempuran tekanan kepadatan penduduk nonfisik berupa alih fungsi lahan sempadan menjadi permukiman padat kumuh serta komersialisasi beton di Kawasan Bandung Utara. Akibat bentang vegetasi yang terus terkelupas, air hujan tidak lagi terserap ke dalam tanah, melainkan berubah total menjadi limpasan permukaan raksasa yang membawa polusi endapan sampah, pengikisan dinding sungai, hingga ancaman banjir bandang musiman bagi warga kota di hilir.
4. Toponimi Kapundung Purba, Tinggalan Arkeologi, dan Warisan Mekanisasi Energi Kolonial
Membangun narasi geowisata sungai yang kokoh menuntut ketajaman analisis untuk membaca bagaimana penamaan sebuah bentang alam terikat mati dengan sasis fisik bumi masa lalu. Secara toponimi singkat, nama Cikapundung berakar dari bahasa Sunda purba, di mana Ci berarti air dan Kapundung merujuk pada nama spesies pohon buah hutan lokal yang dahulu tumbuh subur melimpah ruah mengunci tebing andesit di sepanjang sempadan sungai. Di luar aspek botani purba, koridor Cikapundung merupakan koridor peradaban dengan kekayaan tinggalan arkeologi berupa artefak batu obsidian manusia purba Cekungan Bandung, serta cetak biru teknologi sipil pertahanan abad kedua puluh berupa Gua Belanda dan Gua Jepang yang terpahat kokoh di dalam bukit cadas. Sumbu hidrologis sungai ini juga memuat warisan mekanisasi energi kolonial paling awal di Hindia Belanda melalui situs Pembangkit Listrik Tenaga Air Bengkok tahun seribu sembilan ratus dua puluh tiga yang hingga kini masih beroperasi memanfaatkan elevasi jatuhnya air. Jejak budaya luhur juga terekam kuat di kawasan hilir melalui situs Prasasti Curug Dago, sebuah bukti dokumen batu yang merekam jejak kunjungan suci dua Raja Siam dari Thailand pada pergantian abad.
5. Rekomendasi Rute Eksplorasi Geowisata Lintasan Cikapundung dari Hilir ke Hulu
Sebagai panduan operasional di lapangan, penjelajahan geoliterasi menyusuri anatomi Sungai Cikapundung paling ideal dilakukan secara linier dari arah hilir menuju ke hulu untuk membaca kronologi bentang alam secara berurutan. Titik awal ekspedisi dapat dimulai dari kawasan Curug Dago untuk mengamati situs prasasti batu purba dan batuan dasar sungai, lalu bergerak memutar menuju Pintu Gerbang Utama Taman Hutan Raya Djuanda guna menyusuri rute setapak yang teduh menuju Gua Jepang dan Gua Belanda. Selepas dari mulut Gua Belanda, perjalanan diarahkan turun menyampingi aliran air untuk menyaksikan kompleks pintu air kuno Bendung Bantar Awi, jeram tersembunyi Curug Koleang, dataran terbuka Penangkaran Rusa, celah lembah terjal Curug Lalay, hingga akhirnya menyentuh kemegahan Curug Omas Maribaya. Lintasan geowisata ini dapat ditutup dengan mendaki ke arah Tebing Keraton guna menikmati panorama lanskap utuh Cekungan Bandung dari ketinggian, memberikan refleksi visual yang kuat mengenai pentingnya menjaga kelestarian sabuk hijau air penopang kehidupan demi tegaknya kedaulatan lingkungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia.
#GeowisataNusantara #SeriBS-7 #GeoliterasiKritis #OmanAbdurahman #GeowisataCikapundung #SungaiCikapundung #TahuraDjuanda #SesarLembang #GeologiBandung #SejarahBandung #ToponimiSunda #PrasastiCurugDago #PLTABengkok1923 #KonservasiRiparian #KedaulatanLingkungan #CekunganBandung #AnakSungaiCipaganti #AnakSungaiCiumbuleuit #MataAirCipanjalu

Judul: Geowisata Nusantara Seri #BS-7: Cikapundung, dari Gunung Menembus Kota Bandung dan Tumpah ke Citarum
Penulis: Oman Abdurahman terlahir di Ciamis, 14 Desember 1961. Beliau menyelesaikan S-2 Rekayasa Pertambangan Institut Teknologi Bandung, Bidang Hidrogeologi. Segudang pengalaman pendidikan, kerja, dan organisasi telah mewarnai hidupnya. Alamat email: omanarah20@gmail.com
Editor: Parkah












